48 Jam di Sumba Barat
Features

48 Jam di Sumba Barat : Tenun Kehidupan dan Secangkir Kopi Talasi

Sumba tak pernah benar-benar masuk dalam daftar destinasi yang ingin saya jelajahi di Indonesia. Namun, setelah akhirnya menginjakkan kaki di pulau Sumba Barat beberapa waktu lalu, saya justru menyesal karena tidak datang lebih awal.

Hanya sekitar satu jam penerbangan dari Bali, saya mendarat di Bandara Lede Kalumbang, Sumba Barat, tanpa ekspektasi yang terlalu tinggi. Sepanjang perjalanan menuju penginapan, pemandangan yang tersaji begitu sederhana. Rumah-rumah penduduk berdiri berjauhan, beberapa toko kecil melayani kebutuhan sehari-hari, sementara jejak modernitas terasa jauh lebih minim dibandingkan banyak destinasi wisata lain di Indonesia.

Memang, Sumba Barat kini memiliki deretan hotel dan resor mewah yang menjadi daya tarik tersendiri. Namun, semakin jauh saya menjelajah, semakin saya menyadari bahwa pesona wilayah ini tidak hanya lahir dari kemewahan. Daya tarik sesungguhnya justru datang dari masyarakatnya yang tetap memegang teguh tradisi di tengah perubahan zaman.

Dalam 48 jam yang singkat itu, Sumba Barat berhasil memperlihatkan sisi lain yang menghangatkan hati.

Baca Juga: Hati-hati! Ini Daftar Destinasi Liburan yang Tengah Dilanda Suhu Panas Ekstrem

Tenun Kehidupan

Berada di Sumba rasanya belum lengkap tanpa mengenal tenun ikat. Bagi masyarakat setempat, tenun ikat telah lama memiliki makna yang jauh melampaui nilai estetika. Kain tradisional ini hadir dalam setiap fase kehidupan, mulai dari upacara kelahiran, pernikahan, hingga pemakaman, sebagai simbol hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan dunia spiritual. Setiap motif, warna, dan coraknya menyimpan filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Sumba Barat, sehelai kain ikat bukan sekadar lembaran kain. Ia adalah penanda identitas, ikatan sosial, keyakinan spiritual, sekaligus warisan pengetahuan leluhur yang terus hidup. Di tengah pesatnya perubahan zaman, masyarakat setempat terus berupaya memastikan tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Hal itulah yang saya pelajari ketika mengunjungi desa-desa binaan Karaja Sumba, sebuah jenama fesyen tenun ikat yang didirikan Asty Roswita Kulla pada 2019. Berawal dari inisiatif kecil yang melibatkan sepuluh perempuan penenun, Karaja Sumba kini berkembang menjadi jaringan yang menaungi lebih dari 350 penenun di 16 desa di Sumba Barat. Tidak hanya membuka peluang ekonomi, inisiatif ini juga menjadi gerakan pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Karaja Sumba membina para perempuan di 16 desa Sumba Barat.
Kiri ke kanan: Lebih dekat melihat proses pembuatan ikat tenun; banyak wanita sejak muda sudah diberdayakan oleh Karaja Sumba. (Foto: Muhammad Saggir).

Bagi Asty, keberlanjutan selalu berawal dari manusia. Karena itu, Karaja Sumba memberdayakan perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk penyintas kekerasan, penyandang disabilitas, hingga mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Tak heran jika banyak perempuan di desa-desa tersebut kini mampu menemukan kemandiriannya sendiri.

“Misinya tidak berhenti pada penyediaan lapangan kerja, tetapi juga membangun ketangguhan serta menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal,” ujar Asty saat berbincang dengan saya.

Empat tahun terakhir, Karaja Sumba juga mengembangkan Karaja Experience, sebuah program wisata budaya yang mengajak pengunjung mengenal kehidupan masyarakat Sumba secara lebih dekat. Melalui program ini, peserta dapat mengikuti seluruh proses pembuatan kain ikat, mulai dari meracik pewarna alami, membuat motif, menenun, hingga menjahitnya menjadi busana.

Interior dari toko busana Karaja Sumba.
Kiri ke kanan: Display dari ikat tenun yang disulap menjadi pakaian yang lebih kontemporer: beragam model kain dijual di toko busana Karaja Sumba. (Foto: Muhammad Saggir).

Menjelang petang, Asty mengajak saya mengunjungi butik Karaja Sumba di Wengaingo, Laboya Bawa. Bangunan mungil bergaya minimalis itu mudah dikenali dari kejauhan. Di dalamnya tersaji berbagai koleksi busana yang memadukan sentuhan kontemporer dengan nilai-nilai tradisional, serta tas buatan tangan yang dibuat dari kain ikat, anyaman daun pandan, maupun kombinasi keduanya.

Baca Juga: 4 Hari di Legend of the Seas, Kapal Pesiar Terbesar di Dunia : Malaga-Roma

Menelusuri Jejak Sejarah

Rasa ingin tahu saya terhadap sejarah tenun ikat membawa langkah berikutnya ke Rumah Budaya Sumba. Tempat ini berfungsi sebagai pusat pelestarian budaya, museum, sekaligus lembaga edukasi yang didedikasikan untuk menjaga sejarah, tradisi, dan warisan seni masyarakat Sumba. 

Bangunannya mengadopsi bentuk Uma Bokulu atau Uma Mbatangu—rumah besar atau rumah menara—yang merepresentasikan kosmologi masyarakat Sumba dan kepercayaan Marapu.

Koleksi perhiasan antik di Rumah Budaya Sumba; kain dari berbagai daerah di Sumba dipamerkan di museum ini.
Kiri ke kanan: Koleksi perhiasan antik di Rumah Budaya Sumba; kain dari berbagai daerah di Sumba dipamerkan di museum ini. (Foto: Muhammad Saggir).

Sebagai satu-satunya museum di Pulau Sumba yang secara khusus berfokus pada sejarah dan budaya pulau ini, Rumah Budaya Sumba menyimpan koleksi yang merekam perjalanan masyarakat Sumba sejak masa prasejarah hingga masa kini. Pada 2019, institusi ini juga meresmikan Museum Atma Hondu. “Atma” berarti jiwa, sedangkan “Hondu” berarti tenun—sebuah nama yang mencerminkan makna spiritual di balik tradisi menenun.

Di dalam kompleks museum, saya dapat melihat koleksi kain ikat berusia ratusan tahun yang dibuat menggunakan benang kapas pintal tangan, pewarna alami, dan teknik tradisional yang masih dipertahankan hingga sekarang. Setiap helai kain tidak hanya memamerkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan kisah dan filosofi masyarakat Sumba.

Kampung yang Menjaga Tradisi

Keesokannya, saya memiliki tekad kuat untuk mengunjungi salah satu dari banyaknya kampung adat di Sumba Barat yang hingga kini masih mempertahankan tradisi menenun sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Desa-desa tersebut menawarkan kesempatan emas untuk menikmati lanskap alam sekaligus merasakan keramahan masyarakat setempat.

Warga lokal kampung Praijing menenun di teras rumah tradisional; keindahan kampung Praijing dari atas.
Kiri ke kanan: Warga lokal kampung Praijing menenun di teras rumah tradisional; keindahan kampung Praijing dari atas. (Foto: Muhammad Saggir).

Adapun satu desa yang akhirnya saya kunjungi adalah Kampung Praijing, yang terletak di perbukitan dekat Waikabubak. Saya tiba ketika langit mulai berubah jingga menuju senja. Beberapa wisatawan tampak sibuk mengabadikan rumah-rumah adat beratap tinggi dan makam batu megalitik yang menjadi ciri khas kampung ini.

Namun, yang paling membekas justru kehidupan yang berlangsung di baliknya. Saat berjalan menyusuri lorong-lorong kampung, saya melihat perempuan-perempuan yang masih tekun menenun di beranda rumah adat. Kain-kain ikat berwarna-warni tergantung menghiasi dinding rumah, seolah menjadi pengingat bahwa tradisi berusia ratusan tahun itu masih terus hidup. 

Baca Juga: Melihat Potensi Yacht Tourism di Indonesia

Mencicipi Rasa Sumba

Setelahnya, saya menyempatkan diri bersantap di Makan Dulu Restaurant. Restoran berarsitektur bambu ini menyajikan nasi campur sebagai menu andalan, lengkap dengan rendang sapi khas Sumba, sambal cumi, gado-gado, royo luwa, hingga sate campur.

Interior dari Makan Dulu Restaurant; murid binaan Sumba Hospitality Foundation berkontribusi menjadi pekerja industri wisata, termasuk restoran.
Kiri ke kanan: Interior dari Makan Dulu Restaurant; murid binaan Sumba Hospitality Foundation berkontribusi menjadi pekerja industri wisata, termasuk restoran. (Foto: Muhammad Saggir).

Namun, yang membuat tempat ini istimewa bukan hanya makanannya. Restoran ini dikelola bersama para siswa Sumba Hospitality Foundation. Beberapa pramusaji dengan ramah mengajak saya berbincang tentang kebanggaan mereka menjadi bagian dari program tersebut. Melalui pendidikan perhotelan yang intensif, mereka dipersiapkan untuk membangun karier sekaligus kembali berkontribusi bagi komunitas asalnya.

Sebelum kembali ke Jakarta, saya singgah di Talasi Coffee di kawasan Weetabula. Tempat ini layak masuk dalam daftar kunjungan siapa pun yang datang ke Sumba Barat. Sebagai destinasi agrowisata, Talasi memperkenalkan kopi robusta premium dan berbagai produk olahan mete khas Sumba Barat Daya, sembari mengedepankan praktik pertanian berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Barista lokal di Talasi Coffee tengah menyeduh kopi; suasana teduh di Talasi.
Kiri ke kanan: Barista lokal di Talasi Coffee tengah menyeduh kopi; suasana teduh di Talasi. (Foto: Muhammad Saggir).

Suasana kedainya yang teduh membuat secangkir kopi terasa semakin nikmat. Di sinilah saya melihat bagaimana tradisi, hasil bumi, dan semangat masyarakat lokal terus berkembang agar tetap relevan di masa depan.

Di titik itulah perjalanan saya di Sumba Barat berakhir. Saya sadar, 48 jam jelas belum cukup untuk mengenal pulau ini sepenuhnya. Masih banyak tempat yang belum saya kunjungi dan cerita yang belum sempat saya dengar. Yang saya tahu, saya ingin kembali. (chs)