Myranda Fae
11 Agustus 2026
Deretan mast kapal yang bersandar di Benoa Marina, Bali, menjadi latar helatan INSA Yacht Festival (IYF) 2026 yang berlangsung pada 7–9 Agustus lalu. Memasuki penyelenggaraan ketiganya, festival gagasan Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, hingga komunitas untuk mendefinisikan ulang arah pariwisata bahari Nusantara, termasuk melihat potensi yacht tourism di Indonesia.

Langkah ini sejalan dengan agenda strategis pemerintah. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa yacht tourism merupakan komponen krusial dalam reorientasi pariwisata Indonesia menuju high-value tourism.
“Wisata yacht menjadi bagian dari tiga pilar utama pengembangan wisata bahari berkualitas kita, bersama dengan cruise dan diving,” ungkap Widiyanti di IYF 2026. Saat ini, Kementerian Pariwisata tengah memetakan industri kapal wisata – mencakup cruise, yacht, hingga live on board – secara holistik melalui koordinasi lintas sektor bersama kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan asosiasi.
Bukan sekadar wisata mewah
Mitos terbesar yachting adalah anggapan bahwa segmen ini eksklusif milik segmen ultra-wealthy. Di IYF 2026, paradigma tersebut bergeser: yachting pada hakikatnya adalah soal pengalaman, meliputi koneksi dengan alam, kebebasan menjelajah, dan momen personal bersama orang terdekat.
Industri kini menghadirkan opsi yang lebih mudah diakses. Skema charter, open trip, hingga shared ownership mulai ditawarkan agar masyarakat dapat menikmati gaya hidup bahari tanpa harus memiliki kapal secara penuh. Aktivitas di atas yacht pun makin beragam, memadukan olahraga air, diving, wellness, hingga kegiatan keluarga.
Gagasan gaya hidup bahari (marine lifestyle) ini tecermin sepanjang IYF 2026. Mengusung pilar Wellness Tourism, Marine Tourism, dan Gastronomy, festival ini menyajikan yacht exhibition, education tour, Pilates on Phinisi, Matcha Tea Ceremony, fashion show di atas geladak pinisi, hingga sunset dinner cruise.

Menyelaraskan Ombak, Marina, dan Regulasi
Di balik potensinya sebagai negara kepulauan terbesar dan bagian dari kawasan coral triangle, industri yacht Indonesia masih dihadapkan pada beberapa tantangan. Isu regulasi seperti misalnya tingginya PPnBM untuk pembelian yacht serta evaluasi 29 titik masuk-keluar (entry and exit points) yang berkaitan dengan efektivitas Customs, Immigration, and Quarantine (CIQ), menjadi salah satu topik diskusi hangat di IYF 2026.
Pemerintah menyambut terbuka masukan tersebut. Widiyanti menyatakan bahwa Kemenpar bersama asosiasi dan kementerian terkait berkomitmen membuat kajian mendalam untuk mengevaluasi regulasi yang menghambat. Kemenpar berkaca pada kesuksesan industri cruise dan diving Indonesia yang sebelumnya juga menghadapi tantangan infrastruktur serupa, namun berhasil tumbuh lewat pengembangan bertahap.
Di sisi lain, kebutuhan akan true luxury marina berstandar internasional menjadi perhatian mendesak. Kehadiran marina yang merata, terutama di wilayah Indonesia Timur, dinilai kunci untuk membukan akses rute-rute baru.
Denyut Ekonomi di Daerah Pesisir
Pengembangan yacht tourism memberikan efek yang luas. Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto menyoroti bahwa industri ini menggerakkan galangan kapal lokal, jasa perawatan, arsitek bahari, hingga penyerapan tenaga kerja.
Bagi daerah pesisir, kedatangan yacht mendorong geliat usaha lokal. “Apabila berkembang, tentu daerah pesisir bisa tumbuh dengan membuat UMKM-nya lebih bergerak dan industri kuliner meningkat,” jelas Widiyanti. Selain itu, isu keberlanjutan lingkungan juga ditekankan melalui dialog Clean Harbors, memastikan kebersihan kawasan pesisir tetap terjaga.
IYF 2026 menjadi sinyal positif bahwa yacht tourism di Indonesia tidak lagi sekadar wacana. Dengan menyelaraskan regulasi, infrastruktur marina, dan pengalaman wisata yang berkesan, modal besar bahari Nusantara siap ditransformasikan menjadi ekosistem berdaya saing global.




