Restoran di Ayana Bali. Selama pandemi, saat jumlah turis menurun, tempat makan di Bali justru kian banyak. (Foto: James Tiono)

Di Bali, arus turis berbanding terbalik dengan pertumbuhan restoran. Setidaknya, inilah kesimpulan selama dua tahun pandemi Covid. Ketika Bali menderita paceklik turis, tempat makan justru bertambah banyak.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi restoran di Bali pada 2020 meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2021, angkanya kembali naik sebesar 20%. Dibandingkan grafik sebelum pandemi, pertumbuhan ini cukup tinggi, bahkan di atas rata-rata.

Jika dihitung jumlah riilnya, pertumbuhannya lebih mengejutkan. Pada 2019, Bali mengoleksi 2.864 restoran. Pada 2021, jumlahnya mencapai 3.868 restoran. Artinya terjadi kenaikan sebesar 1.004 unit restoran selama pandemi.

Namun begitu, pertumbuhan ini tidaklah merata. Kenaikan tertinggi dinikmati oleh Kabupaten Buleleng. Jumlah restorannya naik lebih dari dua kali lipat. Daerah lain yang mengalami lonjakan signifikan ialah Karangasem dan Gianyar.

Data yang kontras diperlihatkan oleh Bangli. Kabupaten di utara pulau ini justru kehilangan banyak restoran, dari 44 menjadi hanya 14 restoran. Kondisi serupa terlihat di Badung, di mana populasi restoran menyusut dari 823 menjadi 728 unit.

Belum jelas penyebab pertumbuhan restoran di Bali. Bisa jadi karena banyak orang beralih ke bisnis kuliner usai kehilangan pekerjaan. Atau mungkin karena tradisi dining out kian digemari warga lokal. Yang jelas, restoran di Bali kini tidak sepenuhnya bersandar pada pasar turis.

Selama pandemi, jumlah turis ke Bali susut drastis. Merujuk rapor pariwisata Bali 2021, kunjungan turis domestik minus 6%. Penurunan arus turis asing jauh lebih kronis. Tahun lalu, jumlah kunjungan wisman drop nyaris 100%.Cristian Rahadiansyah