Bandara Ngurah Rai di masa pandemi. Sepanjang 2021, bandara ini menyambut hanya 43 turis asing. (Foto: Cristian)

Tahun lalu, akibat gelombang ganas varian Delta dan pembatasan perjalanan, kondisi pariwisata Bali kian suram. Di hampir semua lini, rapornya merah, dengan ponten yang menurun.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020, Bali membukukan sekitar satu juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), minus 83% dibandingkan 2019. Pada 2021, angkanya susut lebih drastis, nyaris 100%, menjadi hanya 51 kunjungan.

Tingkat penurunan ini lebih kronis dibandingkan rata-rata nasional. Pada 2021, Indonesia masih berhasil mencatatkan 1,5 juta kunjungan wisman, drop “hanya” 62% dibandingkan 2020.

Ini merupakan rekor penurunan turis terbesar dalam sejarah Bali, setidaknya semenjak statistik turis dicatat pemerintah pada 1969. Bahkan, ketika dulu Bali ditempa dua tragedi bom, turis asingnya masih berada di kisaran satu juta orang.

Pemerintah sebenarnya sempat berupaya menahan kejatuhan drastis itu. Oktober tahun lalu misalnya, pemerintah membuka kembali penerbangan internasional ke Bali. Namun, keputusan itu nyaris tak berdampak. Hingga Desember 2021, petugas imigrasi Bandara Ngurah Rai hanya menstempel delapan paspor asing.

Setali tiga uang, inisiatif di tingkat domestik juga gagal mendongkrak arus turis lokal. Pemerintah sempat mengampanyekan “kerja dari Bali.” Banyak hotel dan OTA (online travel agency) gencar mempromosikan paket “liburan di Indonesia saja.” Sayang, kunjungan wisnus pada 2021 justru drop 6% dibandingkan 2020.

Pantai lengang Sanur saat pandemi. Pada 2021, jumlah turis domestik ke Bali drop 6% dibandingkan 2020. (Foto: Amit Janco)

Musim paceklik turis ini tentu saja punya efek samping. Contohnya pada bisnis biro perjalanan wisata. Pada 2021, jumlah biro perjalanan susut 22%, dari 457 menjadi 356 perusahaan. Penurunan terparah melanda Kabupaten Badung. Jumlah biro perjalanannya susut dari 154 menjadi hanya 50 perusahaan.

Belum ada data terbaru untuk sektor perhotelan. Tapi besar kemungkinan tren penurunan juga berlangsung. Pada 2020, populasi hotel di Bali drop 25% dibandingkan 2019, dari 507 menjadi 380 hotel. Alhasil, Bali kehilangan gelarnya sebagai provinsi dengan hotel terbanyak di Indonesia. 

Satu-satunya ponten biru dalam rapor Bali sepertinya diraih industri restoran. Selama pandemi Covid, jumlah restoran dan warung di sini justru tumbuh, mungkin karena banyak orang beralih ke bisnis kuliner akibat kehilangan pekerjaan.

Pada 2020, jumlah restoran di Bali tumbuh 13%. Pada 2021, angkanya kembali naik sebesar 20%, dari 3.233 menjadi 3.868 restoran. Melihat peta penyebarannya, pertumbuhan restoran tertinggi dicatatkan oleh Kabupaten Buleleng dan Karangasem.Cristian Rahadiansyah