Dua Sisi Bumi Timor Lorosae

Antara luka silam dan mimpi hari depan. Bumi Timor Lorosae masih berada di persimpangan, satu dekade setelah NKRI angkat kaki dan satu tahun setelah PBB mengepak barang-barangnya. Di demarkasi terpenting dalam hidupnya itu, pariwisata dan pertambangan dipilih sebagai dua mesin yang akan membawa negeri ini terbang tinggi.

Di jalan rusak yang sepi, ban sepeda motor saya bocor. Kepada siapa hendak mengadu? Saya, juga teman saya En, hanya turis asing. Satu mini bus berisi pipa besi, lewat. Sepeda motor kami ikat ke pipa besi bagian belakang. Hanya ini jalan satu-satunya. Gelap mengambang di cakrawala Baucau, menyelimuti rumah-rumah beton, gereja-gereja di kompleks Kota Tua yang tak terawat, desa-desa penuh canda, warung-warung kecil dengan penerangan seadanya.

Kiri-kanan: Tempat tidur di Discovery Inn; interior Diya Restaurant di Discovery Inn.

Saya terperangkap di ruang 15 meter persegi tanpa loteng milik lelaki-lelaki muda penegak arak. Dalam ruangan itu terbentang dua ranjang, sebuah meja dan bale-bale kecil, poster selebriti Indonesia yang memicu gairah, dan foto pernikahan. Saya disambut dengan hangat, seakan seorang saudara yang baru kembali dari perantauan. Sambil menenggak arak oplosan, mereka berceloteh tentang Lorosae yang aman dan ketersediaan lapangan kerja yang minim.

Kiri-kanan: Gedung sekolah uzur peninggalan penjajah Portugis di Baucau; Mercusuar Farol di Dili.

“Dulu saya masih bisa makan tiga kali sehari, sekarang untuk bekerja pun susah,” kata Joao Metan. “Tapi yang penting sekarang kami telah merdeka,” timpal Pedro Apeu sembari meletakkan buku belajar pintar bahasa korea. Lelaki 30 tahun ini sempat hampir putus asa karena selalu gagal tes bahasa Korea.

Di luar ruangan, Terminal Baucau sepi. Gerbangnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, masih tersisa. Di bawah sana, pantai dan benteng-benteng Portugis menanti para pencari surga. Pembauran Eropa dan Asia begitu kentara. Di bagian selatan, laut terhampar dengan terumbu karang yang memesona. Ada banyak alasan untuk datang ke sini, sebagaimana ada banyak alasan beberapa negara ingin memiliki Timor-Leste.

Pemandangan lanskap gunung hijau dan lautan dari Christo Rei, Dili.

DETAIL
Timor-Leste

Rute
Penerbangan ke Bandara Presidente Nicolau Lobato di Dili dilayani oleh dua maskapai asing (Airnorth dan Qantas) serta dua maskapai nasional, yakni Merpati Nusantara (merpati.co.id) dan Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id). Jika memilih jalur darat dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Anda dapat menggunakan minibus Travel Timor (Rp185.000 per orang) yang berangkat setiap hari dari Kupang. Bus berangkat pukul enam pagi dan mendarat di Dili pukul 20.

Penginapan
Dili adalah titik tolak terbaik untuk menjelajahi Timor-Leste. Salah satu opsi ideal adalah Discovery Inn (Avenida Presidente Nicolau Lobato, Dili;  670/3311-111; discoveryinntimor leste.com; doubles mulai dari $139), hotel berkapasitas 31 kamar yang berlokasi di Rua Jose Maria Marques, pusat kota Dili, dan menyediakan penjemputan langsung di bandara Dili. Opsi lainnya adalah Villa Harmonia (Jl. Avenida de Portugal, Dili; 670/7723-8265; doubles mulai dari $40) yang menawarkan kamar tipe standar hingga suite.

Aktivitas
Untuk berkeliling kota Dili dan sekitarnya, cara paling mudah adalah menyewa mobil atau sepeda motor ($3-5 per hari).Jalan yang relatif datar dan mulus akan mengantar Anda dari Arquivo & Museu da Resistência Timorense, Xanana Reading Room, lalu ke gelanggang sabung ayam di Bebora. Di luar kota Dili, beberapa distrik yang menarik disambangi adalah Baucau, Maubisse dan Los Palos. Untuk aktivitas ini, tarif sepeda motor antara $20-30 per hari, sedangkan mobil $100-130. Perairan Pulau Atauro menyimpan terumbu karang yang dijuluki warga lokal sebagai pesaing sempurna bagi Raja Ampat. Hotel-hotel di sepanjang jalan Avenida de Portugal rata-rata menyediakan paket menyelam ke sana. Desember-April merupakan musim hujan di mana hutan dan perbukitan terlihat menghijau dan ombak laut lebih tinggi. Antara Mei dan November, curah hujan minim dan bukit-bukit berwarna cokelat kekuningan. Di hari-hari sakral Katolik, warga biasanya menggelar festival budaya.

Pertama kali diterbitkan di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus (“Feature: Dua Sisi Timor”)

Comments