Dua Sisi Bumi Timor Lorosae

Antara luka silam dan mimpi hari depan. Bumi Timor Lorosae masih berada di persimpangan, satu dekade setelah NKRI angkat kaki dan satu tahun setelah PBB mengepak barang-barangnya. Di demarkasi terpenting dalam hidupnya itu, pariwisata dan pertambangan dipilih sebagai dua mesin yang akan membawa negeri ini terbang tinggi.

Para turis di Pantai Pasir Putih.

Di Atambua, saya dan penumpang lain mesti turun untuk melewati garis perbatasan negara. Setelah semua barang bawaan diperiksa, saya harus melewati satu pos penjaga lagi sebelum menyeberang ke Timor-Leste. Bumi Lorosae, negeri timur tempat matahari terbit.

“Paspor baru, sepuluh dolar!” tukas lelaki berseragam loreng dalam bahasa Indonesia di sebuah pos. Datar dan dingin, sedingin wajahnya. “Tidak bisakah kita negosiasi, Papa?” saya mencoba mencairkan suasana. “Harga negosiasi sama saja, sepuluh dolar!”

Paspor saya ditahan terpisah dari tumpukan antrean. Haruskah saya memulai tulisan perjalanan selama seminggu di tanah Lorosae dengan hal yang tidak mengenakkan ini. Serdadu Falintil yang menjaga perbatasan itu masih menunggu saya merogoh kantong. Barangkali ini alasan tentara perbatasan mencopot bordiran nama di seragam mereka.

“Kena saya kali ini,” ujar saya pada teman di bus. “Tentara perbatasan di sini mencari gaji sampingan dengan memalak, ya!” kata saya pada gadis cantik yang duduk di kursi depan bus dan berceloteh dalam bahasa Tetun.

Kiri-kanan: Papan peringatan tentang keberadaan buaya mudah ditemui di perjalanan dari Dili ke Baucau; seorang remaja Timor berjalan di depan grafitti Tour de Timor, kejuaraan balap sepeda tahunan di sana.

“Tentara Indonesia lebih parah. Saya diminta empat ratus ribu rupiah ketika hendak pergi belajar ke Surabaya,” sahutnya ketus. Saya terdiam, diam dalam sadar. Timor-Leste menyimpan memori yang buruk dengan Indonesia. Catatan-catatan dan video tentang kejahatan perang beredar. Indonesia, di mata Timor-Leste, adalah penjajah dengan catatan yang pedas. Di bangku-bangku sekolah, sejarah kekerasan tersebut diajarkan dengan lebih detail. Dalam beberapa catatan, Indonesia kerap disebut tiran. Saya kadang-kadang merasa aneh berada di negeri yang menganggap negeri saya sebagai tiran.

Pegunungan Cape Fatucama terlihat di Christo Rei, Dili.

Bus melenggok di jalan penuh lumpur, longsoran bukit, tiang listrik yang patah, berkilo-kilometer panjangnya. Jarak tempuh yang harusnya tiga jam untuk sampai ke Dili dari perbatasan, mesti dikalikan dua. Musim hujan menyulap lubang-lubang di jalanan menjadi kubangan kerbau. Saya memasuki Dili, Ibu Kota Timor-Leste, pada malam hari, ketika hujan turun merendami jalan-jalan dan menguapkan lumpur. Mobil yang saya tumpangi harus berbelok tiga kilometer akibat sebuah jembatan ambruk persis di samping istana presiden yang hanya dijaga dua lapis penjaga. Lumpur disemburkan dari saluran drainase yang berantakan, hingga jalur utama di samping istana harus dialihkan.

Bagaimana mungkin jalan ke istana negara bisa lumpuh hanya karena hujan? Saya tidak bertanya pada gadis Timor tadi lagi. Sebab, satu minggu sebelumnya, Jakarta juga diguyur hujan lebat dan Presiden Republik Indonesia menggulung celananya di pelataran istana.

Comments