Dua Sisi Bumi Timor Lorosae

Antara luka silam dan mimpi hari depan. Bumi Timor Lorosae masih berada di persimpangan, satu dekade setelah NKRI angkat kaki dan satu tahun setelah PBB mengepak barang-barangnya. Di demarkasi terpenting dalam hidupnya itu, pariwisata dan pertambangan dipilih sebagai dua mesin yang akan membawa negeri ini terbang tinggi.

Gereja Motael di Dili, gereja tertua di Timor.

Dengan sepeda saya berkeliling Dili, dan beberapa pasang turis melakukan hal yang sama. Minggu pagi, anak-anak berdandan, memenuhi jalan mengikuti langkah orang tua yang hendak berangkat ke gereja. Di altar Gereja Motael di tepi pantai Dili, pastor berkhotbah dalam bahasa Tetun, separuhnya Portugis. Keduanya tidak saya mengerti. Tapi pengunjung khidmat. Mereka orang-orang yang taat. Saya berputar arah mengikuti alur jalan sepanjang pantai. Pulau Atauro tampak sangat samar menyembul dari permukaan laut. Pulau dengan sebutan surga penyelam itu dikelilingi laut yang ditumbuhi karang aneka warna. Gedung-gedung kedutaan dari berbagai negara berdiri megah. Kedutaan Amerika lebih mencolok dan terkesan begitu mewah dengan penjaganya yang berlapis—mengalahkan kantor presiden Timor-Leste yang hanya dikawal penjaga berpakaian adat. Nelayan pulang melaut, membopong ikan-ikan besar hasil tangkapan. Angin sejuk bertiup tenang dari utara.

Pulau kecil tak berpenghuni di dekat Metinaro dengan tanda salib raksasa di atasnya.

Menyaksikan Dili seperti menyaksikan Indonesia pasca-revolusi. Masih tersisa coretan-coretan pada dinding yang berteriak tentang kebebasan, gedung-gedung bekas barak tentara yang dipenuhi lumut di sana sini, sisa-sisa dari masa silam yang baru kemarin. Selain itu, mural balap sepeda Tour de Timor yang diadakan tiap tahun, tampak mendominasi tiap tembok kota. Di malam hari, di beberapa pojok jalan yang tidak begitu jauh dari istana negara, bandar-bandar kasino mulai tumbuh, walau dalam kondisi yang belum sempurna, dan perempuan-perempuan pesolek melempar senyum sambil menunggu klien.

Dalam usia yang masih sangat muda, Timor-Leste bagai burung kecil yang terseok-seok terbang dengan sayap yang belum sepenuhnya utuh. Di lepas pantainya, Australia bekerja sama untuk menggali minyak. Di sisi yang lain, hampir 60 persen logistik pangan dan sandang didatangkan dari Indonesia, termasuk guru-guru, BBM, hingga rokok yang diangkut oleh kapal dan mobil-mobil ekspedisi—kendati beberapa “jalur tikus” penyelundupan minyak dan barang dari Indonesia masih beroperasi.

Pejalan kaki di jalanan menuju Cape Fatucama.

“Bahkan pelacur pun diimpor dari negara luar,” kata Lino Loe di Kafe East Timor Backpackers. Selain harga barang kebutuhan pokok yang tinggi, negara ini baru bisa mencetak koin sen dalam mata uang Timor-Leste. Tapi banyak hal lain yang menggoda turis untuk datang ke sini, kata penjaga Xanana Gusmão Reading Room sembari tertawa.

Pada pagi berikutnya, saya kembali mengayuh sadel menyusuri Jalan Avenida de Portugal, menuju sebuah bukit yang tampak jauh. Di kiri jalan, ada monumen berupa patung besar: seorang lelaki tengah berbaring, mungkin dalam keadaan sekarat. Kain putih membungkusnya, dan sepertinya patung ini belum diresmikan. “Ini untuk memperingati pembantaian di makam Santa Cruz,” kata seorang lelaki yang tergopoh-gopoh entah mengejar apa. Pembantaian? Cuplikan-cuplikan video di Arquivo & Museu da Resistência Timorense yang sebelumnya saya kunjungi terbayang lagi. Prajurit-prajurit Indonesia melepaskan hujan peluru ke gerombolan orang di sebuah kompleks pemakaman. Huh, udara pagi begitu sejuk di sini, terlalu sayang rasanya jika harus dinodai. Di ujung sana, terhampar bukit dengan patung besar di puncaknya. Saya terus mengayuh, melewati hotel-hotel yang menghadap laut sepi.

Comments