Dokumentasi Gunung, Laut, dan Manusia

Selama delapan tahun, fotografer Rony Zakaria mendokumentasikan relasi kompleks antara manusia, gunung, dan laut. Satu dari segelintir karya “slow photography” di Indonesia.

Seorang pendaki di puncak Gunung Semeru.
Seorang pendaki di puncak Gunung Semeru.

Oleh Rony, wasilah segitiga manusia-gunung-laut agaknya tidak dibakukan menjadi sebuah wacana “antropologi” murni, berbeda dari, misalnya, proyek Genesis yang tersohor itu. Alih-alih, dia memberi porsi yang cukup dominan bagi batinnya untuk memilah dan memilih subjek foto. “Proyek ini,” ujarnya, “juga tentang apa yang saya rasakan ketika berada di lokasi.” Bisa dibilang, Men, Mountains and the Sea adalah sebuah “self-discovery” dalam kerangka dokumenter.

“Sebenarnya sah-sah saja jika fotografer mendokumentasikan sesuatu dengan melibatkan subjektivitas perasaan,” ujar Edy Purnomo, pengajar di PannaFoto Institute, lembaga yang mengembangkan fotografi dokumenter dan jurnalistik di Indonesia. “Yang rumit dari subjektivitas ini, publik memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda tentang tempat-tempat yang ditampilkan, karena itu pemaknaannya juga akan berbeda.”

Wisatawan di Pantai Parangtritis. Fakta bahwa pantai ini berbahaya untuk direnangi tak menyusutkan niat mereka berlibur.
Wisatawan di Pantai Parangtritis. Fakta bahwa pantai ini berbahaya untuk direnangi tak menyusutkan niat mereka berlibur.

 

Parade perahu dalam Sedekah Laut, ritual syukuran yang digelar oleh masyarakat pesisir di Jepara.
Parade perahu dalam Sedekah Laut, ritual syukuran yang digelar oleh masyarakat pesisir di Jepara.

Sebagian foto dalam Men, Mountains and the Sea sudah dipamerkan di sejumlah ajang fotografi. Pada 2009, Rony memajangnya di Chobi Mela Festival, Bangladesh. Empat tahun berselang, dia memboyongnya ke Photoquai Biennale, Prancis. Terakhir, November 2015, hasil jepretannya dipamerkan di Photolux Festival, Italia. Berstatus kontributor bagi media ternama semacam The New York Times dan The Wall Street Journal, Rony agaknya tak kesulitan menembus kurator-kurator internasional. Tantangannya mungkin sedikit berbeda untuk memikat publik dalam negeri, terutama saat nanti Men, Mountains and the Sea dibukukan.

Edy melihat Rony sebagai fotografer yang berada di antara dua generasi: generasi fotojurnalis klasik semacam Kemal Jufri dan generasi kontemporer seperti Yoppy Pieter. Tipe yang pertama memakai pendekatan denotatif dengan menampilkan realitas secara lugas apa adanya, sedangkan tipe yang kedua lebih konotatif di mana foto lebih bersifat alegoris. “Jika nanti proyek Men, Mountains and the Sea dijadikan buku,” pesan Edy, “Rony sebaiknya memilih satu pendekatan agar metode kuratorialnya tidak membingungkan.”

Ritual penyucian topeng barung di Pantai Batu Bolong, Bali.
Ritual penyucian topeng barung di Pantai Batu Bolong, Bali.

 

Tokoh Katolik melakukan doa di tepi pantai di Lamalera sebelum musim perburuan paus.
Tokoh Katolik melakukan doa di tepi pantai di Lamalera sebelum musim perburuan paus.

Tentu juga lebih menarik jika kelak Rony bermitra dengan, umpamanya, seorang sosiolog atau antropolog, guna menuliskan pengantar buku yang bisa memberikan konteks akademis bagi foto-fotonya. Terlepas dari pendekatannya yang personal, Men, Mountains and the Sea sejatinya mengusung isu yang “riil”: relasi geografis dan spiritual antara manusia, gunung, dan laut. Relasi yang begitu jamak di sekitar kita, tapi uniknya, jarang dielaborasi di bawah satu judul.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2016 (“Kosmologi Cincin Api”).

01 02 03 ritual labuhan 04 05 06 07 08
Kiri-kanan: Suasana ritual Labuhan Alit di mana warga berdoa dan melarungkan sesajen di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta; salah seorang partisipan Yadnya Kasada berdoa di atap Gunung Bromo.
Comments