Cara Maskapai Dunia Kurangi Emisi Karbon

Sejumlah maskapai kian kreatif menerapkan carbon offset. Dua tahun lagi, kebijakan itu akan menjadi regulasi. (Foto: Carbonsink)

Oleh Yohanes Sandy

Kompetisi merawat alam berlangsung di udara. Sejumlah maskapai berlomba menjadi yang paling ramah lingkungan lewat beragam inisiatif, contohnya mereduksi bahan plastik untuk katering, membeli armada yang lebih hemat avtur, serta menyarankan penumpang memesan makanan sebelum terbang demi mengurangi kemubaziran. Tahun ini, muncul satu terobosan segar lain: carbon offset, yakni memberi kompensasi atas emisi bahan bakar.

Sedikitnya 11 maskapai telah menjalankan kebijakan carbon offset. Program yang paling jamak ialah reboisasi, daur ulang limbah, hingga investasi di lembaga konservasi. Salah satu contoh terakhirnya ialah program Push for Change dari Finnair yang diluncurkan Januari silam. Bermitra dengan NEFCO, organisasi yang didirikan oleh negara-negara Nordik untuk mendanai proyek lingkungan, maskapai asal Finlandia ini mengajak penumpang menyumbang antara satu hingga enam euro. Uang ini kemudian dipakai untuk membeli kompor modern untuk didistribusikan di Mozambique sebagai pengganti kompor kayu bakar yang berkontribusi dalam penebangan hutan. Lewat Push for Change pula, Finnair menggalang dana publik untuk mendukung penerbangan berbahan bakar biofuel. Donasinya sebesar 10 hingga 65 euro.

Baca juga: 5 Maskapai Paling Ramah Lingkungan; Grup Qantas Luncurkan Program Ramah Lingkungan

Untuk saat ini, carbon offset bergantung pada kepedulian dan kreativitas maskapai. Dalam waktu dekat, kebijakan itu berubah menjadi regulasi. Merujuk perjanjian Carbon Offsetting & Reduction Scheme for International Aviation yang disahkan oleh PBB pada tahun lalu, seluruh maskapai yang terbang lintas benua mesti menerapkan carbon offset mulai 2021. Harapannya, perusahaan penerbangan tak lagi bergantung kepada individu untuk mengurangi dampak lingkungan dari bisnis mereka sendiri.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Kompensasi Polusi”).

Comments