Berburu Wine di Tiongkok

Bisnis wine membuka lembaran baru di lembah-lembah Diqing, kawasan yang melemparkan imajinasi kita ke Bordeaux.

Kiri-kanan: Wanita pekerja kebun anggur di Lembah Tacheng, kawasan yang mulai dilirik oleh perusahaan wine asing; kebun anggur bersejarah dan gereja tua warisan misionaris Prancis di Dusun Cizhong.

Teknik produksi yang lebih baik saya temukan di rumah Lui Wan Zhen. Dia mempelajari keahlian membuat wine dari neneknya. Di halaman tengah rumahnya, Lui menuangkan red wine berusia 10 tahun yang telah diendapkan di barel kayu oak. Nektar ini menunjukkan sejumlah karakter terbaik wine: berwarna ceri gelap dengan aroma mewah beri hitam, serta memiliki tekstur sirop yang menempel pada dinding gelas. Namun, seperti wine lain di Cizhong, wine ini sudah terlalu lama diasamkan hingga rasanya menyerupai cuka: menusuk dan tebal. Mungkin lebih ideal jika dipakai sebagai salad dressing.

“Sangat mujarab untuk pencernaan,” kata Lui, seolah menjawab keluhan saya. Per tahunnya, dia menghasilkan 500 liter wine jenis ini. Sebagian besar ditenggak di rumahnya, sisanya dijual kepada para wisatawan yang datang dengan menempuh enam jam perjalanan dari bandara terdekat.

Gereja mungil warisan misionaris Prancis masih berdiri. Pimpinan jemaah, Pater Yeoh, mencoba menghasilkan wine dari kebun rose honey yang mengelilingi gereja, walau dia sebenarnya belum menguasai tekniknya. Saya sempat menghadiri misa yang dipimpin oleh Pater Yeoh. Udara cukup nyaman dan hangat, tapi tak banyak orang yang sudi meninggalkan rumah untuk ke gereja. Malam ini, hanya ada lima jemaah, dan semuanya sudah lanjut usia. Ada dua wanita Tibet yang membalut kepala dengan syal jambon-biru. Ada sepasang pria Naxi yang mengenakan jas pudar. Ada juga ibunda Lui Wan Zhen si pembuat wine rasa “cuka.”

Malam ini, Diqing mengajak saya memasuki pengalaman yang sureal: bersimpuh di gereja batu di pegunungan yang ditumbuhi pohon-pohon anggur bersejarah. Bordeaux berjarak lebih dari 8.000 kilometer, tapi untuk sesaat, saya merasa dilemparkan ke sana.

Detail
Diqing

Rute
Maskapai China Southern Airlines (csair.com) memiliki penerbangan harian dari Kunming, Ibu Kota Provinsi Yunnan, menuju Bandara Diqing Shangri-La.

Penginapan
Songtsam Lodges (songtsam.com) mengelola lima hotel mewah berukuran kecil di lokasi-lokasi terpencil di Prefektur Diqing, di antaranya Songtsam Meili (doubles mulai dari Rp2.900.000) yang teronggok di desa kecil Gujiunong yang menghadap Pegunungan Meili; serta Songtsam Cizhong (doubles mulai dari Rp2.800.000) yang bersemayam di dekat Sungai Lancang, di antara kebun anggur dan sawah.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2015 (“Bordeaux Rasa Asia”)

Comments