Pengunjung melewati jembatan yang mengilustrasikan perjalanan menuju ke nirwana di kompleks Wat Rong Khun alias White Temple.

Teks & Foto oleh Arif Furqan

SABTU

08:00 Wat Rong Khun
Kendati parasnya terkesan sepuh, Wat Rong Khun (Pa O Don Chai) sebenarnya baru dibangun pada 1997. Perancangnya, Chalermchai Kositpipat, adalah seorang seniman yang dikenal gemar menggali inspirasi dari tradisi Buddha—sebuah tanda bahwa spiritualitas tak cuma bisa dihidupkan oleh pemuka agama, tapi juga seniman. Kompleks yang dijuluki White Temple ini terdiri dari sembilan struktur, termasuk kuil, galeri, dan zona meditasi. Ibarat Shirathal Mustaqim, kuilnya mengilustrasikan trip ke nirwana dengan menyeberangi jembatan yang dihantui ratusan tangan dari neraka.  

Makanan populer khao soi di Por Jai.

11:00 Por Jai
Kedai sederhana Por Jai (1023/3 Jetyod Road) menyajikan salah satu menu terpopuler di utara Thailand: khao soi, mi dengan kuah santan dan kari gurih, plus kombinasi daging ayam, ikan, udang, atau babi. Khao soi memiliki kemiripan dengan khao swe dari Myanmar dan Laos. Konon, masakan ini diperkenalkan oleh imigran asal Yunnan, Tiongkok, yang berkelana melewati jalur Laos dan Myanmar, hingga akhirnya tersebar di kawasan Segitiga Emas. Por Jai bersemayam di pusat kota, tak jauh dari Golden Clock Tower, semacam Jam Gadang versi Chiang Rai.

Lobi dan toko suvenir di dalam kompleks galeri Art Brigde Chiang Rai.

13:00 Art Bridge
Bagaikan Gudskul versi Chiang Rai, Art Bridge (Pha-honyothin Road) bertekad menjadi jembatan antara seni dan warga. Kompleks yang diinisiasi dan digerakkan oleh ratusan seniman ini rutin menggelar beragam kegiatan seni dan edukasi, termasuk pertunjukan, dialog antara seniman dan warga, hingga program khusus anak-anak. Beberapa hasil lokakaryanya dipasarkan di toko suvenirnya.

Salah satu sudut Baandam Museum, kompleks yang dijuluki Black House.

15:00 Baandam Museum
Antitesis dari White Temple, Baandam Museum (thawan-duchanee.com) memetik inspirasinya dari neraka. Kompleks yang dijuluki Black House ini berisi 40 bangunan yang berfungsi antara lain sebagai studio, residensi, serta galeri yang memajang karya buatan mendiang Thawan Duchanee, figur kontroversial yang kerap menggambarkan representasi non-konvensional Buddhisme. (Almarhum adalah mentor dari Chalermchai Kositpipat yang mendesain White Temple.) Tulang belulang, kulit binatang, dan ornamen mistis terpajang di setiap bangunannya yang mengadopsi arsitektur Lanna.

Area makan di restoran Chivit Thamma Da.

17:00 Chivit Thamma Da 
Dalam desain nyaman bergaya rumahan, kafe merangkap bistro ini menyajikan aneka menu lokal, Eropa, dan Asia. Tepat di depannya, perahu-perahu kecil membelah Sungai Kok yang mengalir hingga tepian Chiang Mai. Tapi Chivit Thamma Da (chivitthammada.com) sebenarnya bukan sekadar tempat makan dan bersantai. Restoran elegan ini juga membuka kesempatan bagi tamu untuk memahami hasil bumi Provinsi Chiang Rai, sebuah kawasan subur yang tersohor sebagai produsen sayuran di Thailand. Dapurnya memakai bahan-bahan segar yang dipasok oleh petani setempat. 

Pasar malam Walking Street yang digelar di sepanjang jalan utama tepat di jantung kota.

21:00 Walking Street Night Market
Jika ingin menghabiskan malam minggu dengan cara lokal, kunjungi Walking Street (Thanalai Road), semacam mal temporer yang digelar di jalan sepanjang dua kilometer di jantung kota. Selain menjual aneka penganan, suvenir, dan barang elektronik, pasar ini menyuguhkan beragam hiburan hingga jasa perawatan kecantikan. Selagi berbelanja, perhatikan paras penjualnya yang sebagian bersuku Akha, salah satu komunitas etnik di dataran tinggi Thailand. Berjalan sekitar 100 meter dari ujung barat pasar, Golden Clock Tower menyajikan atraksi cahaya dan denting merdu setiap pukul tujuh, delapan, dan sembilan malam.