Vietnam, Thailand, dan Maladewa adalah tiga contoh negara di Asia yang telah melonggarkan PSBB dan bersiap membuka perbatasan bagi turis asing. Keputusan itu didasarkan pada tren penurunan jumlah kasus Covid-19 secara signifikan.

Hingga 9 Juni, Vietnam telah melakukan 275.000 tes dan membukukan hanya 332 kasus positif, di mana 317 di antaranya telah dinyatakan sembuh. Melihat kurva virusnya, Vietnam mencatatkan lima kasus baru pada 16 Mei, lalu satu kasus pada 30 Mei, dan nol kasus di 9 Juni.

Statistik menjanjikan juga diperlihatkan Maladewa: 1.942 kasus, 1.010 sembuh. Untuk kurva kasusnya, negara kepulauan ini mencatatkan 47 kasus baru pada 16 Mei, lalu naik menjadi 81 kasus pada 30 Mei, kemudian 26 kasus pada 9 Juni.

10 negara Asia dengan jumlah tes Covid-19 terbanyak. Sumber: Corona Tracker, Ncov2019 Live Data, WHO, per 9 Juni 2020.

Membaca peta pandemi global, Asia mencatatkan lebih dari 1,4 juta pengidap virus. Khusus Asia Tenggara, jumlahnya menembus 378.000. Posisi puncak masih dipegang oleh Amerika. Sementara di dasar klasemen, ada Afrika yang membukukan sekitar 145.000 kasus. 

Penting diketahui, data kasus Covid-19 merujuk pada dari laporan resmi dari tiap negara. Tapi tidak semua negara sudi melaporkannya. Hingga kini setidaknya ada 12 negara atau teritori yang belum terdata jumlah kasusnya, antara lain Korea Utara, Palau, Samoa, Turkmenistan, dan Vanuatu.

Isu yang juga pelik, bisa saja laporan sebuah negara tidak valid atau kurang representatif. Jika tes tidak dilakukan secara ajek dan massal, data kasus gagal mencerminkan realitas. Dan andaikan sistem pelaporan dari rumah sakit ke agensi pendataan berantakan, akurasi data akan dipertanyakan.  

10 negara Asia dengan jumlah kasus Covid-19 paling sedikit. Sumber: Corona Tracker, Ncov2019 Live Data, WHO, per 9 Juni 2020.

Tapi meski data sulit dipegang, dunia pariwisata mulai bergerak untuk menyambut musim liburan. Setidaknya 25 objek wisata ikonis dunia sudah dibuka atau menetapkan jadwal pembukaan. Sejumlah maskapai meningkatkan jadwal terbang tengah tahun. Di Asia, kapal pesiar akan kembali melaut di Agustus. 

Demi meningkatkan rasa aman, mayoritas pelaku industri merumuskan pedoman kebersihan baru. Dari museum hingga taman rekreasi, tempat-tempat wisata menerapkan banyak batasan, mulai dari jaga jarak, kewajiban beli tiket secara daring, hingga larangan bagi tamu rombongan.

Dari perspektif turis, kemampuan (dan keseriusan) sebuah negara memerangi epidemi akan menjadi kriteria dalam memilih destinasi. Di Asia, tiga negara yang paling banyak melakukan tes Covid-19 ialah India, Uni Emirat Arab, dan Turki. Di posisi keempat ada Iran, episentrum virus di Timur Tengah. Berikutnya ada Korea Selatan, salah satu teladan dalam penanganan virus. 

Masih di Asia, tiga negara dengan jumlah kasus Covid-19 paling sedikit ialah Laos, Timor-Leste, serta Bhutan. Sementara tiga negara yang mencatatkan jumlah kematian paling sedikit ialah Brunei, Palestina, dan Hong Kong. Dalam konteks Covid-19, negara berukuran kecil terlihat lebih sukses dalam memerangi epidemi.

10 negara Asia dengan jumlah kematian akibat Covid-19 paling sedikit. Sumber: Corona Tracker, Ncov2019 Live Data, WHO, per 9 Juni 2020.

Pilihan destinasi turis tentu juga akan ditentukan oleh kebijakan imigrasi. Di Eropa, beberapa negara menerapkan sistem travel corridor: membuka perbatasan hanya dengan negara tetangga, atau negara dengan profil risiko serupa. Opsi ini diambil antara lain oleh Jerman, Swiss, Estonia, dan Yunani.

Sistem “diskriminatif” serupa mungkin akan menular ke selatan. Australia dan Selandia Baru sedang mempertimbangkan pembukaan jalur Trans-Tasman. Dikutip dari Japan Today, Jepang berencana menyambut turis dari beberapa negara terpilih saja, contohnya Thailand, Vietnam, dan Selandia Baru. Cristian Rahadiansyah