Jejak Peradaban Minang di Solok Selatan

Usai dilewati para atlet sepeda Tour De Singkarak, Solok Selatan kian terpantau radar turis. Magnet utamanya: Saribu Rumah Gadang.

Uni penari yang menyajikan tari piring dengan begitu elok.

Teks & Foto oleh R. Heru Hendarto

Sebagai kabupaten, Solok Selatan baru dibentuk pada 2004. Akan tetapi, secara historis, tempat ini menyimpan jejak panjang peradaban Minang. Di sini terdapat istana raja, kompleks rumah gadang, serta desa-desa bersahaja yang setia merawat tradisi. Semuanya diikat oleh moto Sarantau Sasurambi yang maknanya kira-kira “satu kawasan, satu pekarangan.”

Saat datang ke sini pada akhir 2017, saya disambut bak tamu kenegaraan. Awalnya seorang mamak muncul untuk mengucapkan salam lokal: “sairiang balam jobarabah, sariang salam josambah.” Selanjutnya, talempong dipukul dan serunai ditiup. Dalam iringan musik, saya dituntun menuju sesaji yang terdiri dari berhelai-helai daun sirih dan untaian buah pinang.

Gerakan Silek Luncua di kecamatan Sungai Pagu.

Usai penyambutan, saya dibawa ke tepian sawah. Dua uni cantik muncul dengan tubuh berbalut pakaian merah. Kepala mereka dihiasi mahkota yang berkilau tersiram sinar senja. Tak lama berselang, gendang ditabuh dan pentas tari piring pun dimulai. Banyak orang pernah menontonnya, walau mungkin tak banyak yang tahu tari piring sebenarnya dilahirkan di Kawasan Solok.

Di babak berikutnya, dua uda pendekar berpakaian hitam memasuki arena pentas. Dengan sorot mata yang tajam, mereka memeragakan gerakan-gerakan yang energik. Minang adalah sentra silat yang disegani. Jurus-jurusnya menawan sekaligus mematikan. Khusus Solok Selatan, alirannya dinamai Silek Luncua, sebuah disiplin yang mengombinasikan kesabaran dan refleks. Kata warga, sejumlah artis laga dan turis asing pernah datang guna mempelajarinya.

Seorang pria lokal menggembala kerbau-kerbaunya di sebuah sungai di Solok Selatan.

Solok Selatan bersemayam di kaki Sumatera Barat. Untuk menjangkaunya, saya berkendara selama tujuh jam dari Padang, melalui tepian Danau Diateh dan Danau Dibawah yang cantik, juga melewati kampung-kampung guyub yang terserak di lembah subur. Pemandangannya menyerupai lukisan-lukisan Mooi Indie.

Muara Labuh, pusat kebudayaan Solok Selatan, merupakan basis ekspedisi saya selama di sini. Tempat ini menampung salah satu perumahan paling menakjubkan di Indonesia: Saribu Rumah Gadang. Kompleks yang berlokasi di Nagari Koto Baru ini menampung sekitar rumah gadang yang tersebar dalam kawasan asri seluas 10 kali lapangan bola. Atap-atapnya menjulang lancip seperti tanduk kerbau.

Kiri-kanan: Seorang mamak penabuh talempong; atap-atap rumah di kompleks Saribu Rumah Gadang.

Tak semua desa bisa membangun rumah gadang. Privilese ini hanya dipegang oleh desa yang berstatus nagari. Rumah gadang juga memiliki desain yang beragam, misalnya rumah tipe Gajah Maram, Bodi Chaniago, Koto Piliang, serta Surambi Aceh. Tiap bangunan dirangkai dari kayu jua yang tersohor akan kekuatannya. Interior rumah tak kalah menakjubkan. Singgah di Rumah Ibu Upik, saya menyaksikan pahatan dan ukiran yang melapisi hampir sekujur dinding, bersanding dengan beragam perkakas. Bagian yang paling mentereng ialah kamar yang ditaburi dekorasi pernikahan khas Minang.

Interior salah satu homestay di kawasan Saribu Rumah Gadang.

Seiring tumbuhnya pariwisata, sejumlah rumah gadang, termasuk Rumah Ibu Upik, telah difungsikan sebagai homestay. Solok Selatan memang mulai terpetakan dalam radar wisata. Oktober tahun lalu, ia tercantum dalam Etape V ajang balap sepeda Tour De Singkarak. Seperti saya, sebagian atlet itu mungkin terpikat oleh keindahan budaya tempat ini.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2018 (“Rahasia Minang”).

Comments