Dubai dari Atas Panggung

Menyajikan kombinasi pertunjukan artistik, visual kreatif, dan teknologi mutakhir yang disutradarai oleh Franco Dragone.

DestinAsian Indonesia
Panggung mewah La Perle.

Oleh Yohanes Sandy

Dalam tiga dekade terakhir, dunia seni pertunjukan tak bisa dipisahkan dari sosok Franco Dragone. Dari 1985-1998, pria Italia inilah yang menyutradarai nyaris semua pentas grup sirkus Cirque du Soleil. Di bawah bendera perusahaannya, Dragone, Franco juga meracik beragam pertunjukan spektakuler di Paris, Makau, dan Las Vegas, termasuk konser A New Day… yang dibintangi oleh Celine Dion.

September silam, Dragone membesut proyek terbarunya, La Perle (laperle.com). Resident show pertama di Dubai ini bermarkas di sebuah studio seluas 860 meter persegi yang berlokasi di Al Habtoor City, kompleks elite yang juga dihuni oleh hotel W dan St. Regis. Interior studionya menampung 14 baris kursi yang ditata berundak dengan kapasitas total 1.300 orang. Ada empat kelas yang bisa dipilih penonton, yakni VIP, Gold, Silver, dan Bronze.

Sebagaimana pentas Cirque du Soleil, panggung La Perle dipusatkan di tengah studio. Di tengah panggung itu terdapat sebuah kolam yang menjadi focal point dari pertunjukan. Sekitar 2,7 juta liter air digunakan dalam beragam babak La Perle, termasuk untuk membanjiri panggung dan menciptakan air terjun kembar. Ajaibnya, air surut dalam hitungan detik saat latar berganti.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Pentas kolosal La Perle yang mengangkat tema Dubai sebelum minyak ditemukan; aksi akrobat yang mengundang decak kagum penonton. (Foto: Yohanes Sandy)

La Perle menceritakan (dan menafsirkan) kehidupan di Dubai saat kota padang pasir ini menjadi produsen mutiara dan minyak belum ditemukan. Kisahnya memang dipetik dari masa lalu, tapi presentasinya memakai teknologi masa kini. Adegan dibuka dengan para penari yang bergelantungan dengan tubuh terikat tali baja. Selanjutnya, seorang aktor melakukan lompat indah dari ketinggian sekitar 30 meter lalu menghunjam ke kolam. Di babak lainnya hadir atraksi “tong setan” yang melibatkan lima pengendara sepeda motor. Semua suguhan La Perle terasa lebih dramatis dan bombastis berkat sistem audio, permainan laser, serta video mapping yang canggih.

Pentas berdurasi 90 menit ini melibatkan 65 artis dari 23 negara. Tiap latar digarap serius. Tiap akrobat dikemas matang. Agar penonton tak terus-menerus tegang, beberapa aksi dagelan yang humoris diselipkan di tengah adegan. Sebagai hiburan, La Perle terbilang sukses. Tapi sebagai teater, pentas ini memiliki kelemahan: banyak adegan terlepas dari inti cerita. Dalam banyak hal, La Perle memang lebih mirip pentas kolosal di kapal pesiar di mana aksi lebih utama ketimbang narasi. Tapi setidaknya ia jauh dari kesan membosankan. Terlebih, menurut pihak pengelola, skenario dan akrobatnya akan diperbarui secara ajek agar penonton punya alasan untuk datang kembali.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2018 (“Good To Go: Dubai Versi Dragone”).

Comments