38 Tempat Makan Pilihan Tokoh Kuliner

Dapur Noma, restoran nomor satu di dunia.
Interior Sat Bains dengan atap kaca.

Tiga puluh delapan tempat makan pilihan empat tokoh kuliner internasional: Donna Hay, Ishai Golan, Jane Hughes, & Matt Preston.

Wawancara oleh Cristian Rahadiansyah dan Reza Idris.

Tempat inspiratif bagi penulis kuliner?
Oleh Donna Hay

Pemimpin Umum Donna Hay Magazine dan penulis 23 buku masak, antara lain Fast, Fresh, Simple yang terjual 200.000 eksemplar, serta Fresh and Light yang terjual 150.000 eksemplar. Donna tinggal di Australia dan memiliki dua putra.

Bondi Markets, Sydney—Lokasinya di dekat pantai ikonis Sydney dan barang dagangannya unik. Dua alasan itulah yang membuat saya mencintai Bondi Markets (bondimarkets.com.au), pasar yang menjual produk-produk lokal. Saya biasanya mampir pada Sabtu pagi untuk berbelanja roti, susu almon homemade, dan kopi super sedap racikan barista. Di sini, kita juga bisa menemukan beberapa produk yang tergolong langka, contohnya bunga camomile dan daun lemon balm.

Gelato warna-warni yang menggugah selera.

Gelato Messina, Sydney—Saya tipe yang menggilai es krim dalam segala variannya: gelato, sorbet, dan granita. Gelato Messina (gelatomessina.com) adalah pembuat gelato artisan yang inovatif dan berani bereksplorasi. Selain menyajikan aneka rasa klasik, mereka menawarkan menu-menu spesial yang selalu tertera di papan tulis, contohnya gelato black forest, gelato pia pecan, atau yang lebih eksperimental, Kevin Bacon (maple dan gelato wiski dengan bacon manis).

Hong Kong—Saya melakukan trip bisnis ke Hong Kong dua kali per tahun. Saat berada di sana dalam waktu singkat, saya selalu melakoni dua pengalaman kuliner yang kontras: melahap makanan Kanton yang elegan dan berkelas (saya selalu singgah di Man Wah, Mandarin Oriental [mandarinoriental.com/hongkong], untuk membeli dim sum), atau memasuki tea house dan melebur dalam sesi santap khas lokal.

Macaroon Pierre Herme selalu menjadi incaran turis.

Paris, Prancis—Semua orang tentu mafhum, Paris menjanjikan restoran yang berkesan, tapi yang paling saya sukai darinya justru hal-hal yang sederhana. Misalnya membeli baguette di Poilâne (poilane.com), keju dari pasar produk lokal, sampanye di Le Bon Marché (lebonmarche.com), lalu membawa semuanya untuk piknik di Luxembourg Gardens (museeduluxembourg.fr). Khusus musim panas, kunjungan tidak sempurna tanpa mencicipi macaroon markisa buatan Pierre Hermé (pierreherme.com). Surga!

Interior toko roti milik Dominique Ansel yang tersohor.

New York City, Amerika Serikat—Fakta paling menyenangkan tentang NYC adalah, kota ini melahirkan banyak ide kreatif dan kerap menciptakan tren. Cronut (croissant-doughnut) kreasi Dominique Ansel (dominiqueansel.com) adalah contohnya. Ada banyak tren dari NYC yang menular ke Sydney, sebut saja cupcake, cronut, dan sandwich Reuben.

Hotdogs dari Bubbledogs.

London, Inggris—Satu hal yang membuat London sekarang kembali memikat adalah bergeliatnya kembali bar-bar dan kehidupan malam. Tempat favorit saya adalah Punch Room (edition-hotels.marriott.com/london) yang menawarkan menu minuman kreatif; serta Bubbledogs (bubbledogs.co.uk) yang menyuguhkan hot dog sebagai menu utama dan memberi interpretasi menyenangkan atas champagne bar.

Sajian iga sapi di Chiltern Firehouse.

Restoran Kasual & Gaduh—Ketika hendak makan di luar rumah, saya cenderung memilih tempat yang kasual, gaduh, dan bernyawa. Sebuah tempat di mana makanan disantap bersama-sama. Salah satu favorit terbaru saya di Sydney adalah Restaurant Nomad (restaurantnomad.com.au), tempat yang menganut konsep share food serta meracik sendiri beberapa produk keju dan smallgoods (istilah Australia untuk daging porsi kecil seperti sosis dan bacon). Tempat ini juga memiliki atmosfer meriah yang autentik. Atas alasan yang sama, di London, saya menyukai Chiltern Firehouse (chilternfirehouse.com), wadah yang semarak dan menghibur.

Comments