DESTINASI UNTUK PENGGEMAR MAKANAN JALANAN 
Rekomendasi Ishai Golan, pembaca acara Street Food Around the World dan Top Tables, Top Cities. Pria asal Israel ini juga seorang aktor bagi beberapa serial dan film, di antaranya The Slut, Rashevski’s Tango, Mindbender, dan Last Patrol.

Seoul, Korea Selatan—Seoul benar-benar mengagumkan. Kota yang impresif—sangat resik, canggih, modern, dan teratur. Kendati demikian, kota ini masih setia melestarikan tradisi leluhur, terutama dalam bidang kuliner. Makanan jalanannya kaya dan beragam. Dari kue keju untuk sarapan hingga beragam kimchi (acar sayur), Seoul bagaikan surga bagi lidah saya! Favorit saya hingga kini adalah “king’s dessert” yang biasa dijuluki “dragon beard candy.” Resepnya diwariskan turun-temurun selama ribuan tahun. Menu pencuci mulut ini saja cukup sebagai alasan berkunjung ke Seoul.

Mexico City, Amerika Serikat—Kotanya ramai dan kulinernya sulit dilupakan. Ada lebih dari setengah juta gerai makanan jalanan. Artinya, kita tak akan pernah kekurangan pilihan. Satu fakta unik yang saya temukan di sini, jagung merupakan bahan dasar bagi begitu banyak makanan, mulai dari tamale, taco, dan tortilla. Favorit saya adalah ayam dengan mole sauce. Saus ini dibuat dari cokelat, tomat, kayu manis, wijen, dan cabai. Kombinasi yang aneh, tapi berhasil membuat lidah saya berdansa. Selama di sini, saya mengajak mulut meninggalkan zona nyaman (walau hasilnya tak selalu menyenangkan) dengan menyantap taco larva kupu-kupu! Kota ini layak disambangi oleh mereka yang mengaku penggila makan.

Chelsea Market selalu ramai setiap hari.

New York City, Amerika Serikat—Makanan jalanan di NYC menganut filosofi “American dream.” Tak ada yang tak mungkin! Salah satu elemen menarik dari lanskap kulinernya adalah truk makanan. Dari piza hingga schnitzel, truk makanan menjual segalanya, bahkan menu bergaya “gourmet.” Satu yang penting dicatat, donut tidak didedikasikan bagi polisi semata. Semua orang yang sibuk menyukainya. Untuk benar-benar menyelami kota ini, Anda harus mencicipi bagel dan cheesecake. Saya sudah mencoba 39 rasa berbeda dan masih ingin mencobanya lagi dan lagi! Fakta menarik lainnya, kendati makanan jalanan NYC sangat kaya varian, saat mengeksplorasi Chelsea Market (chelseamarket.com), kita bisa menemukan makanan lezat yang juga sehat (walau saya tak yakin cokelat yang dibalut bacon tergolong sehat).

Lima, Peru—Selain panorama yang molek dan menu yang atraktif, Lima menyuguhkan makanan jalanan yang layak diapresiasi. Kata orang, sarapan adalah ritual terpenting, dan makanan jalanan Lima mengakui premis tersebut lewat menu pan con chicharron, kombinasi gurih antara daging babi rebus, ubi jalar, dan taburan bawang pedas. Selagi di sini, saya berulang kali menyantap plantain—sepupu pisang, tapi lebih lezat. Lima juga menawarkan ceviche terlezat yang pernah saya rasakan. Saya menyantapnya bersama antioksidan yang menyegarkan, soda jagung biru. Saya juga terkesan dengan cuy, lazim dikenal dengan nama guinea pig. Dulu saya menganggap guinea pig hewan peliharaan, tapi ternyata dagingnya lezat dan berkhasiat bagi kesehatan.

Kiri-kanan: Vleminckx, Amsterdam; kentang goreng dengan beragam pilihan saus yang menjadi favorit para turis di Amsterdam.

Amsterdam, Belanda—Berada di kota yang dijuluki “kota sepeda,” salah satu highlight perjalanan saya adalah berburu makanan dengan menaiki sepeda. Usai kunjungan ke Amsterdam, saya tak bisa memahami mengapa kentang goreng disebut French fries, padahal kreasi terlezatnya justru bisa ditemukan di sini. Saya mengantre di depan kios legendaris Vleminckx de Sausmeester (vleminckxdesausmeester.nl) selama setengah jam demi mencicipi “Dutch fries.” Magnet lain Amsterdam adalah vending machine khusus fresh food! Saya tak pernah melihatnya di tempat lain. Mesin ini begitu mengutamakan kesegaran sampai-sampai setiap makanan yang tidak laku dalam 15-20 menit, pasti akan diperbarui.

Bangkok, Thailand—Jika Anda hendak menguji batas selera, Bangkok adalah tempatnya. Makanannya luar biasa pedas! Menu berbumbu tajam adalah bagian integral dari kuliner lokal, sampai-sampai warga menggelar kompetisi untuk mengetes daya tahan terhadap rasa pedas. Warga Thailand memiliki enam sesi makan per hari, jadi saya mempersiapkan diri untuk mengikuti mereka. Untuk camilan, saya mengunyah belalang dan cacing sutra renyah—yang dilapisi kecap pedas! Rasanya tidak seburuk yang saya bayangkan. Tentu saja, wajib hukumnya mencicipi pad Thai, mi yang mengombinasikan secara sempurna rasa gurih dan manis.

Sicily, Italia—Dikenal sebagai ibu kota makanan jalanan Eropa, Sicily adalah tempat untuk mencicipi begitu banyak makanan sedap. Kopi merupakan elemen penting harian, dan kopi Sicily adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya seruput. Keju di sini dibuat dari susu domba lokal, jadi Anda wajib mencoba menu-menu yang memakai keju, salah satunya arancini (bola beras dengan keju, yang ukurannya bisa menyamai kepala). Satu hidangan yang mengejutkan adalah frittula, gorengan bagian tubuh sapi yang tersisa dari rumah jagal. Menu yang kaya rasa ini awalnya dikenal sebagai makanan orang miskin. Sicily bukan cuma sentra makanan jalanan favorit saya, tapi juga kota yang membuat saya merasa di rumah sendiri.