Karya bertajuk Air Mata Dali kreasi sineas Garin Nugroho.

Artis kawakan tampil konsisten dengan pendekatan khas yang membesarkan nama mereka. FX Harsono misalnya, mengkritisi praktik diskriminasi terhadap ras Tionghoa di Indonesia melalui puluhan foto sepia dan kartu imigrasi kusam. Contoh lainnya adalah Pintor Sirait yang memajang mobil Formula 1 andalannya—instalasi yang sebenarnya sudah dipajang di sebuah lobi hotel di Kuta, walau dalam posisi berbeda.

Kejutan menggugah justru datang dari nama-nama “minor.” Sebut saja Dhanank Pambayun lewat instalasi evokatif berbentuk ornamen dinding yang menyerupai kriya gotik: kombinasi kubah-kubah masjid, komponen mesin, wajah yang terbungkam taring, serta sepasang tangan yang berusaha menjebol rongga dan menggapai cahaya. Dalam anotasinya, sang perupa mengutip kata-kata sufi Rabi’ah Al Adawiyah: “Cintaku pada Tuhan tak menyisakan kebencian untuk setan.”

Karya yang juga menggigit datang dari Abdi Setiawan yang secara cerdik menerjemahkan aliran Mooi Indie ke dalam seni patung. Perupa asal Yogyakarta ini menyulap sebuah meja dan kursi menjadi kanvas bagi lukisan alam Hindia Timur yang molek, tapi kali ini dalam wujud tiga dimensi. Arya Pandjalu, walau wacana yang diusungnya kurang menukik, berhasil menyentuh batin kita berkat presentasinya yang sentimental: sebuah ruang gelap berisi figur yang telaten menanti tumbuhnya tanaman dari permukaan meja kayu. Karya ini terasa eksplosif justru karena komposisinya yang simpel namun emosional.

Kiri-kanan: Dian Sastrowardoyo, salah satu selebriti yang hadir di malam pembukaan ArtJog 2016; sumbu Kosmik Memori, instalasi karya Angki Purbandono yang menampilkan kolase foto dalam bentuk poros cahaya.

Sejumlah perupa senior lain berikhtiar mengeksplorasi gejala mutakhir. Merekalah yang berjasa memastikan ArtJog senantiasa terasa aktual. Lihat misalnya Indieguerillas yang mencermati bagaimana percepatan informasi memicu pendangkalan dalam proses mencerna. Karya lain yang membekas di kategori ini adalah How Low Can You Go dari Mella Jaarsma. Karya enigmatik ini melibatkan enam orang berjubah putih yang secara perlahan memutar katrol yang terkait ke totem-totem kayu—sebentuk keprihatinan Mella akan tergerusnya nilai-nilai adat dan mitologi lokal oleh lembaga-lembaga agama. Dipajang persis di balik pintu masuk, How Low Can You Go bagaikan sepiring menu pembuka dengan racikan bumbu yang tajam.

Berbeda dari tahun lalu, seni kinetik terbilang minim, begitu pula instalasi yang melibatkan partisipasi pengunjung. Satu karya yang sukses menawarkan “hiburan” dihadirkan oleh seniman masyhur Heri Dono dalam wujud sebuah gerbong kereta kuda yang digerakkan oleh mesin. Cukup menginjak pedal, pengunjung bisa melihat sepasang bidadari bergerak-gerak di dalam gerbong.

Karya seni buatan Eko Nugroho yang menggabungkan 41 gambar.

Heri Dono beriktikad menerjemahkan lebih ketat tema utama ArtJog, yakni proses saling memengaruhi antara seni dan peradaban. “Mesin memakai satuan tenaga kuda,” ujarnya, “dan kali ini saya menampilkan andong yang digerakkan mesin.” Teronggok di sisi belakang Jogja National Museum, instalasi Heri Dono bagaikan menu pencuci mulut yang renyah bagi pengunjung ArtJog.

ArtJog bergulir dari 27 Mei-27 Juni 2016 di Jogja National Museum, Jl. Prof. Ki AmriYahya No. 1, Wirobrajan, Yogyakarta. Selain bursa seni, terdapat program Curatorial Tour (4, 10, 17, 25 Juni) dan Meet the Artists (3, 11, 18, 24 Juni). Informasi lebih lanjut, klik artjog.co.id.