Lorong bergaya Moor di dekat area penerimaan tamu. (Gaun dan jaket oleh IKAT Indonesia by Didiet Maulana, kalung oleh Aidan and Ice)

Oleh Natasha Dragun
Foto oleh Panji Indra
Penata gaya Peter Zewet

Properti perdana dalam keluarga Ritz-Carlton Reserve, Phulay Bay menyuntikkan efek dramatis berdosis besar ke pesisir selatan Thailand ketika resor ini diresmikan pada 2009. Tahun ini, setelah lebih dari satu dekade beroperasi, kompleks mewah di tepi perairan tenang bertaburkan bukit karst ini ternyata belum lelah memukau pancaindra.

Phulay Bay bersemayam di Teluk Phang Nga, menatap perairan Laut Andaman, dan berjarak sekitar 45 menit dari Bandara Krabi. Ketika merancang konsep resor ini, ‘Lek’ Mathar Bunnag, arsitek ternama yang berbasis di Bangkok, memetik inspirasinya dari warisan budaya komunitas Muslim di sekitar Teluk Phang Nga, kemudian memadukannya dengan ornamen tradisional Thailand, termasuk kriya kerajaan Lanna dari utara negeri, ditambah beberapa sentuhan impor seperti lampu gantung dan warna-warna solid bergaya Moor.

Kiri-kanan: Kamar mandi di Royal Andaman Sea Villa. (Gaun dan sepatu oleh Fendi); salah satu area komunal di Phulay Bay, resor yang diresmikan pada 2009. (Gaun dan jaket oleh Tangan, anting oleh Aidan and Ice)

Visual magis tersaji berlimpah di resor rancak ini, mulai dari dinding-dinding ungu yang mengelilingi lobinya, hingga kompleks labirin kanal yang berpendar romantis diterangi 2.000 lilin saban malam. Di sekitar kolam renang utama, pohon-pohon Kamboja mengharumkan udara, sementara kain muslin membalut barisan kabana.

Kiri-kanan: Ornamen geometris pada dinding resor. (Gaun oleh Ted Baker, perhiasan oleh Alenka & Margo); kolam renang di tepi Teluk Phang Nga yang ditaburi bukit karst. (Syal oleh Hermes)

Phulay Bay menaungi 54 unit paviliun dan vila yang disebar di taman rimbun, diselipkan di antara pohon palem yang semampai, beringin yang berjanggut lebat, serta bugenvil yang menawan. Keindahan latar itu diimbangi oleh permainan desain yang atraktif. Interior vila dipercantik oleh linen putih dan granit krem, dihuni matras ultra-megah berukuran 2×4 meter, serta dilengkapi bak berendam teraso yang dicetak anggun menyerupai bunga Kamboja. Tiap vila juga terkoneksi ke taman beralas kerikil yang dibelah kolam renang mini.

Kiri-kanan: Eksplorasi warna dan bentuk kreasi arsitek ‘Lek’ Mathar Bunnag. (Gaun dan sepatu oleh Fendi); permainan desain bergaya candi. (Gaun oleh Tangan, perhiasan oleh Aidan and Ice)

Baca juga: 10 Hotel Legendaris di Asia; 20 Hotel Untuk Liburan Romantis di Asia & Australia

Hari-hari di sini bisa dilewati dengan mengayuh kayak menembus hutan bakau, menaiki perahu panjang menuju Pulau Hong, atau menjajal kelas seni bela diri Muay Thai. Jika semua itu terdengar melelahkan, tamu bisa memanjakan diri di ruang spa yang dirakit dari bambu dan kaca, di tepi hutan tropis yang dibalut ketenangan.

Area bersantai di Royal Andaman Sea Villa. (Gaun oleh Sapto Djojokartiko, perhiasan oleh Alenka & Margo)

Suaka retret ini menaungi lima restoran dan bar. Chomtawan menawarkan aneka koktail kreatif untuk melewati senja, cocok sebagai pemanasan sebelum melahap masakan laut di restoran Lae Lay atau menikmati jamuan tradisional Thailand di Sri Trang. Tamu juga bisa merancang pengalaman kulinernya sendiri dengan memesan sesi makan malam privat di bawah taburan bintang, atau di paviliun romantis yang diterangi lilin dengan hiburan Mo live music oleh musisi lokal.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2020 (“Visual Teatrikal”)