Lukisan rusa dan cap tangan di Gua Sumpang Bita.

Teks dan foto oleh Fadil Aziz

Namanya berarti “sungai putih,” tapi airnya berwarna kehitaman. Menyusuri Sungai Pute, perahu saya merayap pelan, bermanuver zigzag di antara bebatuan, berusaha menjangkau sebuah lembah yang sedang dipergunjingkan dunia. Di tepian sungai, nipah tumbuh rapat. Di belakangnya, dinding- dinding karst menjulang bagaikan benteng yang mengubur horizon. Burung-burung melesat di atas perahu. Lonceng di leher sapi berdentang. Saya seperti dikepung alam molek yang terpampang di lukisan Mooi Indie.

Tapi alam molek ini menyimpan banyak misteri. Sejumlah gua karst di sini dihiasi lukisan-lukisan purba yang memicu banyak pertanyaan. Banyak peneliti berdatangan untuk menjawabnya. Tapi sudah 100 tahun berlalu sejak gua kali pertama dikaji, tak semuanya berhasil terjawab.

Setelah 40 menit, perahu saya memasuki hulu sungai yang teduh, kemudian merapat ke sebuah dermaga kecil. Mesin perahu dipadamkan dan kesunyian pun mendekap. Saya tiba di Lembah Berua, sebuah mangkuk subur di kawasan karst Maros Pangkep yang membentang hingga 43 ribu hektare, bersaing dengan kawasan karst terluas di RRC.

Cap tangan para manusia prasejarah yang diperkirakan berusia lebih dari 50 ribu tahun.

Saya menemui Daeng Beta, tokoh masyarakat Berua. Dialah yang akan memandu saya memasuki gua. Keluarga Daeng telah menetap di sini selama empat generasi. Bersama sekitar 14 kepala keluarga lainnya, Daeng Beta menyandarkan hidup pada pertanian. Sawah-sawah mereka mengukir dasar lembah yang dikelilingi menara batu.

Di sebuah rumah panggung, Daeng menyuguhkan hidangan ikan-ikan lokal. Dalam suasana ramah yang cair, kami mulai berbincang tentang gua. Saya banyak bertanya menyimpan lukisan purba di Maros Pangkep. Aset sejarah ini punya nilai arkeologis yang penting. Itu sebabnya gua-gua di sini hendak dijadikan Situs Warisan Dunia. Tapi sudah lima tahun berlalu sejak proposal dilayangkan ke UNESCO, palu belum juga diketuk.

Kiri-kanan: Ada sekitar 100 gua yang menyimpan lukisan purba di Maros Pangkep; mulut Gua Petta Kere, salah satu gua di Maros Pangkep yang menyimpan lukisan purbakala.

Ekspedisi gua dimulai. Pertama-tama, saya memasuki Gua Pasaung yang sempat disebut Daeng sebagai miliknya. Usai melewati sawah yang kering dipanggang kemarau, saya mendarat di dalam perut Pasaung dan melihat sebuah cap tangan berwarna merah. Jari-jarinya lancip, tapi jumlahnya hanya tiga. Kata Kadir, petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, cap yang ganjil itu merupakan ungkapan duka cita akibat tewasnya anggota keluarga. Tapi ini hanya dugaan. Membaca makna di balik sebuah karya seni memang tak pernah mudah.

Gua kedua yang saya masuki berada sekitar 20 kilometer ke arah utara Berua. Namanya Sumpang Bita. Untuk menjangkaunya, saya mesti mendaki hampir 1.000 anak tangga. Pendakian yang setimpal. Usai melewati mulut gua setinggi 10 meter, lukisan-lukisan bercorak merah terlihat jelas. Ada lukisan rusa sedang meloncat. Di bagian bawah dan belakangnya, ada sejumlah cap tangan (hand stencil). Semua cap terlihat rapi. Bagian pergelangannya pun tampak. Mungkin cap ini tidak dibuat dengan menempelkan telapak ke dinding, melainkan dilukis, apalagi posisi dinding cukup tinggi dan permukaannya kasap.

Di panel berikutnya, ada lukisan perahu. Di sampingnya, lukisan babi rusa. Total terdapat 69 hand stencil, 11 lukisan babi, satu rusa, dan satu perahu. Saya seperti berada di Galeri Nasional dari zaman prasejarah. Menurut sejumlah peneliti, Wallace sempat menikmati keindahan gua-gua di Maros, tapi dia tidak melihat lukisan-lukisan di dalamnya.

Pemandangan Lembah Berua dengan bebatuan karst yang membentang hingga 43 ribu hektare.

Persinggahan saya berikutnya adalah Taman Prasejarah Leang-Leang, tak jauh dari obyek wisata Bantimurung tempat Wallace dulu mengumpulkan kupu-kupu. Di Gua Petta Kere, sejumlah lukisan lagi-lagi terpampang. Berbeda dari gua sebelumnya, lukisan di sini dibuat pada dinding yang rata.

Penemuan-penemuan di Maros Pangkep merombak banyak tesis lawas tentang “manusia modern” di masa lampau. Gairah pada seni ternyata fenomena budaya yang bukan cuma melanda kaum Neanderthal di Eropa, tapi juga melebar hingga ke Indonesia dan Australia melalui migrasi yang berlangsung sekitar 50 ribu tahun silam.

Dan seni lukis telapak itu ternyata masih berlanjut. “Tradisi orang Bugis yang setipe dengan hand stencil disebut mabbedda bola dan mappasilli. Tradisi tua yang tidak diketahui kapan pertama kali dilakukan. Tradisi mabbedda bola adalah tradisi mencap tangan pada tiang atau dinding rumah panggung,” tulis Muhammad Nur dalam Dari Hand Stencil ke Hand Print, Bukti Kontak Budaya Toala dengan Leluhur Orang Bugis.

Maros Pangkep hanya bisa dijangkau menggunakan perahu.

Dari semua gua di Maros Pangkep, Timpuseng bersinar bak selebriti. Gua inilah yang diulas dalam jurnal Nature tahun lalu. Timpuseng menyimpan salah satu lukisan dan cap tangan tertua di dunia. Usai mengukur kadar radioaktif uranium pada lukisan, para peneliti dari Indonesia dan Australia berhasil mendapati umur minimum lukisan. Angkanya menggegerkan dunia: di atas 35 ribu tahun.

Lukisan babi di langit-langit gua berumur 35.400 tahun. Sementara sebuah cap telapak di sebelahnya berusia 39.900 tahun, berbeda tipis dari rekor 41 ribu tahun yang dipegang lukisan serupa di Spanyol. Berada di sini, saya seperti memasuki mesin waktu.

Oleh Journal Science, penemuan di Timpuseng ditempatkan dalam daftar 10 terobosan terpenting pada 2014. Fakta ini sekaligus menjadi amunisi baru untuk mendorong UNESCO meresmikan Maros Pangkep sebagai Situs Warisan Dunia. Kesimpulan baru para peneliti juga menggagalkan tesis Fritz dan Paul Sarasin. Pada awal abad ke-20, duet asal Swiss itu menjumpai Suku Toala yang hidup di gua-gua Maros.

Mereka diperkirakan hidup sejak 3.000-5.000 tahun silam, estimasi yang ditarik dari usia sampah dapur. Tapi metode kalkulasi waktu itu diaplikasikan pada materi organik, bukan dinding. Kini kita tahu, pembuang sampah dan pelukis gua adalah kaum yang berbeda.

Saya kembali ke Lembah Berua, kembali memasuki perkampungan yang ramah menyambut pendatang. Lukisan mana yang tertua sepertinya bukan pertanyaan terpenting di sini. Kemarau masih membakar sawah dan tanah. Rumah-rumah belum menikmati listrik. Berua, seperti gua-gua di sekitarnya, masih membeku dalam waktu.

PANDUAN
Rute
Penerbangan ke Makassar dilayani antara lain oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dan Batik Air (batikair.com). Berua berjarak 45 menit dari Makassar. Arahkan kendaraan ke Pangkep dengan menyusuri Jalan Lintas Sulawesi. Beberapa menit setelah Kota Maros, Anda akan melihat pabrik Semen Bosowa. Di dekatnya terdapat Sungai Pute yang akan mengantar Anda menuju Berua. Tarif perahu Rp250.000 pp. Jika hendak menyewa kendaraan, Berlian Rent a Car (0853-9789-1777) cukup bisa diandalkan.

Penginapan
Di Lembah Berua, Anda hanya bisa menginap di rumah warga, salah satunya rumah Daeng Beta (0823-4851-9743). Jika butuh pemandu tur ke gua prasejarah, hubungi Kadir (0813-4366-0531).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2015 (“Lorong Waktu”)