Di dermaga, sebuah kapal feri tua baru saja merapat dengan mengangkut beragam barang, mulai dari kulkas berlogo Coca-Cola, mebel, hingga penganan kemasan. Kami berjalan melewati barisan pria yang tengah membongkar muatan, juga ribuan udang jambon yang dijemur di atas seng.

Pariwisata tengah merekah, tapi perikanan masih menjadi sandaran hidup utama warga. Perahu-perahu ramping nelayan dicat pirus cerah, jambon, biru, serta merah. Haluannya dibubuhi pita dan karangan bunga yang berfungsi sebagai penolak bala. Sebagian perahu mengangkut tumpukan perangkap kepiting dan cumi-cumi. Sebagian yang lain membawa jala dan senar panjang guna menjerat kerapu, barakuda, serta makarel. Anak-anak bermain kucing-kucingan, melompat dari satu buritan ke buritan lain.

Kiri-kanan: Bar tepi kolam So Spirited mengandalkan es krim, cokelat, dan tentu saja panorama apik Koh Kood; Bangunan bambu The Den yang dirancang sebagai area bermain anak dan keluarga.

Di jam makan siang, semua orang duduk santai, menyeruput kopi, dan merokok. Sesekali, mereka berbincang perihal liga sepak bola di Koh Kood. “Lapangan bola terindah di dunia!” kata Kae bangga sembari menunjukkan sebidang lapangan pitak. Saya tak tega menanggapinya. Hanya ada satu ruas jalan beraspal. Kedua sisinya dibalut pepohonan, kadang diselingi kebun kelapa dan karet. Kata Kae, warga baru mengenal kendaraan bermotor sekitar 30 tahun silam. Sebelumnya, kakek-nenek Kae mengangkut kelapa hasil panen dengan berjalan kaki. Kae mengakui rindu pada masa-masa bebas emisi itu.

Mendarat di Eco House, tak ada orang lain kecuali si pemilik properti. Khun Wien merintis tempat ini 40 tahun silam. Kini, lahannya sesak. Ada pohon karet, nanas, kelapa, dan pisang. Ada kolam ikan dan rumah kaca. Ada pula beragam pot berisi tanaman rempah. Saat kami berbincang, sesekali kucing dan anjing peliharaannya menghampiri minta dibelai. Terlepas dari keluhan Kae tentang hadirnya kendaraan bermotor, Koh Kood berhasil memesona saya. Tak banyak pulau yang atraksi utamanya adalah mengobrol dengan petani sepuh.

Kami merangsek hutan lebih dalam, meniti jalan tanah berbatu, kemudian melihat dua pohon macca tua. Yang pertama berusia 300 tahun dan diberi nama Sai Yai. Yang kedua, Makayuk, 500 tahun. Keduanya diyakini menyimpan kekuatan magis. Penduduk pulau rutin datang untuk berdoa dan menghaturkan sesajen. Lilin, dupa, camilan, serta pakaian terselip di antara kaki-kaki pohon yang menghunjam gagah ke tanah. Selain suara langkah kami, hutan ini sepenuhnya membisu.

Di pagi terakhir, saya melompat ke perahu dan mengikuti tur snorkeling di Taman Nasional Laut Mu Ko Chang. Perahu berlabuh di perairan pulau berbatu Koh Rang, lalu kami membiarkan tubuh mengambang santai. Air sedikit keruh, tapi karang yang sehat berhasil memancarkan warnanya. Lalu lintas di laut disibukkan oleh gerombolan ikan yang berkelebat ke segala penjuru—satu-satunya keramaian yang saya temukan dalam trip ini.

Dalam perjalanan kembali ke resor, saya berbincang dengan pasangan asal Polandia. “Saya sepertinya tenggelam dalam filosofi slow life tempat ini,” ujar sang suami, yang memilih bersantai di perahu ketimbang snorkeling. “Tahukah kamu, kita menghabiskan 90 persen waktu kita dengan bergerak cepat, sehingga kita bisa membiayai 10 persen sisa waktu kita dengan bergerak lambat.”

Kata-kata itu masih terngiang saat saya menutup trip dengan menikmati tiga cedok es krim. Hemat saya, surga disebut surga karena ia bukanlah bagian dari keseharian hidup. Yang membuat Koh Kood berkesan adalah adanya upaya serius untuk memastikan tempat ini terus menjadi surga di sela-sela hidup kita.

Melakoni atraksi flying fox untuk menjangkau Treepod, area makan berbentuk rumah pohon.

Friday datang membuyarkan lamunan saya dan mengingatkan waktunya pulang. Melirik mangkuk es krim saya yang hampir kering, dia tertawa. “Jika mencoba 15 rasa per hari, Anda akan bisa mencicipi semua pilihan rasa yang tersedia!” ujarnya. Saran yang berguna, tapi sepertinya hanya akan mengingkari filosofi slow life tempat ini. Saya memakai sepatu, memajukan jarum arloji sejam, bersiap-siap kembali ke zona “fast life” Jakarta.

Rute
Jika memesan kamar di Soneva Kiri, Anda akan diterbangkan menaiki pesawat privat dari Bandara Don Mueang di Bangkok. Usai terbang selama 90 menit, tamu akan menaiki speedboat selama 10 menit dari landasan udara di pulau tetangga menuju Koh Kood. Opsi lain ke Koh Kood adalah naik kapal feri dari Dermaga Laem Sok di Trat, kota terdekat di daratan utama Thailand.

Penginapan
Meski berkomitmen untuk melestarikan lingkungan, Soneva Kiri (66-82/208-8888; soneva.com; doubles mulai dari Rp12.500.000) tak lantas mengorbankan kemewahan. Properti ini mengoleksi 36 vila berisi satu hingga enam kamar yang menatap pantai lapang. Opsi penginapan lain, Away KohKood (66-8/7136-4036; awayresorts.com; doubles mulai dari Rp4.000.000), bersemayam di Klong Chao Bay serta menyuguhkan sejumlah bungalo dan ruang spa.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015.