Solusi Ramah Lingkungan Bandara di Dunia

Lewat beragam inisiatif, banyak bandara menyunat emisi karbon, tapi hanya sebagian yang terakreditasi hasilnya.

Changi menanam lebih dari 2.000 pohon di kompleks Jewel demi mengompensasi emisi sekaligus meningkatkan sumber oksigen natural.

Oleh Yohanes Sandy

Industri aviasi masuk daftar 10 penyumbang emisi terbesar, dan tanggung jawab untuk mengatasinya tak berada hanya di pundak maskapai, tapi juga bandara. Di beberapa kota, kesadaran itu mendorong lahirnya inisiatif untuk menjadikan bandara lebih ramah lingkungan.

Di Massachusetts misalnya, Bandara Boston Logan menggelontorkan $6,3 juta dolar untuk meremajakan salah satu landasannya dengan aspal khusus yang diklaim sanggup menghemat sekitar 2.000 ton emisi karbon. Di Zurich, operator bandara memasang panel surya sebagai pemasok energi untuk menghangatkan atau mendinginkan terminal.

Selain memodifikasi fasilitas lama, sejumlah bandara menerapkan kebijakan “hijau” pada fasilitas baru. Di Singapura, Changi menanam lebih dari 2.000 pohon di kompleks Jewel demi mengompensasi emisi sekaligus meningkatkan sumber oksigen natural. Di Banyuwangi, langkah yang diambil lebih fundamental: mengganti terminal lama dengan terminal yang lebih hemat energi. Digarap oleh arsitek kondang Andra Matin, terminal berkonsep semi-terbuka ini secara signifikan mereduksi ketergantungan pada AC dan lampu.

Contoh-contoh itu meniupkan angin segar dalam upaya mengatasi pemanasan global. Pertanyaannya kemudian, bagaimana mengukur efektivitasnya? Banyak bandara mengumumkan jumlah emisi yang berhasil dikurangi, tapi adakah lembaga kredibel yang bisa memverifikasi kebenaran klaim mereka?Di sinilah akreditasi menjadi penting, contohnya Airport Carbon Accreditation (ACI).

Baca juga: PriestmanGoode Hadirkan Perangkat Makan Pesawat Ramah Lingkungan; 5 Maskapai Paling Ramah Lingkungan

Sejak 2009, ACI diterapkan untuk mengukur manajemen karbon melalui empat tahap berjenjang, mulai dari pemetaan sumber emisi hingga solusi untuk mengatasinya. Emisi dihitung dengan merujuk pada ISO 14064 (Greenhouse Gas Accounting) dan prosesnya diawasi oleh lebih dari 100 peninjau independen. Awalnya fokus di Eropa, program ini dilebarkan ke Asia Pasifik, Afrika, serta Amerika Utara dan Selatan. Hingga Agustus 2019, ACI telah memberikan sertifikat level tertinggi Carbon Neutrality kepada 53 bandara, contohnya Bandara Indira Gandhi, Queen Alia, serta London Gatwick. Tak ada wakil Indonesia dalam daftar elite itu, belum tentu karena di sini tak ada bandara hemat emisi, tapi karena memang belum ada yang mendaftar ke ACI.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Bandara Bijak”)

Tags : Bandara
Comments