Interview

Ring of Fire Setelah 30 Tahun

“Lawrence Blair: Indonesia masih memikat untuk dijelajahi.”

Wawancara oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Johannes P. Christo

”Saya masih senang mempelajari sisi-sisi orisinal Indonesia,” ujar Lawrence Blair, “terutama dari Bali ke arah timur negeri.” Di usia senja, Lawrence memang tak banyak berubah. Pria kelahiran Inggris ini masih menekuni hobi yang melambungkan namanya: berkelana dan mengkaji.

Publik mengenalnya lewat Ring of Fire: An Indonesian Odyssey, buku dan serial film yang merekam petualangannya bersama adiknya, Lorne Blair (alm.), selama lebih dari dua dekade di Indonesia. Keduanya melawat banyak tempat, antara lain Krakatau, Bira, Toraja, serta Asmat di mana mereka menemukan pengakuan mencengangkan perihal kematian Michael Rockefeller, putra Gubernur New York Nelson Rockefeller.

Proyek Ring of Fire dimulai pada 1972 dengan dana bersumber antara lain dari BBC dan Ringo Starr, penabuh drum The Beatles. Buku Ring of Fire terbit pada 1988. Versi filmnya, yang terdiri dari lima episode, diluncurkan oleh PBS dan BBC juga pada 1988. Episode pertamanya, Spice Island Saga, menuturkan ekspedisi napak tilas Alfred Russel Wallace menaiki pinisi.

Memperingati 30 tahun Ring of Fire, saya menemui Lawrence pada 8 Maret di Bali. Dia datang menaiki sepeda dan kami bersua di tepi Legian, tak jauh dari rumahnya. Jari-jari waktu telah mengukir garis keriput di wajahnya. Rambutnya dibiarkan berantakan, membuatnya lebih mirip rocker gaek ketimbang seorang doktor di bidang antropologi. Sepanjang wawancara, Lawrence menjawab dalam bahasa Inggris yang diselingi bahasa Indonesia.

Dalam Ring of Fire, Anda mencatat banyak perubahan di Indonesia dibandingkan era Wallace. Apa yang Anda lihat sekarang?
Dalam konteks pinisi misalnya, Wallace berkelana menaiki pinisi tradisional, tanpa mesin. Dia bercerita tentang keindahannya dan aroma hutan dari kapal ini. Pada akhir 1970-an, Indonesia menerbitkan regulasi yang mengharuskan kapal layar dagang digerakkan oleh mesin. Dalam kurun lima tahun, pinisi yang cantik itu pun berubah. Penampilannya buruk karena tidak lagi memakai layar. Untungnya, menyadari nilai sejarah dan keindahan pinisi, sejumlah orang mulai membuat lagi pinisi versi orisinal. Sekarang terdapat 24 hingga 25 pinisi semacam ini di perairan Indonesia.

Pernah berjumpa kembali dengan orang-orang dalam ekspedisi Ring of Fire, misalnya Abu, sopir Anda di Toraja, atau kru kapal Sinar Surya di Bira?
Saya pernah memutar Spice Island Saga di Bira pada awal 1990-an. Dua tahun lalu, dalam ekspedisi National Geographic, saya ke Asmat. Kami menyusuri sungai ke arah hulu, lalu memutar film di sana. Banyak penonton masih mengenali kerabat mereka di dalam film. Satu-satunya yang belum saya temui kembali adalah warga Dayak Punan. Mereka hidup jauh di pedalaman Borneo. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Dulu kami amat dekat. Bisa dibilang, mereka dulu menyelamatkan nyawa kami.

Anda mendapati Michael Rockefeller dibunuh di Papua. Keluarga almarhum pernah menghubungi Anda?
Film pertama kami, yang dinaratori oleh David Attenborough, pernah diputar di Explorers Club New York. Kami mengundang keluarga Rockefeller menontonnya. Kembaran Michael, Mary, duduk di barisan belakang hadirin. Di akhir acara, dia menghampiri saya, lalu sambil menangis berkata, ‘saya pernah memimpikan kejadian itu, tapi semua orang, termasuk CIA, tidak percaya.’ Yang menarik, dua atau tiga tahun lalu terbit buku Savage Harvest. Penulisnya hanya menetap sejenak di Asmat, tapi dia menghabiskan banyak waktu menelusuri arsip tua di Belanda. Ada banyak informasi menarik di bukunya, termasuk hal-hal yang tidak diakui Belanda, salah satunya penembakan orang Asmat.

Penembakan yang berbuntut aksi balas dendam terhadap warga kulit putih, termasuk Michael?
Benar. Savage Harvest lebih meyakinkan dibandingkan Ring of Fire. Ini buku paling akademis untuk kasus Michael. Waktu itu kami hanyalah dua orang hippy yang nekat masuk hutan, setidaknya begitulah ucapan banyak orang dulu saat kami membeberkan temuan kami di Papua.

Kontribusi Ring of Fire bagi dunia pengetahuan?
Pertanyaan yang menarik… Apa ya?

Banyak orang mengatakan Ring of Fire telah membuka mata dunia terhadap Indonesia.
Indonesia belum tuntas dieksplorasi. Ada banyak kehidupan liar yang belum dikenal. Memang, banyak orang percaya Brasil memiliki spesies terbanyak dibandingkan negara mana pun, tapi ini kesimpulan yang sepertinya lahir dari pengaruh Amerika, sebab Indonesia lebih kaya. Ini negara kepulauan, dan proses evolusi kehidupan berlangsung secara terpisah di tiap pulau. Juga, jika Anda melihat ke bawah air, ada lebih banyak spesies dan variasi kehidupan di Indonesia ketimbang Brasil. Belum lagi jika kita bicara diversitas suku, walau saya melihat sekarang suku-suku di Indonesia mulai mengalami keseragaman.

Kiri-kanan: Buku Ring of Fire yang tersohor; di usia senja, petualang gaek ini masih hobi berkelana.

Maksudnya keseragaman?
Mereka kian melebur di bawah satu bendera, satu bahasa, dan akibatnya kian menjadi satu kebudayaan. Bagi saya, yang menarik justru perbedaan di antara mereka, keragamannya.

Tapi itu dilema di sebuah negara yang ingin merekatkan persatuan?
Memang. Pertanyaan besarnya, bagaimana mempertahankan yang partikular di sebuah negara yang bertekad menjaga persatuan? Tapi Indonesia tetaplah negara yang memikat untuk dijelajahi. Bahkan, 25 tahun dari sekarang, saya masih bisa membayangkan diri saya menggelar sejumlah eksplorasi di sini, dan saya bisa melakukannya dengan telepon genggam, tak perlu lagi repot membawa kamera besar dan generator.

Walau kian modern, Indonesia masih menantang untuk seorang antropolog?
Tentu saja. Saya kasih contoh: ada 18 suku di Papua Barat yang belum pernah berhubungan dengan dunia luar. Anda mungkin bertanya, jika belum pernah berhubungan, tahu dari mana tentang mereka? Ada sistem untuk menjawabnya. Anda bisa melacak ucapan dari satu orang ke sumber awal, lalu mencari sumber awalnya lagi, kemudian membuat semacam bagan penelusuran. Setelahnya, Anda akan mendapatkan kesimpulan apakah suku-suku itu benar-benar ada.

Anda sudah 36 tahun menetap di Bali. Kenapa tidak mudik?
Mungkin memang saya seharusnya mudik. Agaknya saya terlalu malas dan nyaman di sini, walau saya tak yakin ‘nyaman’ kata yang tepat, sebab hidup di sini sebenarnya cukup berat. Saya sering memberi kuliah, masih juga memproduksi film. Belum lama saya membuat Bali: Island of the Dogs. Tapi, ya itu tadi, hidup di Bali kian berat. Di sini ada banyak problem, mulai dari kemacetan, sampah, ongkos hidup yang kian mahal. Saya bahkan harus terus khawatir akan dideportasi jika tidak punya cukup uang saat diperiksa petugas imigrasi. Kamu tahu, tidak ada yang mau mengasuransikan saya. Dulu saya pernah punya asuransi. Tapi saat film saya diputar di Australia, seorang bos dari perusahaan asuransi saya berkata, ‘itu Blair yang ada di daftar klien kita? Keluarkan dia! Kita tidak bisa menanggung orang yang hidup penuh risiko dan tidak bertanggung jawab.’

Andaikan menggelar lagi ekspedisi jangka panjang di Indonesia, apa temanya?
Sejak lama saya ingin membuat serial. Ini proyek besar. Tapi kemudian saya bertemu teman lama, Richard Branson, saat dia berlibur di Bali. Dia tertarik berkolaborasi. Kami akan membuat serial berjudul Beneath the Ring of Fire. Tujuannya mengeksplorasi alam bawah laut Indonesia. Belum ada yang benar-benar melakukannya. Ini negara yang paling tektonis dan paling vulkanis di dunia. Di perut lautnya ada banyak gunung, dan di sana ada banyak kehidupan yang belum dikaji. Indonesia memiliki beberapa laut terdalam di dunia, misalnya Laut Banda, dan kita hanya tahu secuil tentangnya.

Richard Branson mengabaikan fakta Anda penuh risiko dan tidak bertanggung jawab?
Sepertinya dia juga tidak bertanggung jawab untuk dirinya sendiri.

Kapan kolaborasi dimulai?
Saya masih harus menanti dua tahun lagi. Anda mungkin tahu, Richard sedang menggarap Virgin Galactic. Dia yakin, dua tahun lagi, proyeknya sukses dan Virgin Galactic mengangkasa. Setelah itu, dia akan ke Indonesia. Laut Indonesia memegang peran vital. Temperatur laut di sini menentukan jadwal El Nino dan La Nina. Kita harus masuk ke laut untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.

Anda melihat, secara umum, Indonesia sebagai sebuah komunitas besar bergerak ke arah yang benar?
Saya harus hati-hati menjawabnya agar tidak terkesan terlalu negatif. Belum lama ini saya berkunjung ke pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan. Melihat tren penebangan hutan, mungkin 10 tahun lagi orangutan akan punah dari alam liar. Alasannya simpel: lebih banyak uang yang didapat dari menebang hutan ketimbang melestarikan orangutan. Di Indonesia, sulit berharap perubahan akan datang dari atas. Perubahan harus datang dari bawah jika ingin menyelamatkan alam.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Interview”).