Kiri-kanan: Satu dari ribuan mobil mewah yang mudah ditemui di Gangnam, distrik yang dijuluki Beverly Hills versi Korea; sudut atap Kuil Bongeunsa.

Selama di Gangnam, saya lebih sering bepergian menaiki bus atau kereta. Jaringan transportasi umum di sini mumpuni, dan panduannya mudah dipahami. Berkat Piala Dunia 2002, di mana Korea dan Jepang berbagi status tuan rumah, seluruh moda di Seoul menyediakan informasi berbahasa Inggris.

Merandai bulevar-bulevar utamanya, Gangnam terlihat metropolis, termasuk warganya. Saya ingat, banyak rekan yang melawat Seoul kecewa lantaran orang-orang yang mereka temui tak “seindah” di televisi. Saya menduga itu karena mereka tidak mampir ke Gangnam. Di sini, mayoritas orang tampil menawan dengan baju yang seperti baru dibeli tadi pagi, dengan rambut yang seolah baru keluar dari salon.

Daya tarik lain Gangnam adalah restorannya. Merujuk statistik, hampir semua restoran terbaik di Seoul bermukim di sini. Membaca Michelin Guides 2018, distrik ini menampung 14 dari total 23 restoran berbintang di Seoul. Membuka daftar Asia’s 50 Best Restaurants 2018, seluruh wakil Korea beralamat di sini.

Koleksi restoran itulah yang melambungkan pamor Gangnam sebagai destinasi baru untuk wisata kuliner fakta yang tak lepas dari lanskap sosialnya yang ramah menyambut inovasi. Dulu, skena fine dining Seoul dikuasai oleh restoran Eropa atau Jepang, yang umumnya terkonsentrasi di hotel-hotel mewah. Pada 2009, konstelasi itu mulai bergeser setelah koki prolifik Jungsik Yim melansir sebuah restoran di Gangnam. Membawa pengalaman bekerja di New York dan Spanyol, sang koki mendemonstrasikan kepada khalayak bahwa kimchi dan jangachi ternyata bisa dieksekusi memakai pendekatan molekuler. Oleh komunitas koki lokal, Jungsik Yim kemudian dinobatkan sebagai “bapak kuliner kontemporer Korea.” Dan sang bapak telah melahirkan banyak anak. Eksperimen dapurnya menular. Restorannya memicu banyak pengikut, mayoritas juga dikepalai oleh koki Korea dengan pengalaman bekerja di luar negeri generasi perantau yang dijuluki yuhaksaeng.

Kiri-kanan: Salah satu klinik bedah estetis di daerah Sinsa, pusat wisata medis di Gangnam; boneka raksasa yang menyambut pengunjung dan pasien di The Line Plastic Surgery Clinic.

Joo Ok, yang dibuka di Gangnam pada awal 2017, adalah salah satu restoran yang memetik manfaat dari terobosan Jungsik. Baru setahun beroperasi, restoran ini sukses menggondol satu bintang Michelin. Grup Girls’ Generation dan aktor kondang Bae Yong-joon adalah beberapa mantan kliennya. “Dulu, menu fusi atau kontemporer dipersepsi ngawur oleh publik,” jelas koki Joo Ok, Shin Chang-ho. “Tapi Jungsik telah membuka jalannya. Sekarang kondisinya lebih mudah bagi kami.”

“Kami membutuhkannya. Butuh lebih banyak,” tambah Jain Song, pakar kuliner dari O’ngo Food, tentang tren kuliner di Gangnam. Menurut Jain, pada awal 2000-an sebenarnya sempat muncul beberapa restoran fine dining dengan spesialisasi menu tradisional, tapi kemudian bangkrut satu per satu. “Publik susah menerima konsep masakan tradisional berharga mahal ketika mereka bisa dapat versi yang tak kalah autentik dengan harga lebih murah,” lanjut Jain. “Kuliner kontemporer jawabannya.”

Suatu pagi, saya membuka pagi dengan cara “hedonis” khas Gangnam Style: sarapan di puncak butik Dior. Tiba di pintunya, seorang pramutamu tampan dan jangkung (lagi-lagi dunia terasa tak adil) menyambut saya, lalu menjelaskan kursi yang paling ideal untuk berfoto. Saya memesan secangkir cappuccino. Di permukaannya terapung busa bertuliskan “Dior.” Harganya?  ₩20.000 (setara Rp250.000). Rasanya? Seperti cappuccino.

Seorang penganut Buddha berdoa di Kuil Bongeunsa.

Usai sarapan terminim dengan harga terboros itu, saya meniti K-Star Road, seutas jalan yang didedikasikan bagi penggemar K-pop. Trotoarnya dihiasi belasan Gangnamdol, patung beruang yang merepresentasikan bintang K-pop. Menyusuri jalan ini, saya singgah di SM Market, toko suvenir milik SM Entertainment, dan langsung tersadar betapa belantika hallyu sebenarnya lebih dari sekadar tembang dan goyang. Simak saja dagangan toko ini: kacang pilihan Exo, permen favorit Girls’ Generation, serta Perfect V Lifting Black Mask edisi Super Junior. Yang terakhir ini berfungsi meruncingkan dagu. Cocok untuk Thanos.

Melihat beragam tawarannya yang atraktif, barangkali sulit bagi kita untuk memahami mengapa Gangnam dibenci oleh banyak orang. Angkuh, materialistis, pelit, dan palsu adalah beberapa karakter orang Gangnam yang dilontarkan oleh hampir semua narasumber saya. Satu gambaran yang paling pedas saya dengar dari Hyunshin, seorang wanita yang setiap harinya melewati Gangnam Station menuju kantornya. “Saya tidak mau terdengar terlalu negatif,” ujarnya, “tapi Gangnam sebenarnya bukan Korea. Ada Korea. Dan ada Gangnam.”

Jika dirunut, sikap antipati itu mungkin punya akar sejarah. Pada 1990-an sempat muncul istilah orenji-jok yang ditujukan untuk anak-anak borjuis Gangnam yang sekolah di luar negeri, lalu mudik saat liburan musim panas untuk berpesta, memacu mobil mewah, kadang berulah. Orang tua mereka tak lepas dari sorotan. Mereka kerap dipandang sengit karena meraup banyak uang bukan dari kerja keras, melainkan spekulasi bisnis apartemen.

Kiri-kanan: Gochu twigim (cabai goreng tepung berisi daging) di Hanchu, kedai sederhana yang populer di kalangan warga lokal; Hyeongwoo Lee, pedagang busana di Garosugil.

Tentu saja, setiap stereotip cenderung pincang, dan setiap generalisasi gagal menangkap realitas dengan lengkap. Gangnam terbukti punya banyak orang miskin. Bukan cuma di kampung kumuh Guryong, tapi juga di jantung distrik. Saya, misalnya, sempat melihat seorang kakek tunanetra menyusuri gerbong kereta seraya mengemis pemandangan yang langka bahkan untuk standar Seoul sisi utara.

Soal akhlak orang Gangnam, menurut saya itu buah kelakuan “oknum.” Selama di sini, saya mendapati mayoritas warga cukup ramah. Setidaknya cuma sekali saya diusir saat bertanya info jalur kereta. Lagi pula, jika kita mau sejenak berempati, tabiat orang Gangnam mungkin sebuah keniscayaan manusiawi yang sulit ditekan. Coba bayangkan jika kita punya hidung seperti Natalie Portman, mengendarai Porsche, dan menetap di apartemen termahal di Seoul, maka sikap rendah hati tentu menjadi ekspektasi muluk yang sukar dipenuhi.

Panduan:

Rute
Penerbangan langsung ke Seoul dilayani oleh Asiana Airlines (flyasiana. com), Korean Air (koreanair.com), dan Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com). Gangnam terletak di kaki Seoul, terkoneksi oleh tujuh jembatan yang melintang di atas Sungai Han. Dari Bandara Incheon tersedia kereta Airport Railroad Express (arex.or.kr) dan Limousine Bus (airportlimousine.co.kr) menuju Gangnam dengan waktu tempuh sekitar 90 menit.

Navigasi
Di Korea, Google Map kurang bisa diandalkan untuk melacak lokasi atau petunjuk jalan. Sebaiknya unduh aplikasi Naver Map (m.naver.com) yang telah tersedia dalam versi bahasa Inggris. Bus atau kereta bawah tanah adalah moda utama untuk mengarungi Gangnam. Uber langka dan tidak populer di sini. Alternatifnya, gunakan Kakao Taxi (kakaocorp.com).

Informasi
Di Tourist Information Center (tour.gangnam.go.kr) tersedia informasi memadai seputar objek-objek wisata terpopuler, misalnya perpustakaan raksasa Starfield Library, Kuil Bongeunsa, jalur belanja trendi Garosugil, serta K-Star Road yang ditaburi patung Gangnamdol. Tapi ada beberapa tempat menarik yang luput dari brosur mereka, contohnya toserba “dekonstruktif” Pierrot Shopping; pujasera Gourmet 494; serta supermarket terlengkap untuk membeli bahan masak, SSG Food Market. Gangnam juga gudangnya restoran terbaik di Seoul. Opsinya antara lain Gaon, Jungsik, Joo Ok, dan Mingles. Untuk masakan tradisional, dua yang punya tawaran unik adalah Saebyukjib dengan menu andalan hangover soup; serta Hanchu yang menjajakan gochu chicken (ayam goreng dengan kulit berlapis irisan cabai). Jika membutuhkan pakar untuk memahami skena kuliner Gangnam, hubungi O’ngo Food Communications (ongofood.com).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Distrik Dwimuka”)