Kiri-kanan: Eodang Hanok, salah satu penginapan di Hanok Village; jembatan penyeberangan utama di Hanok Village, desa cagar budaya sekaligus episentrum pariwisata Jeonju.
Kiri-kanan: Eodang Hanok, salah satu penginapan di Hanok Village; jembatan penyeberangan utama di Hanok Village, desa cagar budaya sekaligus episentrum pariwisata Jeonju.

Menyusuri Hanok Village, masa lalu terasa bergetar di antara rumah sepuh. Di desa yang dikepung perbukitan ini, tahun-tahun yang lewat seperti terekam dalam retakan di batang-batang pinus, jalan-jalan batu menyembunyikan jejak para serdadu, dan pohon-pohon gingko merunduk rimbun layaknya kakek renta yang bungkuk ditekuk waktu.

Saya melewati malam-malam dengan tidur telentang laksana jenazah dalam tabela. Setelah beberapa hari, punggung saya mulai kepayahan beradaptasi dengan kasur tipis. Tapi Jeonju selalu memiliki penawar bagi keluh dan kesah. Aroma bumbu dari dapurnya merayap semerbak ke udara, membuat saya selalu tergugah menyambut jam makan dan menyesalkan rasa kenyang yang lekas datang.

Jeonju dijuluki destinasi makan karena kota ini memberi sumbangan signifikan bagi ensiklopedia kuliner nasional Korea. Selain bibimbap dan moju, kota ini melahirkan omogari tang, hidangan hotpot dengan bahan utama ikan air tawar. Jeonju juga menciptakan sup kecambah kongnamul gukbap. “Menu ini berkhasiat meredakan efek pengar makgeolli,” kata Jain, “karena itu dijuluki hangover soup.”

Tapi Jeonju digemari warga Korea bukan semata berkat kreasinya yang sedap. Biaya hidup yang terjangkau adalah alasan lain ia selalu memikat. Satu sesi makan dengan menu berlimpah untuk dua orang rata-rata menghabiskan 25.000 won (sekitar Rp290.000)—harga yang murah hati di negara dengan pendapatan per kapita mendekati setengah miliar rupiah.

Kamis malam, saya dan Jain meluncur ke kedai Yetchon Makgeolli guna mengenal budaya minum lokal. Menenggak arak bersama kerabat bagaikan tradisi nokturnal di Korea. Di negeri ini, miras tak ubahnya simpul yang merekatkan tali silaturahmi, bagaikan lubrikan yang menghanyutkan keakraban.

Yetchon Makgeolli adalah tipikal kedai tersohor di mana sekujur dindingnya dipenuhi foto selebriti. Sajian utamanya: makgeolli, arak beras hasil fermentasi. Minuman yang disajikan dalam cerek ini dibanderol 25.000 won, mencakup empat hidangan yang terdiri dari panekuk kimchi, pork belly, pork knuckle, dan sup ayam. “Makgeolli selalu hadir bersama beragam masakan, dan Yetchon Makgeolli populer berkat masakannya yang serius,” jelas Jain.

Dengan arak putih susu yang terus mengalir, Jain menerangkan beberapa tata kramadalam prosesi makan khas lokal. Katanya, usai bersulang, orang yang lebih muda sepatutnya menyeruput minuman dengan memalingkan tubuh dari orang yang lebih tua. Katanya lagi, kita dilarang menancapkan sumpit di atas nasi karena berpotensi mengundang arwah. Satu etiket lokal yang menurut saya paling arif adalah kebiasaan untuk saling menuangkan minuman. “Di Korea, kita tidak menuang minuman ke gelas sendiri. Tabu,” ujar Jain.

Perbincangan terus mengalir dan cerek kedua datang. Harganya susut menjadi 15.000 won, tapi hidangan pendampingnya tetap berlimpah: ikan bakar, kerang rebus, dan sup seafood. Kadar alkohol makgeolli hanya sekitar enam persen dengan daya sengat yang menusuk ajek. Saat cerek ketiga mendarat, saya tak bisa mengingat lagi berapa harganya dan apa saja masakannya. “Kamis sebenarnya bukan waktu ideal untuk minum-minum, tapi orang Korea biasanya tidak peduli dengan hari Jumat,” ujar Jain sembari tertawa. Dia kini sudah lupa jadwal bus untuk mudik ke Seoul.

Mendekati tengah malam, saya kembali ke penginapan. Merandai jalan-jalan kota, mayoritas restoran dan kafe sudah tutup. Hampir semua lampu telah dipadamkan. Jeonju mulai meringkuk di balik selimut, tapi satu pertanyaan masih menghantui saya: bagaimana kota kecil yang luput dari radar turis asing ini bisa menyabet gelar ibu kota kuliner Korea?

Mencari menu sedap di Jeonju adalah perkara mudah; yang sulit adalah membelinya. Mayoritas warga tak bisa berbahasa Inggris. Nyaris semua pelang restoran ditulis dalam aksara Hangul, membuat saya kerap memakai bahasa tubuh saat memesan.

Tapi mungkin itulah yang membuat Jeonju terasa autentik. Kota ini bukan sebuah kampung global yang dicetak serupa di mana-mana. Pagi di sini dibuka dengan malas dan malam berakhir cepat. Warganya ramah, dengan kehangatan yang mengalir pelan. Jeonju bukanlah sebuah metropolis yang tergesa-gesa di mana orang-orang, meminjam analogi Dewi Lestari, duduk resah dengan kaki bergoyang-goyang seperti di atas pedal mesin jahit.

Wali Kota Jeonju, Seung-Su Kim, menghunus misi ambisius untuk melambungkan pamor kotanya. Tahun ini, Jeonju menggelar pertemuan delegasi UNESCO. Tahun depan, ia akan menyambut para atlet Piala Dunia U-20. Kelak, pada 2030, Jeonju beriktikad menjadi kota dengan 100 persen energi terbarukan. Kota yang ditulis dengan tinta samar di atas peta ini bertekad duduk sejajar di antara kota-kota ternama dunia, dan semua itu dimulai dari kegigihannya mengembangkan industri makanan. “Dulu kami tak menyadari warisan budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi,” ujar Chung Seung Won, staf Pemkot. “Sekarang orang-orang dari seantero Korea datang ke sini untuk mengenal kebudayaan mereka.”

Menurut Chung, kunci sukses Jeonju berpangkal pada kemampuannya menciptakan ekosistem yang melindungi pengusaha lokal. Di Hanok Village misalnya, Pemkot menyediakan subsidi bagi restoran yang menyajikan menu Korea, salah satunya dalam bentuk diskon tarif PDAM. Sejalan dengan semangat pro lokal itu, Pemkot melarang gerai waralaba asing beroperasi di desa ini. Saat banyak negara memakan bulat-bulat mantra pasar bebas, Jeonju berani mengambil kebijakan proteksionis dengan menancapkan pelang verboten bagi McDonald’s dan Burger King.

Di Jeonju, predikat kota kuliner agaknya tak sekadar dilontarkan di mimbar, tapi dilembagakan. Inilah yang membedakannya dari destinasi kuliner lain seperti Medan atau Makassar. Kota ini sadar, tanah subur dan resep leluhur bukan modal yang memadai untuk menuai pengakuan dunia. Dengan kesadaran itu pula Jeonju berniat mengatasi problem klasiknya: eksodus kaum muda. “Anda bisa lihat ada banyak manula di sini, itu karena banyak remaja bermigrasi ke kota seperti Seoul dan Busan,” lanjut Chung. “Saya berharap Jeonju terus berkembang agar bisa membuka lebih banyak lapangan kerja.”

Menaiki taksi, saya singgah di sebuah ga maek, istilah untuk toko kelontong yang merangkap restoran. Ibarat 7-Eleven versi lokal, ga maek adalah tempat bagi warga bercengkerama hingga larut malam. “Di Korea, konsep semacam ini hanya bisa ditemukan di Jeonju,” ujar Jang Hee-young yang menemani saya.

Kiri-kanan: Kendaraan elektrik yang marak digunakan turis di Hanok Village; penari Ki Jeop No Ri di pelataran gedung Korean Traditional Cultural Center.
Kiri-kanan: Kendaraan elektrik yang marak digunakan turis di Hanok Village; penari Ki Jeop No Ri di pelataran gedung Korean Traditional Cultural Center.

Hee-young adalah salah satu buah ikhtiar Jeonju membangun industri kulinernya. Kehadirannya mewakili sebuah harapan: bahwa kota ini masih punya magnet bagi kaum muda. Lahir di Busan dan sempat bekerja di Seoul, gadis 29 tahun ini memutuskan pindah ke Jeonju untuk berkuliah di Creative Culinary Institute of Korea (CCIK), kampus pertama di Korea yang didedikasikan untuk masakan tradisional. “Setelah lulus, saya ingin memiliki program memasak sendiri,” lanjut Hee-young.

Hee-young memanggil pemilik ga maek, lalu memesan beberapa botol bir dan kudapan seperti berondong jagung dan telur dadar. Tak ada turis lain di sini kecuali saya. “Mungkin pengalaman seperti ini yang dicari orang-orang Korea di Jeonju,” ujar Hee-young, “yakni kesempatan menikmati kesederhanaan bersama teman di restoran yang menyajikan menu lokal berharga terjangkau.” Datang ke Jeonju untuk mengenal makanan Korea, saya kini melihat bagaimana makanan menjadi napas yang menghidupi sebuah kota.

Detail
Jeonju

Rute
Jeonju, kota seukuran Kota Jambi, belum memiliki bandara. Untuk menjangkaunya, Anda mesti terbang dulu ke Seoul, lalu meneruskan trip dengan Limousine Bus (m.limusine.co.kr; Rp360.000 per orang) dari Halte 9C di teras Bandara Incheon dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Bus mewah yang bergerak setiap satu jam ini menyediakan reclining seat dengan konfigurasi 2-1.

Penginapan
Cara terbaik menikmati wisata lidah di Jeonju adalah dengan menginap di Hanok Village (hanokstay.or.kr), sebab banyak restoran tersohor berada di sini. Penginapan paling terkenal, Hakindang (Hyanggyo-gil 45; from1908.kr; mulai dari Rp1.900.000), menempati bekas kediaman klan Suwon Baek dan menawarkan sesi minum teh, kelas kriya kertas hanji, serta sarapan khas lokal yang jarang ditawarkan kebanyakan penginapan. Opsi guesthouse lainnya adalah Eodang Hanok (Omokdae-gil 45-43; eodang.co.kr; mulai dari Rp1.500.000), kompleks lapang berisi beberapa hanok berukuran besar.

Informasi
Waktu terbaik berlibur di Jeonju adalah Oktober ketika ajang Bibimbap Festival (bibimbapfest.com) digelar dan bahan masak terbaik tersedia pasca-musim panen. Mayoritas warga hanya berbahasa Korea, jadi manfaatkan peta berbahasa Inggris di pusat-pusat informasi Hanok Village. Tentu saja, peta tak akan membantu saat berkomunikasi dengan pemilik restoran, karena itu ada baiknya Anda menyewa pemandu.

Didirikan oleh Jia Choi, wanita dengan gelar doktor di bidang kuliner, O’ngo Food (82-2/3446-1607; ongofood.com) adalah operator ternama yang lazim disewa oleh pakar kuliner. Paket tur bisa disesuaikan dengan selera peserta, termasuk jika Anda mendambakan makanan halal. Informasi lain tentang Jeonju bisa disimak di situs resmi Biro Pariwisata Jeonju (82-63/2221-000; jeonju.go.kr).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2016 (“Pujasera Korea”)