5. DESTINASI WISATA
Yohan Tangkesalu, Ketua PHRI Toraja, Ketua Badan Promosi Pariwisata Toraja Utara, Pemilik Misiliana Hotel

Kiri-kanan: Turis menyaksikan tau-tau di makam tebing Lemo, Toraja. (Foto: Suryo Wibowo). Yohan Tangkesalu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Toraja Utara.

Kapan proses pemulihan pariwisata akan dimulai? Dan kapan industri pariwisata akan kembali ke titik sebelum pandemi?
Pemulihan akan sangat bergantung pada vaksin. Setelah itu, yang penting dipulihkan adalah kepercayaan pasar. Mulai Januari, banyak negara sudah memulai vaksinasi, termasuk Eropa, tapi belum merata. Saya kira proses pemulihan akan dimulai pada 2022, lalu pada 2024 pariwisata akan kembali ke kondisi normal. 

Peran yang bisa diambil pemerintah untuk akselerasi pemulihan?
Sepertinya pemerintah tidak tahu persis harus berbuat apa. Pandemi ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi. Mereka kadang membuat peraturan yang agak susah diterapkan, misalnya dengan mengatakan limit batasan penumpang diserahkan ke pihak maskapai. Pemerintah juga terlihat belum punya strategi atau tindakan yang ampuh untuk mengobati pariwisata kita. Contohnya kampanye wisata di Indonesia saja. Ini kampanye yang bagus, tapi jika daya beli belum pulih, tak akan bisa berjalan. Hal yang bisa dilakukan pemerintah dan langsung terasa dampaknya ialah memberi stimulus pajak dan pinjaman untuk pengusaha, terutama UKM. Dukungan ini penting agar pengusaha tidak bangkrut dan memecat karyawannya.

Seperti apa industri pariwisata selepas pandemi?
Wisatawan akan lebih berhati-hati. Mereka akan terus memakai masker dan menjaga jarak. Mereka juga tidak akan bepergian terlalu jauh, dan objek wisata yang dikunjungi lebih berupa alam terbuka. Artinya, wisata pesiar atau tur bus keliling kota dengan banyak orang akan paling terdampak. Hal lain yang mungkin terjadi adalah munculnya stigma terhadap saudara-saudara kita dari Tiongkok. Beberapa tempat mungkin akan menolak turis dari sana. Ini bisa jadi masalah, karena sebelum pandemi Indonesia sangat mengandalkan turis dari Tiongkok. Saya pun sudah melihat tanda-tandanya. Beberapa ekspat Tiongkok di Indonesia yang saya kenal, mulai menerima siulan-siulan yang kurang menyenangkan.

Lembah Tinimbayo dilihat dari ketinggian di kawasan Batutumonga, Toraja Utara. (Foto: Suryo Wibowo).

Langkah Toraja untuk menyambut perubahan itu?
Untungnya, Toraja sejak dulu fokus pada cultural tourism, bukan mass tourism. Turis ke Toraja biasanya berisi hanya dua pax, maksimum delapan pax. Dan kita juga sudah beradaptasi dengan keadaan. Selain menerapkan protokol kesehatan, kita akan mempromosikan tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Kita juga sudah menerima panduan dari partner agen-agen perjalanan di luar negeri. Mobil turis berukuran besar dikurangi kapasitasnya. Bus yang biasa dipakai 20-24 orang, kini diisi 10-12 orang. Itu juga sebabnya banyak agen di Sulawesi Selatan menjual mobil-mobil berukuran besar, karena mereka sadar load factor akan berkurang. Di sisi lain, model bisnis sudah diubah. Termogan sudah di mana-mana, begitu pula disinfektan. Hal-hal ini jadi sesuatu yang wajib, seperti Wifi. Pandemi juga menyadarkan kita untuk lebih menghargai tamu. Walau turis hanya satu atau dua orang, kita sangat berterima kasih mereka mau datang. Bisa dibilang kita seperti back to basic dalam hal servis.

Surat keterangan vaksin Covid-19 kelak akan disyaratkan untuk turis?
Menurut saya, mau tidak mau akan terjadi. Seperti sertifikat pemandu wisata, sertifikat vaksin juga akan diterapkan. Dan tidak hanya untuk turis, tapi juga sopir dan pemandu. Saya berharap surat vaksin tidak akan menimbulkan diskriminasi. Jangan sampai, misalnya, orang hanya mau menerima sertifikat vaksin Moderna dan menolak Sinovac. Di sinilah pemerintah bisa berperan untuk menerapkan standarnya.

Agenda terbesar Toraja di 2021?
Kami sudah berdiskusi misalnya dengan Bali & Beyond Travel Fair, yang katanya akan digelar lagi . Kami juga sudah ancang-ancang untuk memberi insentif kepada wisatawan, misalnya insentif hotel, restoran, dan objek wisata. Di tahap awal, yang datang ke Toraja akan tetap wisatawan nusantara, tapi mereka mungkin belum pulih dompetnya. Dengan insentif, Toraja bisa dilihat sebagai opsi tujuan wisata. Selain itu, kami juga berpromosi secara online. Objek wisata yang belum terlalu terkenal, akan diangkat kembali. Kegiatan seperti rafting, cycling, dan lari juga akan kita angkat lagi.

6. SPORT TOURISM
Ndang Mawardi, Founder & CEO Inspiro Group 

Kiri-kanan: Ndang Mawardi, Founder & CEO Inspiro Group; Labuan Bajo ditargetkan menjadi salah satu lokasi acara Racing the Planet (Foto: Fransisca Zagita)

Kapan proses pemulihan pariwisata akan dimulai? Dan kapan industri pariwisata akan kembali ke titik sebelum pandemi?
Sekarang pun langkah-langkah pemulihan sedang berjalan. Selama beberapa bulan terakhir, pelaku industri sudah menerapkan protokol CHSE. Kendati begitu, pemulihan nantinya juga akan terkait zonasi. Tiap daerah punya warna zona yang berbeda. Belum tentu semua destinasi akan dibuka bersama. Yang penting kini ialah mengubah zona merah menjadi kuning, jika bisa hijau. Langkah pemulihan lainnya yang sedang berjalan ialah vaksinasi. Ini jadi satu semangat baru bagi pemangku kepentingan pariwisata. Persoalannya sekarang adalah menentukan titik pemulihannya. Ini akan cukup memakan waktu, lebih dari setahun. Saya kira pada 2022 pun pariwisata belum pulih total.  

Peran yang bisa diambil pemerintah untuk akselerasi pemulihan?
Yang paling penting ialah soal perizinan. Sebelum pandemi, perizinan ada di bawah kepolisian. Selama pandemi, ada satgas, termasuk di dalamnya pemerintah daerah dan polisi. Ketika memberi perizinan, jangan sampai tumpang tindih. Jangan sampai misalnya, pemerintah sudah kasih izin, tapi polisi tidak kasih. Hal kedua yang bisa dilakukan pemerintah ialah memberi stimulus kepada industri. Delapan bulan yang lalu, pengusaha disuruh mendaftar, kasih info jika terdampak, berapa karyawan yang kena PHK, dan seterusnya. Ini masih relevan, tapi ini bukan sesuatu yang akan kita kejar terus. Yang saya maksud stimulus ialah percepatan vaksinasi untuk pelaku industri. Sekarang vaksinasi masih ditujukan untuk tenaga kesehatan, lalu TNI dan Polri, lalu wartawan. Nah, ketika nanti izin event dikeluarkan, semua pelaku akan berjibaku untuk mengadakan event. Jadi para pelaku industri juga perlu divaksin. Dukungan lain yang juga diperlukan ialah bantuan biaya sewa tempat untuk penyelenggaraan acara.  

Seperti apa industri pariwisata selepas pandemi?
Pandemi memberi pelajaran penting. Gaya hidup masyarakat sudah berubah. Semua orang lebih health-conscious. Walau demikian, dalam konteks pariwisata, visitasi tetap menjadi tujuan utama. Begitu pula di MICE. Sampai kapan sih kita bisa terus melakukan acara virtual?

Rencananya, Toba Super Swim akan digelar di Danau Toba pada tahun ini. (Foto: Atet Dwi Pramadia)

Langkah Inspiro untuk menyambut perubahan itu?
Sesungguhnya kita sudah melakukan langkah sejak 2017. Kita memang tidak memprediksi akan terjadi pandemi, tapi kita sudah membuat aplikasi virtual run sejak 2017. Bisa dibilang kita adalah perintisnya di Indonesia. Dalam Jakarta Marathon 2017 misalnya, ada 200 peserta virtual run Jakarta Marathon. Di 2019, ada 900 peserta.  

Surat keterangan vaksin Covid-19 akan disyaratkan untuk turis?
Kemungkinan besar akan disyaratkan. Pandemi telah mengubah hidup kita. Ini juga mengubah cara kita melakukan sesuatu. November tahun lalu misalnya, di Tiongkok, ada maraton dengan peserta 10.000 orang. Seluruh pesertanya sudah menerima vaksinasi sementara yang berlaku seminggu. Ke depannya, tidak aneh jika kita mesti memegang kartu vaksin Covid-19 untuk acara MICE, atau mungkin datanya disimpan di aplikasi telepon genggam.  

Agenda terbesar Inspiro di 2021?
Jakarta Marathon akan digelar kembali, mudah-mudahan di Oktober. Kemudian kita akan ekspansi ke lima DSP [destinasi super prioritas]. Misalnya akan ada Tour de Toba. Lalu juga ada Toba Super Swim, reli renang 120 kilometer selama empat hari mengelilingi Samosir. Kita pernah tes di 2014, bagian dari Festival Toba. Acara baru lainnya ialah Racing the Planet di Likupang dan Labuan Bajo. Konsepnya island hopping. Peserta akan liveaboard dan diminta menyelesaikan satu tantangan di tiap pulau. 

7. OPEN TRIP
Fran Noto, Cofounder Piknik Nusantara

Kiri-kanan: Fran Noto, Cofounder Piknik Nusantara; Pantai Wedi Ireng di selatan Banyuwangi. (Foto: Johannes P. Christo)

Kapan proses pemulihan pariwisata akan dimulai? Dan kapan industri pariwisata akan kembali ke titik sebelum pandemi?
Jika vaksin sudah merata, sudah terdistribusi, minimal ke separuh Indonesia. Juga jika regulasi jelas dan akses informasinya jelas, tidak seperti tahun baru kemarin. Saat Natal dan tahun baru, ada banyak permintaan trip. Tapi banyak orang kecewa dengan ketidakjelasan informasi. Misalnya tiba-tiba ada syarat antigen. Mungkin pada pertengahan 2021 pasar akan mulai merangkak. Libur Imlek untuk Februari 2021 juga sudah mulai ramai yang pesan trip.

Peran yang bisa diambil pemerintah untuk akselerasi pemulihan?
Subsidi dana ke pelaku usaha mikro. Mereka paling terdampak, misalnya sopir, pemandu, pengelola perahu wisata, dan penjual suvenir. Subsidi yang dikasih pemerintah sekarang tidak merata. Yang digadang-gadang hanya destinasi prioritas, misalnya Labuan Bajo. Ketimpangannya sangat terasa. Hal kedua yang bisa dilakukan ialah promosi. Promo Natal dan tahun baru kemarin terbukti efektif. Saya sebenarnya belum terlalu optimistis melihat 2021. Tapi yang penting upaya pemerintah. Jika pemerintah kasih kelonggaran, pasar pasti naik lagi dan pelaku bisa kreatif bergerak.

Seperti apa industri pariwisata selepas pandemi?
Yang pasti berubah adalah perilaku. Peserta tur kini lebih kritis untuk bertanya, misalnya soal social distancing di mobil, predikat hotel, fasilitasnya apa saja, dan seterusnya. Dulu, asal harganya murah, banyak orang pasti mau berangkat. Sekarang berbeda. Mereka lebih smart. Misalnya jika peserta turnya terlalu banyak, mereka akan langsung batalkan trip. Sekarang juga lebih banyak muncul permintaan tur privat, misalnya untuk satu keluarga atau satu geng. Biayanya lebih mahal, tapi mereka tidak masalah, yang penting aman, nyaman, dan sehat.

Rombongan turis menikmati tur di Bali. (Foto: Mahmud Ahsan)

Langkah Piknik Nusantara untuk menyambut perubahan itu?
Kita sempat rapat akhir tahun, dan memutuskan untuk memfilter destinasi. Mana yang laku dan tidak. Mana yang bisa menyesuaikan pasar dan tidak. Destinasi seperti Bali, Labuan Bajo, dan Banyuwangi, yang penerapan protokolnya bagus, ini yang kita dorong ke pasar di 2021. Pasar kini lebih selektif. Carita, Anyer, dan Sukabumi sudah sedikit sekali peminatnya.  

Surat keterangan vaksin Covid-19 kelak akan disyaratkan untuk peserta tur?
Pastinya akan seperti itu. Seperti syarat antigen, kita juga menerapkannya. Intinya kita hanya ikut regulasi. Untuk vaksin, ke depannya memang harus disyaratkan, supaya bisa nyaman. Di open trip, peserta tur tidak saling kenal, dan mereka akan berwisata bersama. Jadi harus aman.

Agenda terbesar Piknik Nusantara di 2021?
Tidak ada tambahan destinasi baru yang akan ditawarkan. Lima tahun terakhir, kita pernah buka trip ke lebih dari 30 destinasi. Kita akan saring destinasinya. Agenda lain yang sedang disiapkan ialah membuat aplikasi untuk memudahkan orang yang mau trip sendiri atau berdua. Misalnya di Sumba. Di sana informasi minim, misalnya saat mau pesan mobil, motor, atau pemandu. Aplikasi baru ini akan memudahkan mereka untuk berwisata, tanpa harus ikut grup. Mereka bisa misalnya pesan motor lewat aplikasi, tidak perlu transaksi tunai, dan harganya tidak ‘asal tembak.’ Kita juga akan mendorong trip minat khusus, misalnya diving atau tur ke suku-suku pedalaman. Saya lihat akan lebih banyak muncul permintaan seperti ini.