Pasukan Keamanan Perbatasan India dalam upacara penurunan bendera di Wagah. (Foto: iStock/Roland Brack)

Oleh Hairun Fahrudin

Dalam bajaj yang terus bergetar, sebuah notifikasi SMS muncul di telepon genggam: “Welcome to Pakistan.” Melihat pojok layar, sinyal operator seluler India sudah raib, digantikan oleh sinyal milik operator Pakistan. Kening saya berkerut. Perbatasan India-Pakistan sebenarnya masih berjarak dua kilometer dari posisi saya.

“Tolong ingat-ingat di mana saya parkir,” kata Amrit, sopir bajaj. Menurutnya, usai parkir nanti, dia tak akan bisa lagi dikontak, sebab sinyal operator seluler India ditiadakan di area perbatasan demi alasan keamanan. Mendarat di tujuan, atas alasan keamanan pula, saya memotret pelat nomor bajaj milik Amrit.

Perbatasan India-Pakistan membentang sepanjang 2.900 kilometer. Hampir tiap jengkalnya diterangi lampu. Begitu banyak dan terang lampunya hingga garis pemisah ini bisa dilihat dari luar angkasa. Kendati begitu, meski panjangnya setara jarak Aceh-Yogyakarta, perbatasan ini hanya memiliki dua pos yang bisa dilalui publik, salah satunya Wagah, tempat yang kini saya datangi.

Usai berjalan sekitar satu kilometer, saya tiba di tujuan. Sebuah baliho menginformasikan bahwa Lahore, salah satu kota besar di Pakistan, berjarak hanya 23 kilometer dari sini. Pakistan terasa kian dekat, walau bukan berarti mudah dijangkau. India dan Pakistan adalah dua tetangga yang cemas menatap satu sama lain. Lalu lintas barang dan manusia di antara keduanya sangat dibatasi.

Warga yang berbondong-bondong menuju Wagah untuk menyaksikan upacara penurunan bendera.

Wagah berada sekitar 40 menit berkendara dari Amritsar, Negara Bagian Punjab. Berkat lokasinya yang mudah dijangkau, pintu ini menjadi favorit banyak orang untuk menyeberang ke Pakistan. Tapi bukan itu sebabnya Wagah begitu ramai saban sorenya, juga sore ini. Mayoritas orang, termasuk saya, sebenarnya datang demi menyaksikan upacara penurunan bendera. Sebuah upacara harian paling meriah dan paling janggal di dunia yang digelar sejak 1959.

Menuju lokasi upacara, seluruh pengunjung diwajibkan melewati detektor logam. Seluruh barang bawaan digeledah dengan saksama oleh petugas. Pemeriksaan ini kelewat ketat, lebih ketat dari bandara di Indonesia. Petugas bahkan meminta saya menyalakan kamera, demi memastikan keasliannya. Proses ini mengakibatkan antrean mengular panjang, sebab pengunjung mencapai ribuan. Untungnya bagi saya, warga asing diberikan jalur antrean terpisah.

Seremoni baru bergulir beberapa jam lagi, tapi tribune penonton sudah hampir penuh. Untungnya, lagi-lagi, warga asing mendapatkan privilese. Turis dipersilakan mengisi barisan depan yang berada paling dekat dengan pagar perbatasan. Menempati area “VIP” ini, saya bisa melihat dengan jelas kerumunan di sisi Pakistan. Di sana, sebagaimana di masjid, laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Tempat duduk penonton juga berbentuk tribune, tapi ukurannya lebih kecil. Perbedaan lainnya adalah foto yang dipajang. Di sini ada potret Mahatma Gandhi. Di sana, Muhammad Ali Jinnah, bapak bangsa Pakistan.

Gerbang perbatasan antara India dan Pakistan di Wagah, 450 kilometer di utara Delhi.

Massa terus berdatangan dan tribune kian sesak. Selang beberapa menit, suasana berubah buncah. Kontingen India memutar musik Bollywood dengan volume tinggi, sementara delegasi Pakistan mengumandangkan ayat Alquran lewat pengeras suara. Rasanya seperti menyaksikan dua kampung yang sedang adu petasan. Tak kuat mendengar kebisingan ekstrem itu, beberapa orang terpaksa menutup telinga.

“Kompetisi” di perbatasan ini mencerminkan perseteruan di tingkat nasional. India dan Pakistan telah lama bersaing dan bersitegang di banyak sektor, mulai dari politik luar negeri hingga turnamen kriket. Kita mungkin bisa mengibaratkannya dengan hubungan antara Indonesia dan Malaysia, tapi dalam skala yang jauh lebih panas, sengit, dan intens.

Baca Juga: 8 Tempat Wisata di India Rekomendasi Sang Duta Besar

India dan Pakistan ibarat saudara kandung yang dipaksa pisah rumah, dan permusuhan di antara saudara memang kerap lebih brutal. Perpisahan itu terjadi pada 1947. Pascapenjajahan, pemimpin Hindu dan Muslim gagal meneken kesepakatan untuk membentuk India yang bersatu. Wilayah British India yang didominasi penganut Islam menjadi negara Pakistan, sedangkan kawasan mayoritas Hindu menjadi India. Di sini, revolusi terpaut dengan agama dan geopolitik.

Ribuan penonton memadati tribune yang dibangun di kedua sisi perbatasan. (Foto: iStock/Pavliha)

Pakistan memproklamasikan kemerdekaannya pada 14 Agustus 1947. India menyusul sehari berselang. Dalam waktu singkat, kedua hari bersejarah itu memicu petaka: eksodus massal dan pembantaian. Lebih dari 14 juta orang harus meninggalkan tanah kelahirannya, baik secara sukarela maupun terpaksa. Lebih dari sejuta nyawa diperkirakan melayang. Sejak itu, India dan Pakistan tak pernah rujuk, juga jarang sekali akur.

Kini, perbatasan India dan Pakistan menjadi saksi bagi perpisahan tersebut. Perbatasan ini, yang dibuat terburu-buru selama tujuh pekan oleh pengacara Inggris Sir Cyril Radcliffe, membuat banyak kerabat dan keluarga terbelah, banyak teman dan tetangga terpisah. Tapi tak semua orang mengenangnya dengan murung. Sore ini, di Wagah, masing-masing kubu justru ingin menegaskan mereka sudah berpisah.

Di sekitar saya, musik Bollywood diputar makin kencang, dan banyak orang turun dari tribune untuk berjoget dalam koreografi yang sepertinya ditujukan untuk mengejek. Tak mau kalah, massa Pakistan berteriak lantang, “Pakistan Zindabad, Pakistan Zindabad” (panjang umur Pakistan!), seraya mengepalkan tangan penuh emosi. Seiring itu, kedua kubu saling melontarkan yel-yel patriotik layaknya dua keluarga yang berbalas pantun.

Anak-anak juga turut menonton upacara dramatis penurunan bendera.

Lagu kebangsaan Pakistan kemudian dikumandangkan, dan orang-orang di seberang berdiri khidmat. Enggan menunjukkan respek, kerumunan di kubu India terus saja berjoget dengan iringan irama Bollywood yang memekakkan telinga.

Pesta kaos ini berlangsung selama sejam. Tepat pukul lima sore, acara inti upacara penurunan bendera dimulai. Seremoni ini diawali oleh aksi dua serdadu yang berderap dengan gerakan yang seolah bertujuan menendang lawan: melangkah dengan ujung kaki sejajar dada. Massa India dan Pakistan menyambutnya dengan bersorak dan bersuit.

Baca Juga: Kisah Trinity Menjelajahi Kashmir, Ironi Tercantik di Dunia

Setelah itu, aksi yang disuguhkan para serdadu makin teatrikal. Ada adegan mengepalkan tangan seolah hendak mengancam musuh, serta gerakan-gerakan lain yang melambangkan rivalitas. Bahkan anjing pelacak dan penembak runduk juga dilibatkan.

Bendera India dan Pakistan diturunkan secara menyilang, simbol persahabatan kedua negara tetangga.

Suasana baru hening ketika serdadu di India dan Pakistan sama-sama menurunkan bendera kebangsaannya. Bendera India dan Pakistan diturunkan secara menyilang, sebagai simbol persahabatan di antara kedua negara. Adegan berikutnya lebih menyejukkan hati. Sebelum palang perbatasan Wagah ditutup, serdadu India dan Pakistan berjabat tangan. Massa menyambutnya dengan bersorak dan bertepuk tangan. Awalnya sarat murka, drama di perbatasan ini diakhiri dengan salam damai.

Sore hampir berakhir. Massa perlahan bubar, tribune berangsur kosong, dan saya berjalan menuju lahan parkir bajaj. Esok sore, kerumunan dari kedua pihak akan kembali ke Wagah demi mengulang aksinya. Garis batas ini akan kembali ditegaskan, dengan musik, pekik, juga jabat tangan. India dan Pakistan seperti pasangan yang sudah bercerai, kemudian rutin berjumpa untuk mengingatkan bahwa mereka sudah bercerai. Cinta lama tak bersemi kembali di sini.