Kiri-kanan: Perpaduan antara pantai berpasir putih dan laut biru yang digemari turis; sebuah gereja Katolik di Desa Wakai.

Gebrakan terbesar Everto saya temukan di Desa Katupat. Saya mengunjunginya dengan menaiki perahu bermesin tempel. Tiba di dermaga, perahu-perahu nelayan tengah tertambat. Cengkih sedang panen dan banyak nelayan berpaling menjadi petani. Saya melangkah pelan melewati ribuan bunga cengkih yang sedang dijemur, sembari menghirup aroma yang dulu memikat para penjajah.

Di Katupat, sekitar 15 perempuan menekuni usaha kerajinan suvenir. Bisnis kecil-kecilan ini dirintis oleh Saiful dan kawan-kawannya. Mereka menganggap, konservasi tak bisa dilihat dari sisi yang tunggal. Kerusakan lingkungan juga dipicu problem lain yang lebih mengakar—kemiskinan. Sebuah solusi cerdik lalu dicetuskan: membuat kerajinan dari sampah. Hampir semua suvenir yang dijual di resor di Togean dipasok dari sini.

“Sampah didapat dua kali per minggu dari tukang sampah. Sebagian hasil penjualan souvenir disetor ke kas, lalu dipakai untuk menggaji tukang sampah,” ujar Ima, seorang perajin. Mengandalkan kantong plastik dan bungkus kopi, dia menciptakan gantungan kunci, topi, juga dompet. Hasil penjualannya dipakai untuk menambal kas keluarga dan mengirimkan anaknya ke bangku SMP. Everto hanyalah buih kecil di tengah genangan masalah, bagaikan sebutir pil bagi komplikasi penyakit. Tapi, bukankah setiap perubahan besar harus dimulai dari percikan kecil?

Hari kian gelap. Saya melompat ke perahu dan kembali ke penginapan, kembali menyusuri kepulauan yang sedang berada di persimpangan antara konservasi dan eksploitasi. Warga percaya, ada sinar terang di ujung jalan, tapi malam ini saya tak bisa melihat apa pun di tengah gulita. Listrik sudah dipadamkan.

Panduan
Rute
Kepulauan Togean terletak di Teluk Tomini, Sulawesi. Ada dua cara untuk menjangkaunya. Pertama, terbang ke Gorontalo, lalu menaiki feri berdurasi 12 jam ke Wakai, kota kecamatan di Togean. Cara kedua, terbang ke Luwuk, kemudian menaiki mobil selama lima jam ke Ampana, disusul feri berdurasi tiga jam ke Wakai. Penerbangan ke Gorontalo dan Luwuk dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dan Lion Air (lionair.co.id). Bandara di Ampana sudah rampung dibangun, tapi hingga kini belum melayani penerbangan komersial.

Penginapan
Ada sekitar 10 penginapan di Togean, mayoritas membidik segmen bujet. Berada di kawasan kepulauan, sangat disarankan Anda memilih properti yang memiliki fasilitas lengkap, salah satunya Kadidiri Paradise (Pulau Kadidiri; 0852-4118-2440; kadidiriparadise.com). Perintis bisnis akomodasi di Togean ini dilengkapi dive centre, restoran, juga speedboat untuk antar-jemput turis dari Ampana. Kadidiri Paradise menaungi 32 bungalo, tapi sebaiknya pilih kelas suite (mulai dari Rp850.000 per malam untuk dua orang, fullboard) yang berbentuk rumah panggung berisi king size bed, kulkas, area relaksasi, dan teras dengan daybed. Pemiliknya belum lama meresmikan properti baru bernama Sanctum (unaunasanctum.com) di Pulau Una-Una, sisi barat daya Togean.

Aktivitas
Menyelam adalah kegiatan utama di Togean. Diversitas satwa lautnya memukau banyak peneliti. Terumbu karangnya juga lengkap, mewakili semua jenis yang dikenal dunia. Bagi penyelam yang berpengalaman, jangan lewatkan perairan Pulau Una-Una. Koleksinya antara lain penyu, barakuda, serta eagle ray. Di Una-Una, mereka yang gemar mendaki gunung juga bisa menjajal Gunung Colo, vulkan yang terakhir meletus pada 1983. Di sela sesi menyelam, Anda bisa berenang di danau berisi ubur-ubur tanpa sengat.

Meski belum banyak dilirik kaum birdwatcher, Togean sebenarnya telah terdaftar dalam Important Bird Areas. Dua satwa udara andalannya adalah burung hantu ninox burhani (namanya diambil dari pria lokal yang menjadi asisten penelitian), serta somadikartai (namanya dipinjam dari seorang ornitolog terpandang nasional). Sejumlah penelitian biologis juga berhasil menemukan satwa endemis dari jenis monyet, biawak, tarsius, dan babirusa.

Tentu saja, island hopping adalah opsi aktivitas yang menarik. Pastikan Anda mendaki bukit di sebelah SD Tangkian untuk mendapatkan sudut foto terbaik: kombinasi pasir putih, kubah-kubah batu, serta laut turkuois. Tahun ini, Togean akan menjadi tuan rumah Sail Tomini, ajang internasional yang akan mengekspos kawasan ini ke mata dunia. Datanglah sebelum kepulauan ini terlalu ramai.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2015 (“Misteri Tomini”)