Kiri-kanan: Bungalo yang tersebar di Kadidiri Paradise; salah satu suite di Kadidiri Paradise dengan balkon menghadap laut.

Turis-turis masih ingin menyelam, tapi saya memilih berjalan-jalan di Una-Una. Pulau cantik ini menyendiri di sisi barat daya. Dulu, ia disebut Pulau Ringgit. Pada zaman Hindia Belanda, pulau rimbun ini merupakan salah satu pusat transaksi hasil kebun dan laut di Togean, begitu tulis Sundjaya dari FISIP Universitas Indonesia.

“Una-Una artinya terapung-apung,” seorang pria menyambut saya di depan rumahnya. Kulitnya keriput dimakan usia. Bashiru lahir saat Jepang sedang menginvasi Indonesia. “Orang Bugis yang pertama kali menetap di sini,” ujarnya lagi.

Sepeda motor tanpa pelat nomor berkeliaran di jalan tanah. Elang melayang di antara pucuk-pucuk nyiur. Saya melewati rumah raja yang lowong, masjid tua yang reyot digerogoti zaman, juga makam bangsawan yang lusuh digerayangi semak. Erupsi agaknya telah mengubur masa kejayaan pulau ini. Syahdan, pada 1983, gunung di jantung Una-Una meletus dan seluruh warganya diungsikan. Sisi utara pulau ludes dihujani abu, pesisir selatannya digerus abrasi. “Dulu ada delapan desa, tapi setelah gunung meletus, cuma dua yang tersisa,” Bashiru berbicara kian pelan.

Tak lama setelah mengungsi, warga kembali ke Una-Una. Pulau ini bukan rumah yang gampang dilupakan. Tanahnya subur. Hutannya rapat. Banyak orang, termasuk Bashiru, kini menyambung hidup dengan berdagang kopra—bisnis yang sepertinya punya riwayat panjang. “Kopra-kopra yang dihasilkan Pulau Una-Una lebih dari satu abad lalu menjadi komoditas penting dalam jaringan perdagangan antarpulau di Nusantara,” tulis Sundjaya dalam makalahnya.

Angin sore mulai berembus. Saya meninggalkan Bashiru dan berjalan kembali ke dermaga, melewati rumah-rumah yang dipayungi parabola. Saya kadang tak mengerti mengapa orang membeli antena saat kebutuhan kakus lebih mendesak. Tapi pertanyaan saya mungkin tak bijak. Di sudut negeri yang terpencil ini, di mana sinyal telepon genggam raib dan surat kabar tak sampai, televisi adalah jendela satu-satunya bagi warga untuk mengintip sisi lain dunia—termasuk untuk melihat wajah presiden baru mereka di istana.

Menaiki perahu bermesin tempel, saya menyisir kawasan timur Togean. Perahu ramping ini melenggang di selat-selat sempit dan melewati kubah-kubah batu yang berbalut semak. Setelah hampir empat jam merandai ombak, saya mendarat di halaman Pulau Malenge. Sehari silam, seorang pria mengatakan pulau ini ditinggali para pembuat dinamit. Entah di mana mereka sekarang. Hari ini, saya cuma menangkap kesunyian. Desa nelayan begitu lengang.

Di Malenge, Celia Lowe pernah menghabiskan berhari-hari menembus hutan untuk mengumpulkan satwa. Peneliti dari University of Washington itu menembus pesisir berlumpur, melata di tanah, digigit semut-semut merah. “Kami memantau pohon-pohon demi mencari piton, juga mengamati tanah untuk melacak kadal. Piton di sini menyantap rusa, babi, bahkan anak kecil,” tulis Celia dalam Wild Profusion: Biodiversity Conservation in an Indonesian Archipelago, sebuah dokumentasi ilmiah yang kini ramai dirujuk saat orang berbicara tentang Togean.

Dalam karyanya, Celia mengulas konsep-konsep konservasi, lalu membenturkannya dengan realitas sosial. Baginya, merawat alam tak berguna tanpa menggubris manusia yang tinggal di dalamnya. Hari ini, catatan yang ditulisnya 19 tahun silam itu seperti berbisik kembali: Togean sedang didera perikanan ilegal dan pembalakan liar. Kepulauan ini sudah lama distempel sebagai taman nasional, tapi jejaknya tak tampak. Regulasi begitu longgar. Patroli jagawana nihil. Status taman nasional sepertinya baru berwujud surat ketetapan yang kini tersimpan di laci pejabat nun jauh di Jakarta.

Sebuah survei yang melibatkan Universitas Hasanuddin dan Australian Institute of Marine Science mendata banyak kerusakan karang akibat penggunaan dinamit dan sianida. Di luar titik-titik selam, ternyata ada banyak luka yang menganga.

“Pemboman ikan masih ada, tapi dilakukan di luar Togean,” ujar seorang pria lokal. Saya memintanya menunjukkan desa yang memproduksi dinamit, tapi dia menolak, khawatir keluarganya terancam. “Togean sudah aman. Warga menjaga pulau ini,” tutupnya.