Menyelam melihat bangkai pesawat bomber menjadi aktivitas favorit penyelam. (Foto: Dedy Cono)

Pada 1998, kala Jakarta dikoyak kerusuhan, Togean justru berkilau. Sekelompok peneliti menemukan spesies endemis dari jenis monyet, biawak, tarsius, dan babirusa. Yang terakhir ini kerap dipandang sebagai hama oleh warga. Sebelum menganut Islam, suku lokal Bobongko kerap memburu babirusa dan mengonsumsi dagingnya.

Menarik waktu lebih jauh ke belakang, pada 1880-an, seorang ornitolog Jerman bernama Adolf Bernhard Meyer datang untuk mendata burung-burung di Togean. Entah apa yang ditemukannya saat itu. Tak ada dokumentasi yang merekam hasilnya. Lebih dari seabad berselang, peneliti kembali datang dan mencatatkan dua burung endemis: ninox burhani dan somadikartai. Oleh organisasi BirdLife International, Togean kemudian didaulat sebagai anggota Important Bird Areas. Walau tersembunyi dari pelupuk mata, Togean bukan tanah yang asing bagi dunia taksonomi.

Hari ini, orang-orang tak lagi berdatangan untuk melacak burung atau babirusa, melainkan menyelam. Hanya menyelam. “Togean cocok untuk penyelam pemula, karena arusnya tidak ekstrem. Koral dan ikannya sangat bervariasi,” ujar Dedy Cono, diver senior yang pernah menyelam di sini.

Pagi baru dimulai saat saya menyelam bersama sejumlah turis. Pertama-tama, kami berziarah ke bangkai paling tersohor di Togean, B-24 Liberator. Pada minggu-minggu terpanas Perang Dunia II, pesawat sekutu itu meluncur ke Morotai guna menggempur serdadu Nippon yang tersisa. Malang tak bisa ditolak, salah satu mesinnya terbakar, hingga pilot terpaksa mendarat darurat di Togean. Tujuh dekade teronggok di lantai laut, pesawat masih relatif utuh, kendati tubuhnya kini telah menjadi rumah bagi karang dan ikan.

Luca, sahabat baru saya, ikut menyelam. Entah apa yang dipikirkannya saat melihat sisa-sisa perang. Sebuah perang panjang yang melibatkan buyutnya. Remaja asal Belanda ini memiliki nenek asal Depok—menjadikannya “Bule Depok” dalam arti harfiah. Lulus SMA, Luca mengisi liburan dengan berkelana di Indonesia, melompat dari satu pulau ke pulau lain, berusaha menyambung tali silsilah dengan masa lalunya. “Ke Indonesia seperti mengunjungi akar leluhur,” ujarnya.

Kiri-kanan: Alam bawah laut Togean yang menawan. (Foto: Dedy Cono); bermain bersama ubur-ubur tanpa sengat di danau.

Di hari yang lain, saya menyelam di Pulau Una-Una. Alam bawah lautnya paling tersohor di Togean. Ikan berseliweran layaknya skuadron pesawat. Karang beragam warna merekah seperti lukisan Affandi. Untuk pertama kalinya, saya melihat eagle ray bermotif polkadot.

“Ada titik diving lain yang menarik di Una-Una?” tanya saya kepada Emmi, wanita Finlandia yang sudah dua tahun menjadi pemandu selam di Togean. “Tidak tahu, belum ada yang memetakannya,” jawabnya. “Sebenarnya ada banyak pulau yang belum diselami di Togean.”

Saya membayangkan Togean layaknya bawang yang baru dikupas kulit terluarnya. Masih banyak misterinya yang belum terungkap. Kata-kata Rendra yang tersohor itu tiba-tiba terngiang: “Daratan adalah rumah kita, dan lautan adalah rahasia.”