Panorama Togean dipotret dari bukit di atas SD Tangkian.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Atet Dwi Pramadia

Gulita kian erat memeluk Togean, tapi pesta belum hendak berakhir. Lagu Californication masih mengalun di restoran, bersaing dengan gelak tawa turis-turis yang merayakan malam dengan minuman nasional Indonesia—Bir Bintang.

“Diego dijuluki ‘anak petani’ di sana,” Luca berusaha membuat malam kian cair dengan lelucon tentang sepak bola Indonesia. Di depan gelas-gelas penuh gelembung, remaja asal Amsterdam itu bercerita panjang tentang Diego Michiels, pemain tim nasional berdarah blasteran. “Diego bergabung dengan klub paling payah di Belanda, dan dia pun jarang dimainkan,” katanya lagi.

Ini hari Selasa, terlalu dini untuk sebuah pesta. Tapi di Togean agaknya tak ada yang peduli dengan hari. Semua hari terasa sama. Semua hari adalah hari libur. Hidup begitu merdeka dari perangkap kalender. Yang dipikirkan orang paling besok menyelam di mana, bakal melihat apa, jam berapa.

Kiri-kanan: Muhammad Ikhsan, nakhoda KMP Tuna Tomini, dalam pelayaran dari Gorontalo menuju Wakai di Kepulauan Togean; KMP Tuna Tomini mengarungi Teluk Tomini.

Andri Yusuf bergabung dalam kemeriahan. Di usia muda, dia telah menekuni profesi impian: manajer penginapan di pulau tropis. Kami berbincang di serambi. Di depan kami, pantai pasir putih membentang. Jauh ke seberang, dua pulau cantik terapung—juga milik keluarga Andri. Remaja ini belum lama diwisuda. Cita-citanya menjadi pengacara. Tapi apalah pentingnya menjadi pengacara jika sudah bisa mengelola sebuah resor dan dua pulau?

Kata Andri, saban tahun, sekitar 3.000 pelancong menginap di resornya. Karyawannya 15 orang. “Tapi hari ini cuma ada 10 orang,” kata Andri resah. “Sekarang musim panen cengkih. Lima staf pulang untuk bantu panen.” Akibat karyawan berkurang, Andri terpaksa menambal posisi-posisi yang lowong. Hari sebelumnya, dia menjemput saya di dermaga dengan tangan penuh noda oli. Tak seperti calon pengacara memang.

Pariwisata di Togean kembali bergairah selepas kerusuhan Poso. Sejumlah resor bermunculan, hingga persaingan berebut karyawan kiat ketat. Anehnya, tak banyak yang mau melamar. Mungkin ini yang disebut kutukan di tanah yang subur. “Di sini orang tak perlu bekerja untuk cari makan,” Andri kembali mengeluh. “Cukup berjalan ke laut dan cari ikan, orang sudah bisa makan. Tinggal panjat pohon kelapa dan jual buahnya, sudah bisa dapat uang.”

Kiri-kanan: Gereja di Wakai, tempat satu-satunya yang memiliki jalan aspal; Musa menyelesaikan order perahu tradisional.

Botol-botol bir dingin terus terhidang. Suara debur ombak berkelindan dengan gelak tawa. Saya undur diri dari keriuhan, lalu menyelinap ke kamar dan mengunci pintu. Entah kenapa saya mengunci pintu. Tempat ini terapung di tengah laut. Tak ada celah bagi maling untuk kabur. Gorontalo di utara terpisah 12 jam. Ampana di selatan berjarak tiga jam. Dan malam ini tidak ada feri. Kapal hanya berlayar menjelang senja, itu pun tidak setiap hari. Togean bagaikan rumah yang terkurung lautan dengan pintu-pintu yang sering terkunci.

Togean masih tergolong daerah tertinggal. Listrik menyala hanya beberapa jam per hari. Koneksi internet nihil. Sinyal telepon kerap raib. Jalan aspal satu-satunya terbentang di Wakai, kota kecamatan, tempat feri memungut berton-ton cengkih dan mengirimkannya ke pabrik keretek.

Tapi wisatawan terus berdatangan. Dari seberang benua, mereka terbang belasan jam, lalu meluncur lagi belasan jam dengan feri menembus perairan labil Teluk Tomini yang rentan memicu pening dan mual. Perjalanan panjang yang tak menjanjikan kenikmatan. Apa sebenarnya yang mereka cari di sini?

Panorama dari puncak bukit karang di Kampung Papan, Malengge.

Togean melayang di tengah Teluk Tomini, Sulawesi, sekitar satu derajat di kaki khatulistiwa. Di atas peta, kepulauan ini seperti guci yang dibanting ke lantai: memanjang 90 kilometer dengan tubuh terbelah-belah oleh selat. Di dalam lautnya, karang merekah. Sebuah survei yang digelar oleh Conservation International menemukan 262 spesies koral dan 596 spesies ikan karang. Saat menyusuri perairannya, kita bisa menemukan cincin-cincin atol yang mengukir permukaan laut.

Sementara ini, pamornya masih di bawah Raja Ampat atau Taman Nasional Komodo. Togean juga belum tertera dalam rute kapal-kapal pinisi. Tapi mungkin itu yang membuatnya memikat. Orang ingin datang justru karena belum banyak orang yang datang. Di zaman ketika serpihan-serpihan bumi telah direkatkan oleh Google Earth, Togean bagaikan kepingan yang tertinggal di luar bingkai.

Di kamar saya, listrik sudah dipadamkan. Pesta bir rampung dan resor pun berubah sunyi. Andri, Luca, juga turis lainnya, telah kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk menyelam esok harinya. Hidup di Togean agaknya menawarkan siklus yang simpel: pesta, tidur, menyelam. Di dahan-dahan tinggi, kawanan tonggeret mengisi malam dengan nyanyian bising yang konstan layaknya sirene branwir. Tak ada sinyal telepon. Tak ada koneksi internet. Saya pun mulai tertular wabah lokal: tak peduli dengan hari.

Kiri-kanan: Peta Togean dan Teluk Tomini di dinding dive center Kadidiri Paradise; Emmi, pemandu selam asal Finlandia yang bekerja untuk resor Kadidiri Paradise;

Matahari masih miring saat saya berenang ke pantai, memanjat tebing, lalu menceburkan diri ke sebuah danau berair hijau. Danau yang ganjil. Di bawah perut saya, belasan ubur-ubur berseliweran seperti jamur ditiup angin. Lama terperangkap di air payau, mereka kehilangan kemampuan menyengatnya. Alam telah melucuti senjata mereka. Saya seperti dikepung oleh singa-singa ompong.

Di Kalimantan sana, danau serupa sukses mendulang banyak turis. Sejumlah teman bahkan menyebut danau itu satu-satunya tempat untuk berenang bersama ubur-ubur. Agaknya negeri ini terlalu luas untuk klaim-klaim prematur. Masih banyak rahasianya yang belum disingkap, dan Togean rupanya menyimpan banyak kejutan.

Pada 1998, kala Jakarta dikoyak kerusuhan, Togean justru berkilau. Sekelompok peneliti menemukan spesies endemis dari jenis monyet, biawak, tarsius, dan babirusa. Yang terakhir ini kerap dipandang sebagai hama oleh warga. Sebelum menganut Islam, suku lokal Bobongko kerap memburu babirusa dan mengonsumsi dagingnya.

Kiri-Kanan: Danau berisi ubur-ubur tanpa sengat, salah satu atraksi turis yang populer; Ornamen lionfish berbahan kelapa di restoran Fadhila Cottages.

Menarik waktu lebih jauh ke belakang, pada 1880-an, seorang ornitolog Jerman bernama Adolf Bernhard Meyer datang untuk mendata burung-burung di Togean. Entah apa yang ditemukannya saat itu. Tak ada dokumentasi yang merekam hasilnya. Lebih dari seabad berselang, peneliti kembali datang dan mencatatkan dua burung endemis: ninox burhani dan somadikartai. Oleh organisasi BirdLife International, Togean kemudian didaulat sebagai anggota Important Bird Areas. Walau tersembunyi dari pelupuk mata, Togean bukan tanah yang asing bagi dunia taksonomi.

Hari ini, orang-orang tak lagi berdatangan untuk melacak burung atau babirusa, melainkan menyelam. Hanya menyelam. “Togean cocok untuk penyelam pemula, karena arusnya tidak ekstrem. Koral dan ikannya sangat bervariasi,” ujar Dedy Cono, diver senior yang pernah menyelam di sini.

Pagi baru dimulai saat saya menyelam bersama sejumlah turis. Pertama-tama, kami berziarah ke bangkai paling tersohor di Togean, B-24 Liberator. Pada minggu-minggu terpanas Perang Dunia II, pesawat sekutu itu meluncur ke Morotai guna menggempur serdadu Nippon yang tersisa. Malang tak bisa ditolak, salah satu mesinnya terbakar, hingga pilot terpaksa mendarat darurat di Togean. Tujuh dekade teronggok di lantai laut, pesawat masih relatif utuh, kendati tubuhnya kini telah menjadi rumah bagi karang dan ikan.

Panorama Pulau Kadidiri, tempat yang menampung beberapa resor.

Luca, sahabat baru saya, ikut menyelam. Entah apa yang dipikirkannya saat melihat sisa-sisa perang. Sebuah perang panjang yang melibatkan buyutnya. Remaja asal Belanda ini memiliki nenek asal Depok—menjadikannya “Bule Depok” dalam arti harfiah. Lulus SMA, Luca mengisi liburan dengan berkelana di Indonesia, melompat dari satu pulau ke pulau lain, berusaha menyambung tali silsilah dengan masa lalunya. “Ke Indonesia seperti mengunjungi akar leluhur,” ujarnya.

Di hari yang lain, saya menyelam di Pulau Una-Una. Alam bawah lautnya paling tersohor di Togean. Ikan berseliweran layaknya skuadron pesawat. Karang beragam warna merekah seperti lukisan Affandi. Untuk pertama kalinya, saya melihat eagle ray bermotif polkadot.

“Ada titik diving lain yang menarik di Una-Una?” tanya saya kepada Emmi, wanita Finlandia yang sudah dua tahun menjadi pemandu selam di Togean. “Tidak tahu, belum ada yang memetakannya,” jawabnya. “Sebenarnya ada banyak pulau yang belum diselami di Togean.”

Kiri-kanan: Dermaga Paradise Resort, Pulau Kadidiri; Petani Desa Katupat memperlihatkan cengkih hasil panen.

Saya membayangkan Togean layaknya bawang yang baru dikupas kulit terluarnya. Masih banyak misterinya yang belum terungkap. Kata-kata Rendra yang tersohor itu tiba-tiba terngiang: “Daratan adalah rumah kita, dan lautan adalah rahasia.”

Turis-turis masih ingin menyelam, tapi saya memilih berjalan-jalan di Una-Una. Pulau cantik ini menyendiri di sisi barat daya. Dulu, ia disebut Pulau Ringgit. Pada zaman Hindia Belanda, pulau rimbun ini merupakan salah satu pusat transaksi hasil kebun dan laut di Togean, begitu tulis Sundjaya dari FISIP Universitas Indonesia.

“Una-Una artinya terapung-apung,” seorang pria menyambut saya di depan rumahnya. Kulitnya keriput dimakan usia. Bashiru lahir saat Jepang sedang menginvasi Indonesia. “Orang Bugis yang pertama kali menetap di sini,” ujarnya lagi.

Kiri-kanan: Wisatawan bersiap menyelam di titik selam “Bomber”; Wisatawan berjemur di haluan perahu motor dalam perjalanan menuju Pulau Kadidiri.

Sepeda motor tanpa pelat nomor berkeliaran di jalan tanah. Elang melayang di antara pucuk-pucuk nyiur. Saya melewati rumah raja yang lowong, masjid tua yang reyot digerogoti zaman, juga makam bangsawan yang lusuh digerayangi semak. Erupsi agaknya telah mengubur masa kejayaan pulau ini. Syahdan, pada 1983, gunung di jantung Una-Una meletus dan seluruh warganya diungsikan. Sisi utara pulau ludes dihujani abu, pesisir selatannya digerus abrasi. “Dulu ada delapan desa, tapi setelah gunung meletus, cuma dua yang tersisa,” Bashiru berbicara kian pelan.

Tak lama setelah mengungsi, warga kembali ke Una-Una. Pulau ini bukan rumah yang gampang dilupakan. Tanahnya subur. Hutannya rapat. Banyak orang, termasuk Bashiru, kini menyambung hidup dengan berdagang kopra—bisnis yang sepertinya punya riwayat panjang. “Kopra-kopra yang dihasilkan Pulau Una-Una lebih dari satu abad lalu menjadi komoditas penting dalam jaringan perdagangan antarpulau di Nusantara,” tulis Sundjaya dalam makalahnya.

Angin sore mulai berembus. Saya meninggalkan Bashiru dan berjalan kembali ke dermaga, melewati rumah-rumah yang dipayungi parabola. Saya kadang tak mengerti mengapa orang membeli antena saat kebutuhan kakus lebih mendesak. Tapi pertanyaan saya mungkin tak bijak. Di sudut negeri yang terpencil ini, di mana sinyal telepon genggam raib dan surat kabar tak sampai, televisi adalah jendela satu-satunya bagi warga untuk mengintip sisi lain dunia—termasuk untuk melihat wajah presiden baru mereka di istana.

Pesawat tempur B-24 Liberator di titik selam Bomber. (Foto: Dedy Cono)

Menaiki perahu bermesin tempel, saya menyisir kawasan timur Togean. Perahu ramping ini melenggang di selat-selat sempit dan melewati kubah-kubah batu yang berbalut semak. Setelah hampir empat jam merandai ombak, saya mendarat di halaman Pulau Malenge. Sehari silam, seorang pria mengatakan pulau ini ditinggali para pembuat dinamit. Entah di mana mereka sekarang. Hari ini, saya cuma menangkap kesunyian. Desa nelayan begitu lengang.

Di Malenge, Celia Lowe pernah menghabiskan berhari-hari menembus hutan untuk mengumpulkan satwa. Peneliti dari University of Washington itu menembus pesisir berlumpur, melata di tanah, digigit semut-semut merah. “Kami memantau pohon-pohon demi mencari piton, juga mengamati tanah untuk melacak kadal. Piton di sini menyantap rusa, babi, bahkan anak kecil,” tulis Celia dalam Wild Profusion: Biodiversity Conservation in an Indonesian Archipelago, sebuah dokumentasi ilmiah yang kini ramai dirujuk saat orang berbicara tentang Togean.

Dalam karyanya, Celia mengulas konsep-konsep konservasi, lalu membenturkannya dengan realitas sosial. Baginya, merawat alam tak berguna tanpa menggubris manusia yang tinggal di dalamnya. Hari ini, catatan yang ditulisnya 19 tahun silam itu seperti berbisik kembali: Togean sedang didera perikanan ilegal dan pembalakan liar.

Kiri-kanan: Relief pohon kelapa di tembok usang rumah warga di Desa Binanguna, Pulau Una-Una; Turis bermain voli pantai di Fadila Resort, Desa Katupat.

Kepulauan ini sudah lama distempel sebagai taman nasional, tapi jejaknya tak tampak. Regulasi begitu longgar. Patroli jagawana nihil. Status taman nasional sepertinya baru berwujud surat ketetapan yang kini tersimpan di laci pejabat nun jauh di Jakarta. Sebuah survei yang melibatkan Universitas Hasanuddin dan Australian Institute of Marine Science mendata banyak kerusakan karang akibat penggunaan dinamit dan sianida. Di luar titik-titik selam, ternyata ada banyak luka yang menganga.

“Pemboman ikan masih ada, tapi dilakukan di luar Togean,” ujar seorang pria lokal. Saya memintanya menunjukkan desa yang memproduksi dinamit, tapi dia menolak, khawatir keluarganya terancam. “Togean sudah aman. Warga menjaga pulau ini,” tutupnya.

Dalam laporan lainnya, Conservation International menarik kesimpulan yang lebih angker: karang Togean terancam hancur total dalam lima hingga 10 tahun lagi. Saya kutip sepenggal catatannya: “Minoritas warga (sekitar 15 persen) menerapkan cara-cara destruktif. Praktik ini akan berujung pada kehancuran perikanan karang dan mengancam kelangsungan hidup 30 ribu warga.”

Kiri-kanan: Muin Hatta, pria kelahiran Wakai yang bekerja di resor; Pondok-pondok tipe suite di Kadidiri Paradise.

Laporan-laporan getir itulah yang agaknya mendesak pemerintah menerbitkan SK Taman Nasional Togean pada 2004. Sayangnya, setelah 11 tahun, eksekusinya masih terkatung-katung, dan dunia pun meradang. Belum lama lembaga Change.org menyebarkan petisi yang memprotes eksploitasi laut, penggunaan dinamit, dan tak jelasnya status taman nasional. Destinasi selam ini sepertinya terancam meredup sebelum benar-benar bersinar.

Dari Malenge, saya kembali mengarungi laut dan melewati pulau-pulau hijau yang menyerupai cangkang penyu. Togean terdiri dari 56 pulau dan perahu adalah alat transportasi satu-satunya. Di pulau-pulau yang lebih terpencil, di mana sinyal telepon raib total, perahu berperan lebih vital sebagai penghubung tali silaturahmi. Togean kadang mengingatkan saya tentang timpangnya pembangunan di negeri ini. Saat remaja di Jakarta mengeluhkan payahnya sinyal 4G, warga di sini mesti menerjang ombak untuk sekadar menyapa sanak famili.

“Warga umumnya setuju dengan kehadiran taman nasional, tapi sistem zonasi yang digunakan kurang tepat,” ujar Saiful Amin, manajer sebuah penginapan di utara Togean. “Zona mencari ikan terlalu jauh. Nelayan di sini mencari ikan dengan cara tradisional. Mereka tak punya perahu untuk berlayar jauh, dan biaya bahan bakar terlalu mahal.”

Gudang dan perahu usang di Wakai, kota kecamatan dan tempat feri bersandar usai menempuh 12 jam perjalanan dari Gorontalo.

Saiful mungkin terlalu emosional. Barangkali dia kurang paham bahwa alam begitu rapuh di hadapan manusia. Untuk merawat lingkungan, aturan harus tegas. Sistem zonasi mesti diterapkan. Tapi Saiful merasa justru di situlah letak masalahnya. Dia menilai penggagas taman nasional gagal memotret realitas dengan bijak. Nelayan bukanlah kaum yang anti-konservasi. Nelayan dan alam bisa hidup berdampingan.

Dari 37 desa di Togean, 29 di antaranya terjerembap dalam kategori miskin. Bagi Saiful, mempersulit akses nelayan mencari ikan hanya akan membuat hidup warga kian runyam. “Pemerintah tidak bisa begitu saja mengusir nelayan,” katanya penuh gerutu, “karena yang jadi masalah sebenarnya adalah dinamit dan sianida.”

Saya meninggalkan Saiful dengan membawa semua keluhnya. Langit beranjak sore. Dari atas perahu, Togean kini terlihat seperti gadis cantik yang diperebutkan, tapi tak pernah didengar isi hatinya. Peneliti berdatangan ke sini untuk melacak satwa dan memberinya nama-nama yang aneh. Turis dari negeri-negeri yang jauh menyelam di antara ikan. Tapi, di saat yang sama, alam kian rusak dan warga mesti berjuang demi sesuap nasi. Di Togean, surga dan nestapa sepertinya berpelukan di bawah selimut yang sama.

Kiri-kanan: Basiru, warga Desa Binanguna, dengan latar Mesjid Jami Binanguna; Masker selam di Kadidiri Paradise.

Resistensi warga terhadap ide taman nasional adalah dilema klasik. Banyak orang hidup dengan cara-cara lama, jauh sebelum slogan-slogan konservasi diboyong oleh LSM. Tidak mudah mengubah tradisi bermodalkan selembar surat, apalagi saat realitas di lapangan memperlihatkan bahwa hidup tak menawarkan banyak pilihan.

Mungkin itulah yang membuat sosok Saiful bergema: dia menawarkan pilihan. Tiga tahun silam, dia dan rekan-rekannya mendirikan LSM Everto (Everybody for Togean). Mereka menebar keranjang sampah dan mencetak buku tentang pentingnya merawat lingkungan. Suatu kali, mereka menggelar perburuan sejenis bintang laut yang gemar merusak karang. Hewan berkulit durian ini mewabah karena predator utamanya, ikan Napoleon, menyusut akibat penangkapan berlebih.

Gebrakan terbesar Everto saya temukan di Desa Katupat. Saya mengunjunginya dengan menaiki perahu bermesin tempel. Tiba di dermaga, perahu-perahu nelayan tengah tertambat. Cengkih sedang panen dan banyak nelayan berpaling menjadi petani. Saya melangkah pelan melewati ribuan bunga cengkih yang sedang dijemur, sembari menghirup aroma yang dulu memikat para penjajah.

Kiri-kanan: Panorama bawah laut perairan Kadidiri Paradise; Pulau karang di dekat Paradise Resort.

Di Katupat, sekitar 15 perempuan menekuni usaha kerajinan suvenir. Bisnis kecil-kecilan ini dirintis oleh Saiful dan kawan-kawannya. Mereka menganggap, konservasi tak bisa dilihat dari sisi yang tunggal. Kerusakan lingkungan juga dipicu problem lain yang lebih mengakar—kemiskinan. Sebuah solusi cerdik lalu dicetuskan: membuat kerajinan dari sampah. Hampir semua suvenir yang dijual di resor di Togean dipasok dari sini.

“Sampah didapat dua kali per minggu dari tukang sampah. Sebagian hasil penjualan souvenir disetor ke kas, lalu dipakai untuk menggaji tukang sampah,” ujar Ima, seorang perajin. Mengandalkan kantong plastik dan bungkus kopi, dia menciptakan gantungan kunci, topi, juga dompet. Hasil penjualannya dipakai untuk menambal kas keluarga dan mengirimkan anaknya ke bangku SMP. Everto hanyalah buih kecil di tengah genangan masalah, bagaikan sebutir pil bagi komplikasi penyakit. Tapi, bukankah setiap perubahan besar harus dimulai dari percikan kecil?

Hari kian gelap. Saya melompat ke perahu dan kembali ke penginapan, kembali menyusuri kepulauan yang sedang berada di persimpangan antara konservasi dan eksploitasi. Warga percaya, ada sinar terang di ujung jalan, tapi malam ini saya tak bisa melihat apa pun di tengah gulita. Listrik sudah dipadamkan.

PANDUAN
Rute
Kepulauan Togean terletak di Teluk Tomini, Sulawesi. Ada dua cara untuk menjangkaunya. Pertama, terbang ke Gorontalo, lalu menaiki feri berdurasi 12 jam ke Wakai, kota kecamatan di Togean. Cara kedua, terbang ke Luwuk, kemudian menaiki mobil selama lima jam ke Ampana, disusul feri berdurasi tiga jam ke Wakai. Penerbangan ke Gorontalo dan Luwuk dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dan Lion Air (lionair.co.id). Bandara di Ampana sudah rampung dibangun, tapi hingga kini belum melayani penerbangan komersial.

Penginapan
Ada sekitar 10 penginapan di Togean, mayoritas membidik segmen bujet. Berada di kawasan kepulauan, sangat disarankan Anda memilih properti yang memiliki fasilitas lengkap, salah satunya Kadidiri Paradise (Pulau Kadidiri; 0852-4118-2440; kadidiriparadise.com). Perintis bisnis akomodasi di Togean ini dilengkapi dive centre, restoran, juga speedboat untuk antar-jemput turis dari Ampana. Kadidiri Paradise menaungi 32 bungalo, tapi sebaiknya pilih kelas suite (mulai dari Rp850.000 per malam untuk dua orang, fullboard) yang berbentuk rumah panggung berisi king size bed, kulkas, area relaksasi, dan teras dengan daybed. Pemiliknya belum lama meresmikan properti baru bernama Sanctum (unaunasanctum.com) di Pulau Una-Una, sisi barat daya Togean.

Aktivitas
Menyelam adalah kegiatan utama di Togean. Diversitas satwa lautnya memukau banyak peneliti. Terumbu karangnya juga lengkap, mewakili semua jenis yang dikenal dunia. Bagi penyelam yang berpengalaman, jangan lewatkan perairan Pulau Una-Una. Koleksinya antara lain penyu, barakuda, serta eagle ray. Di Una-Una, mereka yang gemar mendaki gunung juga bisa menjajal Gunung Colo, vulkan yang terakhir meletus pada 1983. Di sela sesi menyelam, Anda bisa berenang di danau berisi ubur-ubur tanpa sengat.

Meski belum banyak dilirik kaum birdwatcher, Togean sebenarnya telah terdaftar dalam Important Bird Areas. Dua satwa udara andalannya adalah burung hantu ninox burhani (namanya diambil dari pria lokal yang menjadi asisten penelitian), serta somadikartai (namanya dipinjam dari seorang ornitolog terpandang nasional). Sejumlah penelitian biologis juga berhasil menemukan satwa endemis dari jenis monyet, biawak, tarsius, dan babirusa.

Tentu saja, island hopping adalah opsi aktivitas yang menarik. Pastikan Anda mendaki bukit di sebelah SD Tangkian untuk mendapatkan sudut foto terbaik: kombinasi pasir putih, kubah-kubah batu, serta laut turkuois. Tahun ini, Togean akan menjadi tuan rumah Sail Tomini, ajang internasional yang akan mengekspos kawasan ini ke mata dunia. Datanglah sebelum kepulauan ini terlalu ramai.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2015 (“Misteri Tomini”). *Artikel ini memenangkan penghargaan Anugerah Pesona Bahari 2015 dari Kementerian Pariwisata Indonesia.