Di masa pandemi, dari 11 Desember 2021-15 Mei 2022, National Gallery of Australia menggelar pameran karya-karya Jeffery Smart. Seluruh tiketnya ludes terjual. (Foto: National Gallery of Australia)

Oleh Cristian Rahadiansyah  

Sebelum terbang, tak perlu tes Covid, tapi wajib isi formulir DPD. Setelah mendarat, PPKM sudah dilonggarkan. Masker langka. Aplikasi check in nyaris tak berguna.

Itulah ikhtisar pengalaman wisata ke Australia di masa pandemi, persisnya di Mei 2022, tiga bulan usai perbatasan negara ini dibuka kembali. Pesawat saya transit di Melbourne, lalu ke Canberra. Dari ibu kota, saya naik mobil ke Sydney.  

Aturan pandemi dalam tulisan ini berlaku hanya di tempat-tempat yang saya kunjungi. Australia bersistem federal. Ada perbedaan aturan di tiap negara bagian. Dan aturan ini juga berpotensi berubah. Pastikan Anda mengeceknya kembali sebelum membeli tiket pesawat.

Kiri-kanan: Bundaran pelangi di Canberra; Toko Pop Canberra menjajakan aneka produk kreatif lokal. (Foto: Cristian R)

Tahap pertama ke Australia, tentu saja, mengurus visa. Sejak September 2021, visa turis diurus secara daring melalui situs web Immi.

Andaikan masih memegang visa kunjungan, manfaatkan fasilitas visa waiver, jadi tak perlu membayar bea lagi. Syaratnya: masa kedaluwarsa visa lama antara 20 Maret 2020-30 Juni 2022. Tenggat untuk menikmati waiver ini ialah 31 Desember 2022.

Kelar urus visa, tahap berikutnya ialah mengisi formulir DPD (Digital Passenger Declaration). Formulir daring ini dikelola Kementerian Dalam Negeri Australia. Versi aplikasi tersedia di App Store dan Play Store. Tapi isi di web lebih praktis. Hemat memori ponsel.

Pengunjung Sculpture Gardens Canberra dengan latar instalasi Within Without dari James Turrell. (Foto: Cristian R)

DPD bisa dicicil tujuh hari sebelum terbang. Tapi formulir ini mesti dikirim paling cepat 72 jam sebelum lepas landas. Info yang diminta macam-macam, mirip formulir visa, contohnya jadwal penerbangan, alamat hotel, serta nomor kontak darurat.

Terkait pandemi, ada pertanyaan tentang riwayat perjalanan dan detail vaksin. (Anak di bawah 12 tahun tak wajib vaksin.) Asuransi kesehatan tak ditanya, karena memang tak disyaratkan. Walau begitu, Anda disarankan memilikinya. Jikalau terjangkit Covid, ongkos rumah sakit atau isoman ditanggung sendiri.

Berbeda dari minggu-minggu awal pembukaan perbatasan, Australia kini mengakui lebih banyak vaksin, termasuk Sinovac dan Sinopharm. Sertifikat vaksin mesti diunggah ke web DPD. Cukup pakai sertifikat resmi dari pemerintah Indonesia. Tak perlu diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Kiri-kanan: Barisan perahu GoBoat, operator perahu listrik di Danau Burley Griffin, Canberra; Pengunjung menyaksikan panorama musim gugur di National Arboretum Canberra. (Foto: Cristian R)

Setelah formulir DPD komplet dan dikirim, rangkumannya terkirim otomatis ke alamat email Anda. File PDF ini mesti disimpan di HP. Staf maskapai dan petugas imigrasi mungkin akan mengeceknya.

Seperti sudah disinggung di awal tulisan, saya melawat Canberra. Di sini, turis diminta melakukan tes antigen mandiri di hotel. Jika hasilnya positif, maka perlu isoman tujuh hari. Proses ini mengandalkan kejujuran. Hasil tes tidak dicek, juga tidak dilaporkan. Proses isoman pun tidak diawasi.

PPKM di Canberra amat longgar. Selama di pesawat, saya diwajibkan memakai masker oleh Singapore Airlines, maskapai yang saya naiki. Namun, begitu keluar dari pintu bandara, masker amat langka. Sulit mencari orang yang mengenakannya. Baik di hotel, mal, restoran, ataupun kafe.

Warga Sydney menikmati pagi cerah di awal Mei 2022 di kawasan Darling Harbour. (Foto: Cristian R)

Kasus serupa berlaku untuk sistem tracing. Tiap negara bagian punya aplikasi “Peduli Lindungi” sendiri. Di Canberra (Australian Capital Territory), namanya Check In CBR App. Tiga hari pertama, aplikasi ini mubazir. Tiap kali masuk bangunan, tak ada papan QR code. Hari keempat, saat akan masuk pub, akhirnya ada papan QR code. Tapi pemerintah baru saja mengumumkan mulai 13 Mei sistem check in dihentikan.

Belakangan, saya dapat info, prosedur check in berlaku hanya di kelab malam dan konser berisi lebih dari 1.000 orang. Katanya, rumah sakit dan panti jompo juga mungkin mewajibkannya.

Situasi rileks di Australia ini cukup mengejutkan. Memang, lebih dari 80% penduduk sudah dapat dua dosis vaksin, lebih dari separuhnya tiga dosis. Meski begitu, jumlah kasus Covid masih cukup tinggi. Pekan pertama Mei, per harinya tercatat rata-rata 41.000 kasus dan 40 orang meninggal.

Kiri-kanan: Turis asing di Sydney Barangaroo; Gedung pertemuan ICC Sydney menyediakan gelang dengan kode warna untuk membatasi kontak fisik. (Foto: Cristian R)

Situasi di Sydney setali tiga uang. PPKM di sini juga longgar. Turis yang mendarat di Bandara Kingsford Smith memang diwajibkan melakukan tes antigen. Tapi, setelahnya, Covid seperti sudah dilupakan.

Saya menginap di kawasan Crown Towers Sydney, sekitar 30 menit jalan kaki dari Sydney Opera House. Dari lobi hingga restorannya, tak seorang pun mengenakan masker. Di jalan-jalan kota, jumlah orang yang memakai masker bisa dihitung dengan jari. Cukup jari tangan.

Prosedur check in juga sudah tak diterapkan di Sydney. Masuk toko atau restoran, tak wajib memindai QR code memakai aplikasi Service NSW App, aplikasi Peduli Lindungi versi negara bagian New South Wales.

Warga dan turis di kawasan pelabuhan, dengan latar hotel baru W Sydney yang akan dibuka tahun ini. (Foto: Cristian R)

Sepanjang pandemi, Australia terkesan paranoid. Menutup diri rapat-rapat. Bergegas lockdown saat ada laporan kasus. Kini, atmosfernya rileks dan aturannya longgar. Bahkan lebih longgar dari Jakarta.

Mungkin karena banyak orang masih cemas dengan kelonggaran ini, sejumlah gedung pertemuan menyediakan solusi cerdik untuk mengatasi kecanggungan dalam kontak fisik: gelang tiga warna. Memakai gelang hijau artinya Anda sudi bersalaman dengan orang lain. Gelang jingga artinya masih merasa waswas. Merah artinya jaga jarak. Silakan pilih sendiri.

Mudik ke Jakarta, tes PCR disyaratkan pemerintah Indonesia. Di Sydney, klinik tes tersedia di Bandara Kingsford Smith. Hasilnya didapat dalam 45-60 menit, dikirim ke alamat surel dan bisa dicetak di lokasi. Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada 17 Mei, tes PCR saya ternyata tidak dicek, karena pemerintah memang baru saja menghapus syarat ini.