Seorang turis tengah memotret keindahan alam. Safari menjadi aktivitas utama di Patagonia.

Usai menyusuri Ngarai Aisén yang panjang dan menawan, MV Alejandrina akhirnya mencapai daratan utama Patagonia. Dari Puerto Chacabuco, saya naik bus selama sejam menuju Coyhaique, kota yang dikepung puncak bersalju. Ini adalah salah satu dari segelintir tempat di selatan Chile di mana Anda bisa menemukan jalan mulus untuk menyeberangi Andes menuju Argentina.

Saat hendak mendarat di Punta Arenas, kota paling selatan di daratan Amerika Selatan, pesawat melayang rendah di atas Selat Magellan. Saya bisa melihat jelas pecahan-pecahan ombak yang menghantam Tierra del Fuego.

Dari Punta Arenas ke pegunungan, saya melewati padang datar mahaluas yang disebut pampa. Rumput cokelat terhampar hingga berkilo-kilometer, diselingi sesekali oleh kincir angin atau kumpulan domba yang meringkuk dikepung angin kencang. Berulang kali saya melihat pelang yang menampilkan arah ke jalan tanah menuju estancia (peternakan). Beberapa properti di sini telah membuka pintunya bagi wisatawan untuk berkunjung dan bermalam.

Di Estancia Cerro Guido, saya me-nunggang kuda dengan beberapa gaucho, membelah pampa, lalu menikmati makan malam dengan menu domba panggang. “Saya mengendarai kuda sejak berusia enam atau tujuh tahun,” kenang Patricio Varcaza, salah seorang gaucho. “Bergelut dengan kuda, sapi, dan domba, kehidupan saya memang keras. Ketika dulu memulai-nya, kondisinya jauh lebih sulit. Di masa itu tak ada truk atau radio. Dan setelah peralatan modern itu kami miliki, pekerjaan tak otomatis lebih mudah. Kami menggembala hewan seraya menantang hujan, angin, dan salju.”

Kolam renang di resor Tierra Patagonia dengan pemandangan panorama memikat.

Saya pun bertanya tentang kostum yang dikenakannya: baret merah, mafela hijau, dan setagen yang melingkari pinggang. “Ini semacam sabuk hitam dalam karate,” katanya. “Untuk meraih ketiganya, seorang gaucho harus menjadi pengendara yang baik.” Varcaza meraih-nya dengan mengendarai kuda liar di area rodeo, serta memenangkan ajang balap 50 kilometer di pampa. “Pemenangnya,” ujarnya, “bukan kuda yang tercepat, tapi yang finis dengan kondisi paling fit.”

Saya menginap di Tierra Patagonia, pondokan berisi 40 kamar di tepi Taman Nasional Torres del Paine. Esok paginya, sambil meringkuk di bibir jendela, saya menonton fajar merekah di atas rangkaian gunung. Pemandangannya menakjubkan. Secara perlahan, gunung-gunung diterpa sinar emas mentari dan rona biru yang menginspirasi nama “paine” (ternyata tidak ada hubungannya dengan “pain”).

Di beberapa hari berikutnya, saya mendaki dengan ditemani pemandu dari Tierra Patagonia. Hunters Trail adalah rute yang paling berkesan. Saya mengarunginya bersama seorang ilmuwan bernama Felipe Zúñiga. Katanya, nama Hunters Trail merujuk pada puma yang sering berkeliaran di sekitar rute ini. Saya tidak bisa melihat satwa predator itu di siang hari, kecuali hanya bekas-bekas aktivitas nokturnal mereka, seperti feses dan bangkai guanaco.

Kami juga sempat bersua dengan kawanan guanaco. “Saat Spanyol tiba, terdapat 30 hingga 50 juta ekor guanaco di Patagonia,” jelas Zúñiga. “Mereka diburu hingga nyaris punah. Hari ini, hanya sekitar setengah juta ekor yang tersisa. Mereka kini dilindungi, beberapa orang bahkan mencoba menernaknya.”

Panorama alam indah yang senantiasa membius di setiap sudut Patagonia.

Sebelum diresmikan sebagai taman nasional pada 1959, Torres del Paine begitu terpencil hingga hanya beberapa manusia yang pernah menginjakkan kakinya. Mereka yang akhirnya singgah pun tak menetap lama akibat alamnya yang terlalu ekstrem. Beberapa tempat di bumi memang terjaga dengan sendirinya.

Di akhir rute, kami bertatap muka dengan tiga menara granit biru yang menjadi ikon Torres del Paine. Ditempa selama ribuan tahun oleh tekanan glasial, bebatuan itu sangat ramping. Salah seorang pengunjung asal Inggris bahkan menjuluki “jarum-jarum Cleopatra.” Terpana oleh keindahannya, saya hanya bisa duduk sembari menganga. Momen ini telah saya nantikan selama puluhan tahun. Waktu penantian yang sepadan.

Seorang penggembala di padang rumput dengan latar belakang pegunungan bercaping es.

DETAIL
Chile Selatan

Rute
Ke Santiago, rute tersingkat adalah melalui Sydney dengan Qantas (qantas.com.au) atau via Auckland dengan Cathay Pacific (cathaypacific.com). Penerbangan harian tersedia untuk menghubungkan Ibu Kota Chile dengan Puerto Natales atau Punta Arenas di selatan negeri. Jika ingin menikmati pesisir, Navimag Ferries (navimag.com) menawarkan pelayaran satu malam dari Puerto Montt ke Puerto Chacabuco, dengan kabin bertarif $246.

Waktu Berkunjung
Beriklim Mediterania yang sejuk, Santiago menyenangkan untuk dikunjungi sepanjang tahun. Kondisinya kontras dari Patagonia. Kecuali Anda penggemar cuaca ekstrem, wilayah selatan harus dihindari di musim dingin (Juni-Agustus), ketika suhu kerap berada di bawah titik beku dan hujan atau salju bisa turun saban hari. Musim panas (Desember-Februari) adalah momen trip yang paling ideal, tapi sebaiknya tetap siapkan jaket tahan air dan sarung tangan.

Penginapan
Salah satu hotel trendi di Santiago, The Aubrey (Constitución 299-317; 56-2/2940-2800; theaubrey.com;  doubles mulai dari $240), terletak di daerah eksentrik Bellavista, tak jauh dari rumah penyair Pablo Neruda. Kemewahan juga bisa didapatkan di Ritz-Carlton, Santiago (15 Calle El Alcalde; 56-2/2470-8500; ritzcarlton.com; doubles mulai dari $279).

Taman Nasional Torres del Paine menawarkan sejumlah pondokan premium. Salah satu yang terbaik adalah Tierra Patagonia (56-2/2370-5301; tierrapatagonia.com; tiga malam mulai dari $2.250 per orang, double, all-inclusive). Selain kuliner lokal, hotel ini menawarkan spa, kolam renang indoor, dan aneka trip bersama pemandu. Di timur taman nasional, Estancia Cerro Guido (56-9/6588-1314; cerroguido.cl; doubles mulai dari $200) menyuguhkan cita rasa kehidupan pedesaan yang autentik melalui paket menggembala ternak dan memasang ladam.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Janurai/Februari 2014 (“Teroka Patagonia”).