Seorang koboi Chile tengah menatap lanskap sublim lembah-lembah di Rio Baguales.

Mayoritas dongeng lokal menampilkan makhluk yang menakutkan. Tiga yang terkenal adalah voladora atau iblis wanita yang bisa terbang dan meraih keabadian dengan melahap ususnya sendiri; basilisco, reptil berbulu yang menyantap dahak manusia; serta trauco, ogre penghuni pohon yang dapat mencabut nyawa manusia dalam sekejap. Menurut Yáñez, dongeng lokal tumbuh di area yang terisolasi secara geografis dan kultural selama berabad-abad. “Hingga 1970-an, atau bahkan mungkin 1980-an, sebagian besar warga masih percaya pada cerita-cerita tersebut,” tambahnya. “Tapi kini kondisinya sudah jauh berbeda.”

Benarkah demikian? tanya saya. Yáñez hanya mengangkat bahu, lalu kembali bercerita. “Ada sebuah legenda tentang Caleuche, kapal berhantu yang mengumpulkan jiwa orang-orang yang tenggelam. Awalnya saya tidak percaya, tapi dalam dua pelayaran semalam suntuk ke pulau-pulau terpencil, saya melihat sebuah kapal misterius yang terus membuntuti, tapi kemudian mendadak raib. Itu pengalaman yang mengguncang keyakinan.”

Di hari ketujuh, saya menuju Quellón, pelabuhan di bibir selatan Chiloé sekaligus persinggahan paling utara bagi feri yang melintasi Teluk Corcovado ke titik-titik terjauh di Kepulauan Chonos.

MV Alejandrina menyusuri pesisir dan melewati tempat-tempat yang cuma bisa diakses dengan perahu atau pesawat amfibi. Kapal jingga ini bertolak sekitar tengah malam, melun-cur pelan melewati Isla Cailin, situs Yesuit dari abad ke-16. Penjajah Spanyol menjulukinya “tapal batas terluar dunia Kristen.” Di depan saya terdapat banyak pulau dan ngarai yang tak sempat dijinakkan penakluk asing. Ke sanalah saya menuju.

Pengembala dan domba-dombanya menjadi pemandangan yang lazim di Patagonia.

Teluk yang saya lewati senantiasa bergolak, memaksa beberapa penumpang keluar-masuk toilet. Dalam gelap, kami memasuki perairan tenang Isla Ascensión, lalu kapal melempar sauh di Melinka, pelabuhan pertama dari total sembilan yang akan disambangi MV Alejandrina dalam ekspedisinya ke selatan.

Melinka adalah permukiman Eropa tertua di kawasan ini. Namanya diambil dari nama istri seorang imigran Lithuania yang merintis kehidupan di sini pada 1869. Saya datang di waktu subuh ketika semua toko masih terlelap. Kendati begitu, banyak orang berkumpul untuk menyambut feri di pelabuhan. Saya bertanya kepada salah seorang pedagang, apa yang dilakukan warga selain menangkap ikan? “Minum!” jawabnya.

Dari Melinka, feri bergerak zigzag melalui gugusan pulau yang di atas peta disebut Peligroso Manzana atau “Apel Berbahaya.” Kabut melayang seperti sarang laba-laba yang melintang di teluk-teluk kecil, sementara hutan membalut pesisir dengan latar gunung-gunung bercaping salju.

Hari ketiga saya di atas feri diawali oleh fajar yang kelabu. Di antara interior pulau dan hutan lebat Isla Magdalena, kabut pekat melayang di area berkembang biaknya burung laut dan penguin Magellanic. Sebagian besar wilayah pulau ini berstatus kawasan konservasi. Fasilitasnya sangat minim. Tak ada pondokan. Tak ada rute mendaki. Tak ada pos jagawana. Satu-satunya tempat bagi manusia adalah Puerto Gaviota, permukiman yang sangat terpencil.

Saya terkejut saat mendapati kaum pria di sana menyuguhkan tampilan ala bajak laut: rambut gondrong, tato, dan tindik tubuh. Mereka terlihat mirip kru Black Pearl, atau mungkin kapal hantu Caleuche. Roberto Vadim, seorang pandai besi, menjelaskan mengapa pelabuhan ini memancarkan aura ganas. “Orang-orang yang pertama kali membuka lahan di sini pada 80-an adalah kaum pembangkang politik yang melarikan diri dari cengkeraman Pinochet,” katanya.

Fasad modern Tierra Patagonia dengan latar pegunungan cantik.

Kaum pelarian itu menciptakan gulag rahasia di tengah alam liar Patagonia. Mereka dianggap ilegal di taman nasional. Saat jagawana (serta polisi rahasia Pinochet) datang, mereka bersembunyi di tengah rimba. “Satu-satunya yang mau menolong mereka,” lanjut Vadim, “adalah pastor Italia bernama Antonio Ronchi. Dia menyuguhkan komuni kepada mereka, menikahkan mereka, juga menguburkan mereka ketika tak ada orang lain yang mau melakukannya. Dia pula yang memasok makanan, pakaian, serta bahan bangunan.”

Pastor Ronchi juga berperan penting dalam membujuk otoritas taman nasional agar tak mengusir para penghuni Isla Magdalena setelah Pinochet digulingkan. Pria karismatis itu pun berkembang menjadi tokoh supranatural, menyaingi popularitas makhluk halus Chile. Saya mendengar kisah sang pastor yang mendadak muncul di atas perahu kecil di tengah badai sembari membawa makanan bagi warga. Melihat kiprahnya selama hidup, orang mungkin sulit menemukan penjelasan bagaimana dia bertahan hidup dari badai dan sentuhan polisi rahasia, selain dengan kemampuan klenik. >>