Ada berkah di balik wabah. Akibat pandemi Covid-19, banyak destinasi dunia memberlakukan PSBB dan membatasi aktivitas wisata. Seiring itu, alam pun perlahan pulih.

Di Istanbul, lumba-lumba kembali bermain di selat Bosporus. Di Venesia, air kanal kembali jernih sampai-sampai rumput laut terlihat dengan mata telanjang. Di Hat Chao Mai National Park, Thailand, lebih dari 30 dugong tertangkap kamera. Sementara di utara India, warga bisa melihat Himalaya berkat susutnya polusi.

Semua kejadian itu seolah mengirimkan pesan: bumi lebih sehat jika pariwisata dikontrol. Pandemi memperlihatkan apa jadinya dunia tanpa mass tourism. Dengan itu pula, wisata ramah lingkungan kembali menemukan gaungnya. 

Ada banyak variasi konsep wisata ramah lingkungan. Kita mengenal, misalnya, ecotravel, responsible travel, sustainable travel, ethical travel, green travel, dan conscious travel. Jika diringkas, intinya ialah wisata yang menghasilkan dampak positif maksimal dan ekses negatif minimal, baik terhadap lingkungan alam maupun sosial. 

Kampanye untuk itu sudah lama dilakukan. Salah satu tonggaknya ialah Rio Earth Summit 1992, di mana 182 negara mengadopsi cetak biru pengembangan wisata ramah lingkungan. PBB juga mendeklarasikan 2017 sebagai International Year of Sustainable Tourism for Development. Selain itu, pariwisata sudah masuk agenda Sustainable Development Goals.

Sayangnya, wisata ramah lingkungan hingga kini belum benar-benar masuk arus utama industri. Hanya segelintir perusahaan yang menjadikannya pakem operasional. Mungkinkah pandemi jadi momentum kebangkitan wisata ramah lingkungan? Bagaimana cara terbaik meresponsnya? Dan dari mana kita memulainya?

Di episode keempatnya, program diskusi Bicara Wisata akan mengulas tema momentum sustainable travel di tengah pandemi. Diskusi via Zoom ini akan berlangsung pada Jumat, 3 Juli 2020, pukul 14:00-15:30 WIB. Ada lima panelis yang akan hadir, yakni: 

1. Wiwik Mahdayani, Founder & Director DESMA Center, penulis buku The Green Traveler-Catatan Perjalanan Ekowisata di Indonesia
2. Zahrah Ratna Sari, Sustainability Manager Six Senses Uluwatu, Bali
3. Nandang Prihadi, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
4. M. Baiquni, Inisiator Sustainable Tourism Action Research Society (STARS), Guru Besar Universitas Gadjah Mada
5. Caroline Deiman, Operational Manager Happy Trails! Asia, Anggota Indonesian DMC Sustainability Collaboration

Diskusi ini terbuka gratis untuk umum. Untuk mendaftar, silakan klik di sini. Rekaman diskusi ini juga akan ditayangkan di YouTube. —Advertorial