Di depan sebuah istana mini yang menatap laut, yang arsitekturnya nyaris sama dengan istana negara, saya menumpang perahu. Kira-kira 500 meter ke tengah, saya melihat cantiknya dasar laut. Saya memutuskan berenang, mengepung dengan alat selam seadanya. Betul saja, karpet elok Turki melapisi alas laut. Ikan-ikan aneka warna berseliweran. Semuanya bagai dunia lain, dunia yang jauh lebih damai. Saya memaksa menyelam tanpa pemberat dan menyaksikan kecantikan yang begitu menawan. Barangkali bom ikan belum sampai ke sini.

Arus kemudian memusing di tengah. Perahu yang mengantar saya raib entah ke mana. Segala ilmu selam dan ilmu berenang saya—yang saya anggap jempolan untuk standar orang pesisir Sumatera—ternyata sia-sia. Saya hampir kehilangan akal dan tenggelam. “Maut akan dekat ketika engkau tidak bisa menguasai diri,” kata seorang guru silat pada saya. Tapi saya tidak sedang bersilat, melainkan bertarung dengan arus. Kepanikan adalah jarak yang akan mendekatkan engkau dengan maut, kata-kata guru saya terngiang lagi.

Anak-anak bermain di sore hari seusai tidur siang. Tidur siang menjadi kebiasaan lumrah di Banda.

Kaki saya mendadak setengah keram, sementara daratan masih sangat jauh. Saya tidak ingin berteriak meminta pertolongan. Selain sia-sia, berteriak juga tindakan yang memalukan bagi orang pesisir. Saya cuma ingin segera selamat dari pusaran arus yang tak menentu ini. Banda yang cantik ini ingin melamun saya dengan arus dan cintanya. Saya jadi ingat sebuah sajak yang ditulis Chairil Anwar pada 1940-an: sajak terakhir akan lahir dari dasar lautan. Tapi Chairil telah lama tiada, dan entah mengapa dalam keadaan begini genting saya harus mengingat sebuah sajak. Saya pun pasrah: membalikkan badan, menatap ke langit yang biru. Tubuh saya mengikuti arus hingga tepian. Saya buang ketakutan dan kesombongan. Laut ternyata tidak butuh penakluk, melainkan meminta kita mengalun bersama arusnya.

Di pantai, dalam lelah, saya menatap laut. Di belakang saya, Banda menggelontorkan warna hijau pucuk-pucuk pala. Besok saya akan pulang ke Sumatera. Hatta dan Sjahrir barangkali melakukan hal yang sama dulu, di sini, di pantai Banda ini: menengok laut, lalu menoleh pada Banda, melambai sejenak, kemudian dipulangkan pemerintah kolonial ke Batavia, meninggalkan tempat yang telah menyambut dengan tangan terbuka.

Panduan

Rute
Bandara Banda Neira sempat berhenti beroperasi, tapi kemudian kembali berfungsi pada akhir 2014. Aviastar (021/862-6789; aviastar.biz) melayani tiga penerbangan per pekan dari Ambon ke Banda. Opsi lain untuk menjangkaunya adalah kapal milik Pelni (pelni.co.id), tapi jadwal keberangkatannya tidak menentu: kadang dua kali sepekan, kadang absen sebulan penuh bila badai menghadang. KM Ciremai, KM Tidar, dan KM Kelimutu bertolak dari Ambon ke Banda Neira dengan tarif Rp343.500. Pastikan Anda dua kali memeriksa jadwal untuk perubahan yang tak terduga. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah April hingga November, terutama jika ingin menyelam. Dari Desember hingga Maret, musim angin barat, kapal-kapal enggan melaut ke Banda Neira.

Penginapan
Tidak perlu berpikir panjang untuk penginapan. Anda bisa menumpang di mana saja. Hotel pun banyak. Hotel Maulana (Jl. Maulana; 0910/21022; mulai dari Rp 250.000) adalah satu-satunya akomodasi yang menyewakan peralatan selam. Opsi lainnya adalah Mutiara Guesthouse (0813-3034-3377; abba@ banda-mutiara.com; mulai dari Rp300.000).

Aktivitas
Tawaran utamanya adalah bertualang ke berbagai pulau di Kepulauan Banda: Pulau Banda Besar yang ditumbuhi pala, Pulau Run, dan Pulau Hatta. Saban pagi tersedia kapal ke sana dari Banda Neira. Menyewa kapal bertarif Rp1.000.000, Anda bisa melakoni tur lintas pulau seharian. Laut umumnya bersih dan pantainya berpasir putih. Anda juga bisa mengunjungi Rumah Budaya (Jl. Gereja Tua), museum yang menyimpan beberapa peninggalan sejarah, seperti meriam, uang, peta, helm, lukisan bertema peperangan, serta diorama sejarah Banda. Ada pula Rumah Hatta dan Rumah Sjahrir yang menyimpan memorabilia dua tokoh bangsa. Istana Mini Neira, dulu kediaman Gubernur Jenderal Belanda, pernah ditinggali Jan Pieterszoon Coen, pendiri Batavia. Di depannya teronggok meriam sisa perang. Jangan lupakan Benteng Nassau dan Benteng Belgica. Makan ikan asap yang gurih sembari berjalan mengitari benteng-benteng kolonial tak kalah menyenangkan. Pulau Gunung Api, pulau vulkanis setinggi 666 meter yang terakhir meletus pada 1988, bisa didaki puncaknya dengan durasi sekitar dua jam.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2015 (“Saga Pala”)