Kiri-kanan: Istana yang arsitekturnya menyerupai Istana Negara di Jakarta; lukisan Pieter van den Broecke, kepala kantor VOC di Banda.

Puas berkeliling dengan perahu, saya berkeliling daratan Banda. Persinggahan pertama, Rumah Budaya Banda Neira. Di interiornya, saya terpaku lama memperhatikan sebuah lukisan. Digambarkan, para eksekutor dari negeri samurai menebas kaum kaya Banda dengan katana. Pangkal masalahnya, konon, orang-orang kaya (julukan cendekiawan Banda) itu memberontak. Tanah yang harum aroma pala ini ternyata menyimpan catatan penuh darah. Amisnya seperti tidak kunjung hilang hingga hari ini.

Tak jauh dari museum terdapat benteng sepuh Belgica di mana lima meriam mengarahkan moncongnya ke pantai. Neira yang cantik, dengan pasir putih yang membingkai, dijaga dengan pedang terhunus. Dari atas Benteng Belgica, Banda Neira terlihat seperti gadis lugu dengan beberapa bekas luka sejarah yang telah mengering pada pipinya. Ia dulu jadi rebutan kaum pengembara Portugis, disusul bangsa-bangsa Eropa lainnya.

Berbagai pertempuran pecah hanya untuk satu alasan: pala, komoditas yang jauh lebih berharga dari emas pada masa itu. Belanda dan Inggris berseteru merebutkan Run, salah satu pulau kecil di Kepulauan Banda. Belanda sampai sudi menukar Manhattan dengan Run yang sebelumnya dikuasai Inggris. Run, menurut Des Alwi dalam buku Sejarah Banda Naira, adalah pulau terpenting di antara pulau-pulau lainnya di Banda. Pulau inilah yang menjadi awal sengketa antara VOC dan Portugis. Sengketa yang berlarut selama 60 tahun.

Saya berjalan mengitari benteng, melihat kebun-kebun pala dari kejauhan. Seorang turis asal Belanda menghampiri saya. Dia datang usai membaca catatan harian kakeknya. “Kami dulu pernah menguasai sebuah surga kecil di Timur yang berisi tumbuhan wangi,” tulis catatan itu, katanya. Kemudian dia mengeluh dalam bahasa Inggris yang agak janggal di telinga.

Kiri-kanan: Artefak sejarah berupa gembok dan koin lawas yang dikumpulkan di sekitar Belgica dan dijajakan ke turis; petani tua yang kehilangan keluarganya di zaman penjajahan Jepang.

Memang butuh tenaga untuk sampai ke “surga kecil di Timur ini,” ujarnya. Seperti saya, dia terpaksa naik kapal tua penuh karat dari Ambon. Seorang lelaki usia 30-an datang menyalami si turis. Lelaki itu, Maga Fira, seorang guru honorer yang menyambi sebagai pemandu. Dari dalam tasnya yang lusuh, Maga mengeluarkan koin-koin VOC. Si turis memegangnya dengan mata terbelalak, kemudian menyampaikan keluhan yang sama pada Maga: transportasi ke Banda yang tidak terjadwal! “Sejak Pak Des tidak ada, pulau ini terisolasi,” kata Maga menjawab keluhan si turis. Des Alwi, anak angkat Sjahrir, memang terkenal di Banda.

Keduanya berlalu, menyusuri lorong-lorong benteng. Dulu, Belanda menguasai Banda. Sekarang, pria Banda menjadi pemandu untuk turis Belanda. Saya melihat keduanya berjalan bersisian: pribumi dengan turis, sebagaimana di masa lalu, hanya dalam sisi yang berbeda. Benar kata Maga, Banda merupakan surga yang tengah terisolasi. Penerbangan ke sini sudah ditutup, namun turis masih berdatangan dengan kapal yang tak terjadwal rapi, penuh sesak, dan senantiasa terseok-seok dihajar ombak. Apa yang hendak mereka cari di pulau-pulau kecil yang dikungkung lautan dalam ini?

“Mereka ingin menyelam,” jawab Yayu, wanita lokal berwajah eksotis. Dialah yang memperkenalkan saya kepada Alfan Daulau, guru SMP Tanah Rata. Alfan lalu mengajak saya ke sekolahnya untuk mengisi kelas, mengajar apa saja, dan saya memilih pelajaran mengarang.  Di Banda, hanya ada pala, cengkih, dan kenari. Tapi di lautnya, kapal-kapal menancapkan jangkar dan memanen tuna, komoditas unggulan pulau ini. Di hari yang lain, saya mengikuti seorang penambang mutiara. Katanya, di laut Banda terhampar karang warna-warni bak permadani yang disulam wanita-wanita Turki.