Magnet Desa Nelayan Hong Kong

Pelita hidup meredup di Tai O, sebuah desa nelayan terpencil di Pulau Lantau, Hong Kong. Di sinilah warga sepuh bertahan demi memelihara tradisi leluhur. Mungkinkah pariwisata membuat mereka tersenyum lebih lebar?

Kiri-kanan: Fish maw kering di pasar Tai O; rumah-rumah panggung komunitas nelayan kini menjadi aset wisata Tai O.

Akibat banyak pemuda desa eksodus ke kota demi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, gaji yang lebih tinggi, dan segala kesenangan duniawi, populasi desa menyusut drastis, dari awalnya 30.000 jiwa menjadi hanya 2.000-an orang. Pada kunjungan terakhir, saya diundang ke rumah Soh Loi. Dia mem-perkenalkan dirinya sebagai “ketua komunitas nelayan”. Kediamannya terdiri dari empat rumah panggung yang saling terkoneksi. Berbahan kayu kokoh, lantai rumah memantulkan gema dari balok-balok plastik mah-jongg yang dimainkan ibu-ibu di sisi belakang. Tanpa mereka, rumah ini hampa. “Tiap akhir pekan, anak-cucu saya datang untuk pesta bar-beku,” ujar Soh. “Hanya di akhir pekan.”

Sektor pariwisata membantu menjaga asa warga Tai O. Lantau, pulau yang memiliki Big Buddha, kereta gantung, dan Disneyland, memikat begitu banyak wisatawan. Sebagian mampir di Tai O guna menyelami pesona kolotnya. Desa ini juga merupakan titik tolak tur perahu untuk menyaksikan lumba-lumba putih Cina (Indo-Pacific humpback dolphin) yang berhabitat di perairan keruh Pearl River Delta. Hong Kong Dolphin Conservation Society memperkirakan populasinya di Hong Kong sekarang tinggal 300 ekor.

Seorang warga Tai O, Liu Tik-sang, profesor di Hong Kong University of Science and Technology, memuji keuletan dan kekuatan komunal warga yang berta-han di tengah transformasi Tai O menjadi destinasi wisata. Menurutnya, prosesi keagamaan seperti parade perahu naga lebih bernyawa dibandingkan dulu.

Kiri-kanan: Restoran beratap transparan di Tai O Heritage Hotel; penginapan Tai O Heritage Hotel milik Daryl Ng berdiri di lereng dan menghadap laut.

Tapi tak bisa dimungkiri, Tai O mem-butuhkan inisiatif baru agar bisa kembali bersinar, bukan sekadar bertahan hidup. Karena itulah debut Tai O Heritage Hotel tahun lalu memiliki makna yang signifikan. Penginapan berisi sembilan suite ini menempati bekas kantor polisi air yang didirikan pada 1902 dengan tujuan mengamankan teluk dari aksi perompak. Tai O Heritage Hotel berdiri di lereng bukit rimbun yang menatap pantai. Konsepnya digagas oleh Daryl Ng, cucu dari pendiri perusahaan pengembang Sino Land. “Saya berharap proyek ini bisa merealisasikan tiga tujuan,” jelasnya, “yakni memungkinkan pengunjung merasakan kenikmatan dan pesona desa tradisional Hong Kong, menghidupkan warisan dan sejarah Hong Kong, serta menyuguhkan ekowisata.”

Di malam hari, tamu dapat menyaksi-kan bintang yang hampir tidak terlihat dari Central atau Kowloon. Daya pikat lainnya lebih bernuansa sosial. Menginap di Tai O Heritage Hotel, tamu secara tidak langsung turut berkontribusi pada perekonomian setempat. Separuh dari total 34 staf hotel adalah warga Lantau. Sedangkan restorannya yang beratap kaca menggunakan banyak komponen lokal, mulai dari petis udang hingga cheesecake dengan begonia gunung.

Kisah-kisah sedih, tentu saja, masih ada. Harapan akan masa depan kadang terbentur oleh realitas pahit. Salah seorang karyawan hotel mengutarakan pujiannya atas atmosfer tenang dan damai Tai O, tapi ia juga cemas jembatan sepanjang 29 kilometer yang kini sedang dikonstruksi di lepas pantai untuk menghubungkan Hong Kong-Makau-Zhuhai, bakal mengoyak ekologi laut dan mengusik keindahan panorama desa.

“Pemerintah tidak peduli dengan eksistensi lumba-lumba,” katanya. “Hanya empat tahun tersisa bagi kami untuk menikmati laut. Hanya empat tahun.”

DETAIL
Tai O

Rute
Taksi berwarna biru yang melayani rute ke Lantau bisa ditemukan antara lain di bandara, Disneyland, dan Tung Chung. Jika ingin memesan, hubungi 852/2984-1328. Opsi lainnya adalah feri dari Central Ferry Pier 6 menuju Mui Wo, disambung bus di jalur satu menuju Tai O selama 50 menit. Penerbangan langsung ke Hong Kong dilayani antara lain oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dan Tigerair Mandala (tigerair.com) dari Jakarta dan Cathay Pacific (cathaypacific.com) dari Surabaya.

Penginapan
Sembilan suite di Tai O Heritage Hotel (Shek Tsai Po Street, Lantau; 852/2985-8383; taioheritagehotel.com; doubles mulai dari $193) cukup laris, jadi sebaiknya lakukan reservasi jauh hari. Cara terbaik menutup liburan Anda adalah mengikuti sunset bout tour yang ditawarkan pihak hotel.

Diterbitkan pertama kali di edisi cetak DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2013 (“Detour: Lika-Liku Lantau”)

Comments