Alasan Grup Virgin tak punya bisnis pesiar ialah karena pemiliknya, Richard Branson, tak suka konsepnya. Tapi pendirian itu kemudian direvisi pada 2014 menyusul hasil riset yang mendapati banyak orang dengan alergi serupa mengaku sudi mencoba tur pesiar asalkan dikelola oleh Grup Virgin. Tahun ini, setelah enam tahun disiapkan, Virgin Voyages meluncurkan kapal pertamanya—Scarlet Lady.

Spesies baru di lautan, Scarlet Lady berniat mengajak publik melupakan konsep pesiar generasi orang tua. Kapal ini dikhususkan untuk dewasa (minimum 18 tahun), bebas bahan plastik satu kali pakai, dan melayani carter untuk grup LGBTQ. Untuk penyajian makanan, tak ada model prasmanan yang riuh. Alih-alih, Scarlet Lady menyediakan 20 gerai kreasi koki kondang sekaliber Sohui Kim dan Brad Farmerie. Sementara untuk minuman, lantaran jengah dengan strategi operator mencari uang dari penjualan air kemasan, air hasil filter dipasok gratis kepada 2.770 penumpang.

Dalam hal rasa dan tampilan, bahtera buatan galangan Fincantieri ini juga ingin berbeda dari para senior di samudra. Mewujudkan tema “Rebellious Luxe,” Scarlet Lady membentuk think tank Creative Collective berisi figur-figur berpengaruh di industri kreatif. Tom Dixon menangani interior kabin. Gareth Pugh, perancang busana Inggris, mendesain seragam kru. Sementara Mark Ronson, peraih tujuh trofi Grammy, meramu karakter musik di kapal.

Baca juga: Berlayar Bersama Kapal Pesiar Paling Ramah Lingkungan; Kontras & Cerita di Kapal Pesiar

Akibat pandemi Covid-19, Scarlet Lady menggeser jadwal pesiarnya, dari April menjadi Agustus 2020. Bahtera yang dioperasikan Virgin Voyages ini akan berlayar dari Miami menuju Karibia, mencakup transit di Bimini Beach Club di mana DJ Diplo telah menanti dengan racikan musiknya.

Informasi lebih lanjut, kunjungi Virgin Voyages.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2020 (“Melawan Arus”)