Ekspedisi Pinisi Bersama Ayana Komodo

Tak hanya menyuguhkan panorama laut dari kamar, Ayana Komodo kini menawarkan kapal pinisi untuk mengarungi lautan.

Lako Di’a, pinisi sepanjang 54 meter yang diluncurkan Mei 2019.

Oleh James Louie

Lako Di’a adalah bahasa Manggarai yang artinya kurang lebih “semoga selamat di perjalanan.” Nama ini dipilih resor Ayana Komodo untuk kapal pinisi miliknya yang diluncurkan Mei silam. Selama dua hari, saya bersama lima penumpang lain berkelana menaikinya.

Untuk standar pinisi bintang lima, posturnya cukup gigantik: membentang 54 meter dan menampung sembilan kabin. Lako Di’a bukan pinisi pertama di Taman Nasional Komodo, tapi pastinya layak masuk daftar yang termewah. Kabin saya, Luxury Suite, dilengkapi televisi layar datar dan kamar mandi dengan shower. Ukurannya lumayan lapang, 20 meter persegi, dan terasa lebih lega berkat langit-langitnya yang tinggi, jendelanya yang besar, serta pintu kacanya yang terkoneksi ke balkon privat.

Selang 15 menit sejak angkat jangkar, hotel terapung ini melewati gugusan pulau kecil di pelataran Labuan Bajo. Tanpa alas kaki, saya menjelajahi area-area komunal, lalu bertamu ke anjungan yang ditaburi beragam layar, tombol, dan tuas. Lako Di’a mengadopsi arsitektur kapal Bugis yang dulu menebar horor di lautan, tapi sistem navigasinya datang dari masa kini. Nakhoda tak lagi bersandar pada layar, pola ombak, apalagi kemampuan membaca petunjuk rumput laut dan feses burung.

Kapten Nasrul Djuje mempersilakan saya masuk ke ruang kerjanya, lalu memperlihatkan cara mengoperasikan beberapa peralatan. “Sebagai kapten, kamu mesti memperlakukan kapal sebagaimana kamu memperlakukan wanita. Harus lembut,” jelasnya sembari tersenyum nakal. Memutar kunci dan perlahan menarik tuas, Nasrul menunjukkan betapa mudahnya menggeser kapal ke arah kanan.

Kiri-kanan: Ferdinandus Dauth, staf kapal yang berasal dari Ruteng, sekitar empat jam berkendara dari Labuan Bajo; meja makan dan zona bersantai. (Foto: Tony Narotama)

Persis di belakang anjungan terdapat ruang salon tengah, ruang makan, serta zona santai di mana penumpang bisa menghabiskan waktu menonton film. Bergeser ke arah buritan, ada kabin Master Suite yang tampil paling mewah dan cocok untuk tamu pasangan. Nasrul mungkin juga sudah paham cara terbaik menikmatinya.

Usai blusukan, saya berpindah ke sisi haluan untuk mengagumi vista bersama Ferdinandus Dauth, mualim asal Ruteng. Dia menunjukkan Pulau Kukusan yang berbentuk kerucut. “Disebut Kukusan karena mirip tumpeng,” jelasnya. “Pulau-pulau di sini dinamai oleh para nelayan kaum pelaut seperti Bugis dan Bajo. Orang Manggarai seperti saya lebih suka bercocok tanam karena kami ini orang pegunungan.”

Obrolan terkait pangan terasa pas karena kebetulan waktu makan siang sudah tiba. Kapal bersauh dan hidangan pun tersaji: selada daging sapi bergaya Thailand, disusul dada ayam dalam santan, kemudian pandan panna cotta. Dengan perut kenyang, penumpang bersiap pindah ke darat untuk bertualang.

Interior kamar di Lako Di’a. (Foto: Tony Narotama)

Awalnya kami mendaki Pulau Kelor. Jalurnya curam, tapi tiap tetes keringat kami dibayar sepadan oleh panorama pesisir jantan di barat Flores. Dari sini, penumpang dibawa ke Pantai Menjerite. Di dermaganya yang fotogenik, kami mengenakan masker, snorkel, dan kaki katak, kemudian menceburkan diri ke laut dangkal. Di antara karang aneka warna, saya sempat melihat ikan botana, gerombolan ikan ekor kuning, juga bintang laut “chocolate chip.”

Kapten Nasrul kini mengarahkan bahtera ke Pulau Kalong yang tersohor sebagai markas kelelawar. Saat kami tiba, ribuan pasang sayap berkelebat di bawah langit yang berangsur gelap. Kami menonton terkesima di geladak sembari menyeruput fruit punch, sementara para awak mulai menyulut lilin-lilin di atas meja makan. Ketika legiun kalong berburu makanan, kami menyantap selada jeruk, tuna panggang, irisan kentang goreng, lalu mencuci mulut dengan keik cokelat dan es krim vanila.

Baca juga: Dua Resor Premium di Taman Nasional Komodo; Checking In: Ayana Komodo Resort

Pagi-pagi sekali hari berikutnya, saya kembali ke dek di atap untuk menyerap keindahan pulau-pulau dan cahaya keemasan yang menari pada riak air. Kelar sarapan, penumpang menaiki perahu karet untuk tamasya ke Pulau Mesa. Beberapa kelasi Lako Di’a berasal dari pulau kecil berisi sekitar 700 keluarga ini. Mendarat di dermaganya, seorang nelayan sedang mengasinkan ikan kakatua, lalu menjemurnya di atas bilah bambu. Deni Saputra, ABK muda, membawa kami melewati rumah keluarganya.

Tamu dapat bersantai di dek kapal pinisi bintang lima ini. (Foto: Tony Narotama).

Tur ini menyuguhkan kehidupan intim pedesaan yang kontras dari kegilaan Jakarta. Suara palu para pembuat perahu bersahutan, sementara ayam dan entok berkeliaran di antara rumah panggung. Guyub memang, tapi hidup di sini sejatinya tak melulu mudah. “Tidak ada mata air; pulau ini pasir semua,” kata Deni. “Kami harus bawa air dari Desa Menjaga di samping Menjerite.” Katanya lagi, listrik dulu tidak tersedia, hingga akhirnya PLN memasang panel-panel surya di bukit yang menaungi desa.

Dalam perjalanan kembali ke Lako Di’a, saya terpikir untuk menaiki kayak dan mengarungi perairan Pulau Kalong. Sejam lagi, tim Ayana akan datang untuk menjemput kami sekaligus memasok tamu-tamu baru untuk tur berikutnya. Kapal berlabuh menanti mereka, sementara saya menghabiskan sisa waktu dengan menikmati alam sembari berharap bisa kembali untuk bertualang lebih lama.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Susur Segara”)

Comments