Sepanjang Juni, Barbados mencatatkan hanya lima kasus baru Covid-19. Kurva memang mulai melandai di negara pulau ini. Kendati begitu, perekonomiannya jauh dari kata pulih. Pariwisata, sektor yang menyumbang 12 persen pendapatan nasional, masih terpuruk.

Itulah sebabnya pemerintah Barbados berpikir kreatif demi menjala devisa. Pada 1 Juli, Perdana Menteri Mia Amor Mottley mengumumkan ide berani Welcome Stamp. Ibarat suaka kerja selama pandemi, Barbados akan memberi izin tinggal 12 bulan kepada para pekerja asing yang ingin bekerja jarak jauh.    

“Ketimbang datang tiga minggu atau sebulan, kenapa tidak sekalian rencanakan bisnis Anda. Kami bisa memberi Anda kepastian untuk 12 bulan ke depan, dan Anda bisa bekerja dari sini,” ujar Mottley, seperti ditulis dalam situs resmi pemerintah.

Anak-anak bermain di pantai di Barbados, negara yang mencatatkan total 106 kasus Covid-19 per 23 Juli. (Foto: Ariel Pilotto/Unsplash)

Di tengah pandemi, Mottley memandang negaranya tawarkan alternatif tempat kerja yang menyenangkan—kombinasi “matahari, laut, dan pasir, juga masyarakat yang stabil.” Khusus digital nomad, negara seukuran Palembang ini punya dua perusahaan yang menyediakan koneksi internet.

Pendaftaran Welcome Stamp dibuka sejak 24 Juli. Formulir aplikasi daring telah tersedia, dengan dibubuhi slogan seduktif “Work from Paradise.” Biayanya $2.000 per individu atau $3.000 per keluarga, plus deklarasi penghasilan minimum $50.000 selama 12 bulan ke depan. Jika butuh akomodasi atau kantor, termasuk di tepi pantai, pemerintah siap membantu mencarikannya.

Baca Juga: Negara yang Paling Bergantung pada Uang Liburan Anda

Walau Welcome Stamp baru bergulir, Mottley mengaku sudah banyak pihak meresponsnya. Itu mungkin sebabnya ide ini menular. Sekitar 2.000 kilometer di utara Barbados, sebuah negara kecil lain ikut menawarkan pelarian dari pandemi. 

Sebuah penginapan di tepi laut di Bermuda, negara kepulauan yang tawarkan izin kerja dan kuliah jarak jauh setahun. (Foto: Sandra Seitamaa/Unsplash)

Pada 17 Juli, negara kepulauan Bermuda mengumumkan tawaran One Year Residential Certificate bagi kaum pekerja yang ingin bekerja jarak jauh, serta mahasiswa (termasuk program doktoral) yang sedang menyelesaikan kuliah secara daring.

Ide itu dilontarkan oleh Menteri Tenaga Kerja Jason Hayward. “Tren kerja jarak jauh meningkat akibat Covid-19,” jelasnya dalam keterangan resmi. “Pengunjung kini bisa menetap di Bermuda tanpa mencari pekerjaan baru, juga mendukung perekonomian negara tanpa menyingkirkan warga lokal dari pekerjaan mereka.” 

Baca Juga: Dr. Jeff Wilks: ‘Pasca-Pandemi, Indonesia Akan Populer’

Logika gagasan itu masuk akal. Walau perbatasan sudah dibuka sejak 1 Juli, Bermuda butuh waktu lama untuk memulihkan pariwisata, industri terbesar kedua di sini. Ketimbang menjala turis, negara ini coba memikat kaum pekerja. Aset andalannya: pemandangan elok dan jumlah kasus yang minim. Hingga 23 Juli, negara berpopulasi 64.000 jiwa ini mencatatkan hanya 153 kasus Covid-19.

Panorama pesisir Bermuda diambil dari Gibbs Hill Lighthouse. (Foto: Sandra Seitamaa/Unsplash)

Bermuda telah merinci syarat dan aturan One Year Residential Certificate. Pelamar, misalnya, mesti berusia minimum 18 tahun, memiliki asuransi kesehatan, menunjukkan surat kerja dari perusahaan atau akta perusahaan, serta bisa menjamin penghasilan selama setahun ke depan.

Residential Certificate akan ditawarkan mulai 1 Agustus dengan biaya $263 per orang. Bersamaan dengan itu, Bermuda akan menaikkan batas durasi liburan turis dari 90 menjadi 180 hari. Semua rencana ini, klaim Menaker Jason Hayward, “akan memberikan manfaat ekonomi bagi Bermuda, termasuk tambahan aktivitas ekonomi di restoran, hotel, dan bisnis rekreasi.” Cristian Rahadiansyah