Pandemi Covid-19, menurut Dr. Jeff Wilks, akan mengubah signifikan dunia pariwisata, termasuk ke mana, bagaimana, dan dengan cara apa kita bepergian. “Kita akan terus hidup dengan bayang-bayang Covid-19,” jelasnya.

Jeff Wilks adalah seorang pakar di bidang kesehatan dan keselamatan pariwisata. Pria yang menetap di Queensland, Australia, ini pernah memimpin program manajemen risiko untuk World Tourism Organization (UNWTO), juga untuk sejumlah pemerintah dan perusahaan di berbagai belahan dunia.

Beragam pengalaman dan pengetahuannya itu sudah dituangkan ke tujuh buku, termasuk Tourism in Turbulent Times dan Managing Tourist Health and Safety in the New Millennium. Di tengah pandemi, karya-karyanya menemukan gemanya untuk dirujuk kembali. Dan tahun depan, Jeff akan meluncurkan buku yang lebih relevan dengan konteks pemulihan pariwisata dunia. Judulnya Tourist Health, Safety and Wellbeing Post-Pandemic.

Pada 16 Juli 2020, DestinAsian Indonesia mewawancarai Jeff, untuk menggali pendapatnya seputar pandemi dan prospek pemulihan pariwisata. Berikut petikannya:

Kontras dari Australia, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia bertambah hampir saban hari. Pendapat Anda tentang cara Indonesia menangani pandemi?
Sebaiknya Anda jangan merasa terlalu keras memandang keadaan. Situasi di Indonesia berbeda dari Australia. Ada begitu banyak orang yang tersebar di kawasan yang begitu luas, karena itu pelayanan kesehatan sangatlah menantang. Kita semua belajar sambil jalan.

Menengok pandemi di masa lalu, sektor pariwisata berhasil bangkit dari krisis. Skenario optimistis serupa akan terjadi sekarang?
Saya pikir kali ini pemulihan akan bergulir lambat, dan perjalanan internasional akan berubah sepenuhnya. Orang-orang yang terkurung isolasi mulai memandang banyak hal dengan perspektif berbeda, juga dengan banyak pertimbangan. Banyak dari kita akan bertanya: apakah kita ingin pergi ke taman rekreasi? Apakah kita ingin berada di tengah kerumunan? Atau apakah kita ingin berkelana melihat keindahan dan berdekatan dengan alam?

Itu artinya pandemi akan menyediakan momentum bagi wisata berkelanjutan?
Sudah muncul indikasi pariwisata berbasis alam akan keluar sebagai ‘juara’ dari bencana pandemi. Saat ini, hanya sekitar tiga persen destinasi yang sudah membuka perbatasan, dan saat kelak jumlahnya bertambah, orang akan bepergian solo atau dalam rombongan kecil, akan memburu pengalaman unik di lokasi eksotis, lokasi yang indah, seperti Indonesia, tentunya dengan kewaspadaan yang lebih besar akan faktor keselamatan. Mungkin terlalu dini untuk disimpulkan, tapi saya pikir dalam jangka panjang Indonesia akan jadi pilihan yang populer.

Memakai masker, seorang pria menyusuri pantai sepi di Sapri, Italia, negara yang sudah mencabut PSBB. (Foto: Gabriella Clare Marino/Unsplash)

Dengan begitu, banyak negara akan mengubah cara menjala turis Tiongkok? Tiongkok adalah pemasok turis terbanyak, dan banyak dari mereka bepergian dalam rombongan besar.
Tentu. Walau penting diingat, turis Jepang dulu juga bepergian dalam rombongan besar. Seiring waktu, mereka lebih nyaman untuk bepergian dalam grup kecil atau sendirian. Tren serupa akan terjadi pada turis Tiongkok, dan kita harus siap menyambutnya. Selepas pandemi, saya ragu pariwisata massal akan seperti sedia kala. Ketika kini orang terbiasa mengenakan masker dan mengantre, mereka akan berpikir ulang saat kelak harus mengantre tiga jam demi melihat sesuatu. Mereka mungkin lebih suka pergi bersama pemandu ke tempat unik yang sesuai selera mereka.

Dunia tampaknya belum cukup belajar dari kasus pandemi sebelumnya. Cara menangani wabah cukup kacau. Apakah ada panduan yang disepakati secara luas bagi pariwisata untuk menyintas pandemi?
Saya rasa belum ada. Pariwisata adalah soal menjual mimpi. Kita tidak sudi bicara tentang orang-orang yang kecewa atau terluka; kita serahkan urusan itu ke pengacara dan tim pemasaran. Bukan karena kita berpura-pura masalah itu tidak ada, tapi lebih karena bukan itu yang kita jual. Dalam beberapa krisis sebelumnya, pariwisata mampu mengatasinya dengan cepat. Tapi Covid-19 tidak akan pergi dalam waktu dekat.

Baca Juga: 5 Travel Writer Bicara Tentang Dunia Tanpa Travel

Idealnya, negara harus melandaikan kurva sebelum memulai pariwisata. Tapi beberapa negara tak bisa menunggu terlalu lama. Ada solusi kompromi untuk dilema ini?
Saya mencoba membaca protokol yang tersedia di dunia. Menengok 20 tahun ke belakang, UNWTO adalah pemimpin di bidang keselamatan dan keamanan. Sekarang, dan saya mungkin mengecewakan beberapa orang dengan mengatakan ini, sepertinya World Travel & Tourism Council [WTTC] telah mengambil alih pimpinan lewat Global Protocols & Stamp for the New Normal. Mereka meramu protokol terbaik, lalu menawarkannya dengan gratis ke destinasi dan perusahaan. Jika Anda dapat mematuhinya, Anda akan menerima stempel yang menunjukkan kepada dunia bahwa Anda berada di jalur yang benar, bahwa Anda melakukan hal yang benar.  

Bagaimana dengan solusi praktis seperti health passport?
Hingga hari ini, kita belum bisa memastikan apakah pengidap Covid-19 yang telah pulih bisa terjangkit kembali, atau apakah ada implikasi jangka panjang akibat terganggunya kekebalan tubuh. Intinya, belum ada rujukan sahih untuk bisa mengatakan ‘Anda sudah aman untuk bepergian.’ Saya rasa, kita akan terus hidup dengan bayang-bayang Covid-19—hingga akhirnya vaksin ditemukan. Pariwisata tak akan segera pulih. Tapi di sisi lain pandemi menyediakan peluang bagi pariwisata untuk menata ulang dirinya.

Warga Sydney lebih leluasa beraktivitas semenjak PSBB dicabut bertahap (Foto: Kate Trifo/Unsplash)

Beberapa negara Eropa membuka perbatasan dengan skema travel corridor. Ini solusi jangka pendek yang tepat? Cocok diterapkan di Asia Pasifik?
Tentu saja. Australia sedang mendiskusikan pembukaan koridor dengan Selandia Baru. Untuk gagasan semacam ini, sangat penting bagi destinasi di Asia Tenggara untuk melihat protokol WTTC, juga untuk tiap pemerintah saling memperlihatkan bahwa mereka bekerja dengan baik, bahwa koridor bisa dibuka. Travel corridor adalah ide yang bagus, tapi kita harus berhati-hati. Kemitraan ini dilandasi kepercayaan. Saya memercayai Anda untuk menjaga turis dari negara saya, begitu pula sebaliknya. 

Ada kabar terbaru tentang koridor Trans-Tasman antara Australia dan Selandia Baru?
Mereka masih membicarakannya. Perdana Menteri Selandia Baru sempat berkunjung ke Australia. Tapi dengan adanya kenaikan kasus di Victoria dan New South Wales, semua orang mulai mengambil jarak dari diskusi.  

Baca Juga: Kurva Virus 14 Negara Setelah Wisata Dibuka

Bulan lalu, saya sempat bertanya tentang Trans-Tasman kepada perwakilan biro pariwisata Australia dan Selandia Baru, dan jawabannya adalah: ‘Saya perlu bertanya langsung kepada kementerian kesehatan.’
Memang menarik saat ini departemen kesehatan punya wewenang dalam pengambilan keputusan, termasuk di bidang pariwisata. Dan ini benar-benar mujarab. Para petugas kesehatan tak terlalu peduli apakah Anda menghasilkan uang atau tidak. Mereka lebih ingin memastikan orang-orang tidak meninggal.

Siprus berjanji menanggung biaya medis turis yang terjangkit Covid-19 saat berlibur. Kampanye nekat yang kreatif. Jaminan semacam ini perlu dipertimbangkan negara lain?
Kampanye yang sangat berani, tapi saya khawatir akan kepraktisannya. Belum lagi, setiap destinasi mesti punya fasilitas medis yang prima untuk merawat warga negaranya sendiri sebelum merawat turis. Siprus memberi tawaran yang luar biasa, tapi saya tidak yakin destinasi lain punya nyali serupa. Apalagi, kita melihat banyak tempat menerapkan kembali lockdown. Meski banyak negara ingin membuka perbatasan dan mendorong orang bepergian, situasi bisa berubah setiap hari. Sulit bagi pariwisata untuk bangkit di situasi seperti itu. Melihat dokumen-dokumen yang dilansir pihak berwenang, mereka semua menulis ‘kondisi bisa berubah sewaktu-waktu.’

Suasana lengang stasiun utama Zurich Hauptbahnhof semasa pandemi. (Foto: Ellen Jenni/Unsplash)

Menurut Anda, negara mana yang akan pulih lebih dulu?
Dalam konteks protokol WTTC, destinasi kecil akan pulih lebih dulu, contohnya Swiss yang berada di peringkat pertama kategori prosedur keselamatan. Swiss berada di posisi menguntungkan karena negara ini kecil dan kompak, sementara negara besar seperti Indonesia butuh waktu lebih lama. Tapi ini jalan yang mesti ditempuh. Dan saya sangat mendukung protokol WTTC karena memberikan panduan bagi semua pihak untuk bermitra dalam pemulihan pariwisata.

Pelajaran yang seyogianya dipetik pelaku pariwisata dari krisis?
Pandemi telah menunjukkan, untuk pertama kalinya, betapa pariwisata bergantung pada layanan lain, termasuk layanan kesehatan. Dulu, ketika SARS dan wabah lain merebak, pariwisata berhasil pulih. Covid-19 memberi tantangan berbeda, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan jika kita melakukannya dengan benar, standar kesehatan dan kebersihan publik akan meningkat. Sudah ada beberapa indikasi bahwa musim flu reguler tak akan seganas dulu, karena orang telah terbiasa mencuci tangan dan menjaga jarak.

Baca Juga: 10 Negara Paling Sehat

Anda sempat menyinggung soal faktor kepercayaan. Andaikan berhasil mendapatkan stempel aman dari WTTC, negara harus memulai dari mana untuk mendapatkan kepercayaan turis?
Titik awalnya ialah negara itu sendiri. Kepercayaan tumbuh dari bawah. Tiap negara perlu menerapkan protokol, memberi peluang tes Covid-19, memiliki sistem pelacakan, sehingga jika ada kasus bisa cepat diatasi. Memiliki stempel atau sertifikat sangatlah penting, tapi punya sistem operasi yang prima di belakang layar adalah kunci utama meraih kepercayaan. Proses pemulihan mesti digerakkan bersama oleh departemen keselamatan dan pariwisata.

Untuk meraih kepercayaan, diperlukan kampanye yang jitu, mungkin juga agensi humas yang cemerlang dan kemitraan dengan media internasional. Ongkosnya mahal untuk negara miskin.
Tentu saja. Tapi lewat organisasi pariwisata, biayanya tidak perlu ditanggung sendiri. Saya tahu UNWTO sedang membahas pemberian dukungan teknis. Mereka tidak berencana membagikan uang, melainkan membantu negara-negara mengembangkan berbagai hal, baik rencana pemasaran ataupun positioning.

Kapal rumah sakit USNS Comfort bersandar di New York demi membantu penanganan wabah. (Foto: Daniel Lee/Unsplash)

Dengan asumsi vaksin tersedia di medio 2021, kapan pariwisata akan pulih?
Akan sangat cepat, tapi caranya berbeda. Kondisinya tidak akan seperti sebelum wabah. Di bidang penerbangan misalnya, pesawat jumbo mulai dikandangkan, seperti terlihat di Qantas. Rasa dan tampilan penerbangan akan lebih kecil, lebih intim, lebih terkontrol, demi memberikan pengalaman trip yang lebih aman. Selain itu, setelah vaksin didistribusikan, pandemi akan mengubah isi bucket list publik. Ambil contoh: orang-orang yang bermimpi melihat piramida, akan segera berangkat ke Mesir. Tapi mereka tidak akan memanjat piramida, tidak ingin merusak. Mereka akan lebih menghargainya, karena ada masa di 2020 ketika mereka mustahil bepergian.

Anda akan menulis buku tentang tema wisata pasca-pandemi?
Saya baru saja menandatangani kontrak buku dengan Springer Nature. Judulnya Tourist Health, Safety and Wellbeing Post-Pandemic. Ini buku akademis, tapi kami juga akan berbicara dengan para pemimpin industri untuk mendapatkan pandangan mereka. Ada empat editor yang terlibat, dan kami akan merekrut beberapa pakar pariwisata terbaik sebagai penulis. Buku ini membahas berbagai tema, bukan hanya tentang pandemi. Kita misalnya akan melihat lebih cermat isu kesejahteraan di masa depan, dan bagaimana pengalaman pariwisata tak hanya menciptakan rasa bahagia, tapi juga kesehatan fisik dan mental.