Toko-toko di Im Viadukt. Toko-toko ini dibangun di bawah jembatan rel kereta.

Di Geroldstrasse, hari ini, saya melihat pemuda-pemuda berkumis dan berpakaian rapi yang mengayuh sepeda fixie; ruang-ruang musik indie yang mempromosikan musisi internasional semacam Goldfrapp dan Low; serta toko-toko mebel yang menjajakan benda-benda antik dan replika. Di ujung jalan terdapat area yang senantiasa ramai oleh manusia: Im Viadukt. Menampung pasar indoor pertama di Swiss dan 30 kios, properti sepanjang 500 meter ini adalah antitesis yang segar bagi kawasan trendi Bahnhofstrasse. Tak ada butik fesyen atau toko jam mewah. Tawarannya adalah segala produk kebutuhan rumah tangga.

Setiap toko bernaung di bawah kaki-kaki jembatan kereta. Semuanya berukuran sama, tapi dagangannya bervariasi. Ada toko pakaian dan peralatan dapur, studio tari, hingga kedai kopi dengan moto “ruang nongkrong social start-up.” “Kondisinya berbeda dari era 90-an, saat semuanya hanya berbentuk gudang,” ujar Bosanis. “Orang-orang hanya datang ke sini pada hari Minggu, ketika seorang pemilik restoran Yunani membuka kedai yoghurt.” Sembari menunjuk beberapa anak tangga, dia menambahkan, “Tapi tidak semua orang datang untuk berbelanja.”

Kiri-kanan: Salah seorang pegawai di Street-Files; salah satu produk Street-Files.
Toko New York Fashion yang bersemayam di dalam bus usang.

Di atas barisan toko terbentang sebuah jalan setapak, tempat bersantai populer di mana Bosanis kadang mengajak anjingnya berjalan-jalan. Persinggahan terakhir kami di Im Viadukt adalah jejeran toko yang menjual roti hangat, jus buah, cokelat artisan, serta buah dan sayur. Dalam sesi makan siang di Restoran Markthalle di ujung pasar, saya duduk di ruangan yang dibingkai struktur batu melengkung dan melihat orang-orang berbusana kantoran, anak-anak, dan beberapa wanita. Tadinya saya membayangkan Zürich West menyerupai kantong hipster Williamsburg di Brooklyn atau Silver Lake di Los Angeles, tempat kaum eksentrik dan flamboyan berkerumun.

“Anda akan bertemu orang-orang semacam itu, tapi Anda juga akan melihat banyak keluarga berkumpul di sini tiap akhir pekan. Dan ada banyak pemuda dan orang-orang kreatif yang berbelanja atau nongkrong di sini,” ujar Bosanis. “Ini tempat untuk semua jenis orang.”

DETAIL
Zürich West

Rute
Salah satu maskapai yang melayani penerbangan dari Jakarta ke Zürich adalah Swiss International Air Lines (swiss.com) dengan transit satu kali di Singapura, Hong Kong, atau Bangkok.

Penginapan
Desainer kelahiran Argentina, Alfredo Häberli, mempercantik 126 kamar di 25hours Hotel Zürich West (102 Pfingstweidstrasse; 41- 44/577-2525; 25hourshotels.com; doubles mulai dari $182) dengan percikan warna-warna cerah dan aura santai yang memikat.

Makan & Minum
Bertengger di lantai puncak gedung tertinggi di Swiss, Clouds (35/F, Prime Tower, 5 Maagplatz; 41-44/404-3000; clouds.ch) menawarkan menu-menu berkelas yang dikombinasikan apik dengan panorama lanskap kota. Opsi yang lebih rendah hati adalah Les Halles (6 Pfingstweidstrasse; 41-44/273-1125; les-halles.ch) yang mengoleksi menu sedap dan ramah kantong. Usai menjelajahi kios yang bertaburan di Im Viadukt (im-viadukt.ch), singgahlah di Markthalle (231 Limmatstrasse, 41- 44/201-0060, markthalle.im-viadukt.ch) untuk mencicipi menu-menu spesial yang selalu berbeda setiap harinya.

Aktivitas
Usai berbelanja tas dan aksesori busana di Freitag (17 Geroldstrasse; 41-43/366-9520; freitag.ch), berjalanlah ke Frau Gerolds Garten (23 Geroldstrasse; fraugerold.ch), sebuah ruang komunal yang mengombinasikan taman kota, kantong belanja, serta restoran dan bar. Bagi pencinta budaya, Schiffbau (4 Schiffbaustrasse; schauspielhaus.ch) secara reguler mementaskan teater, sedangkan Kunsthalle Zürich (270 Limmatstrasse; 41-44/272-1515; kunsthallezurich.ch) memamerkan karya-karya seni kontemporer.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jul/Ags 2014 (“Biofera Barat”)