Im Viadukt, sentra belanja dan makan di Zurich West.

Kredensial artistik Zürich West juga diperkuat oleh Kunsthalle Zürich, museum seni kontemporer yang bermukim di sebuah bangunan bata sederhana bekas instalasi penyulingan bir Löwenbräu. Di bawah arahan kurator berpengaruh Beatrix Ruf, museum ini sempat mendatangkan karya-karya seniman internasional papan atas sekaliber Michael Elmgreen, Ingar Dragset, dan Trisha Donnelly.

Di Jalan Pfingstweidstrasse, Bosanis dan saya berhenti untuk menilik 25hours Zürich West, hotel baru bertarif terjangkau (untuk standar Swiss) yang dihuni interior funky dan modern gubahan desainer Alfredo Häberli. Selanjutnya kami berjalan ke sebuah toko yang tengah bersinar, Les Halles. Parasnya lebih mirip kedai yang menyuguhkan kue dan potongan piza takeaway. Namun, usai melewati gerbangnya, properti ini lebih mirip perpaduan restoran dan toko kelontong yang dihiasi air mancur absinthe.

Penampilannya mirip bar-bar sepuh di televisi. Bernyawa, agak berantakan, tapi tidak kumuh. Dindingnya ditaburi iklan-iklan minuman keras klasik. Barang dagangannya mulai dari sepeda antik hingga menu-menu simpel semacam salmon dengan saus hollandaise dan kerang yang dibalur saus krim. Keluar dari pintu belakangnya, kami meniti trotoar yang diselingi bekas rel kereta. Bosanis mulai bercerita tentang perubahan yang melanda Zürich West.

“Antara 80 dan 90-an, pernah muncul wacana untuk mengisi area ini dengan gedung perkantoran. Tapi banyak orang menentang gagasan itu. Mereka lebih menginginkan area multifungsi yang dilengkapi ruang-ruang publik—aspirasi yang akhirnya jadi nyata,” katanya.

“Tentu saja, warga sekarang pusing dengan naiknya tarif sewa properti dan mulai mempertanyakan apa saja yang bakal dibangun di sini nantinya. Tapi sejauh ini belum ada isu yang benar-benar mengancam.”

Kiri-kanan: Interior restoran Markthalle di Im Viadukt; restoran mewah Clouds berdiri di atas lantai 35 dengan pemandangan lanskap kota yang menawan.

Kendati banyak tempat hip bermunculan, Zürich West kadang masih memancarkan corak kawasan kaum pekerja yang bersahaja. Kami melewati bengkel yang mendendangkan suara denting logam, toko kelontong, serta kereta mungil yang merangkak malas. Kata Bosanis, sepur ini berasal dari sebuah pabrik tepung, sebuah memorabilia dari periode industrial Zürich West.

Pemberhentian kami berikutnya sangat bertentangan dengan reputasi hip kawasan ini: Prime Tower, bangunan tertinggi di Swiss, yang menjulang 126 meter. Struktur yang dilansir pada 2011 ini dihuni kantor-kantor perusahaan dan bank internasional. Di lantai ke-35, restoran premium Clouds menyajikan panorama lanskap kota dan menu-menu berpenampilan rumit, contohnya daging sapi dengan busa truffle, serta ikan kod di atas kentang tumbuk dan sosis terrine.

Di seberang Prime Tower yang formal, terdapat perusahaan dengan fasad paling progresif di Zürich West: Freitag Shop Zürich, tumpukan 17 kontainer yang menampung toko flagship milik Markus dan Daniel Freitag. Suguhan utamanya adalah aneka tas dan aksesori busana berbahan terpal bekas. Andaikan tote bag di sini kurang pas dengan gaya Anda, kunjungi atap toko untuk menikmati tawaran apik yang cocok dengan semua gaya: dek observasi yang menampilkan panorama Frau Gerolds Garten, lahan luas berisi taman kota, butik indie, studio seni, serta restoran dan bar yang dilengkapi area outdoor. Di sini, sepanjang musim dingin, sebuah restoran temporer rutin dibuka di dalam tenda. Suguhan utamanya adalah sup penangkal dingin khas Swiss, fondue.