Adventures

48 Jam di Nara: Menemukan Hidden Gems Saat Liburan ke Jepang

Di tengah obsesi wisatawan pada gemerlap Osaka atau hiruk-pikuk Tokyo, Nara memang belum banyak jadi pilihan utama saat liburan ke Jepang. Banyak turis datang hanya untuk memberi makan rusa di Nara Park, berfoto di depan kuil, lalu kembali mengejar kereta menuju Kyoto sebelum malam tiba. Kota ini seolah masih terjebak dalam ‘kutukan’ destinasi one-day trip di antara kota-kota besar Kansai.

“Banyak yang menganggap Nara membosankan. Isinya hanya kuil-kuil tua dan rusa yang berkeliaran di taman,” ujar Makoto Kaida, seorang warga lokal Nara dan juga seorang General Manager Novotel Nara, saat mengobrol santai dengan saya di restoran hotel.

“Padahal, Nara punya lebih banyak cerita dari itu.”

Beberapa jam sejak menapakkan kaki di sini, saya mulai memahami mengapa sebagian warga lokal menyukai ritme Nara yang lebih slow untuk liburan ke Jepang.  Jalan-jalannya terasa tenang, toko-toko mulai tutup saat langit gelap, sementara gang-gang kecilnya menyimpan bar tersembunyi, restoran tradisional, dan jejak sejarah yang membentuk awal peradaban Jepang.

“Banyak budaya Jepang lahir di Nara,” lanjut Makoto. Jauh sebelum Kyoto berkembang menjadi ibu kota budaya, Nara lebih dulu menjadi pusat pemerintahan Jepang kuno. “Dari kota inilah tradisi seperti sake, teh, hingga sumo dipercaya mulai berkembang,” sambung Makoto.

Dalam 48 jam, DestinAsian Indonesia mencoba menyusuri sisi lain Nara, mulai dari kuil-kuil berusia ribuan tahun, kawasan tradisional yang masih bertahan, hingga bar-bar hidden gem yang menelurkan bartender kelas dunia. Ikuti perjalanan saya liburan ke Jepang untuk menemukan hidden gem di Nara.

Baca Juga: 48 Jam di Kyoto: dari Samurai Ninja Museum sampai Michelin Guide Dinner

Hari Pertama
Menyusuri Nara Park: Memberi makan rusa hingga berkunjung ke Kasuga Taisha to Kodaiji Temple

Pemberhentian pertama saya adalah Nara Park. Ketika turun di dekat Kofuku-ji, saya disambut rusa-rusa muda yang langsung membungkuk berharap mendapatkan makanan.

“Akhirnya kesampaian melihat pemandangan rusa-rusa sopan di Nara,” pikir saya. Ini salah satu bucket list saya untuk liburan ke Jepang.

Selama ratusan tahun, lebih dari 1000 ekor rusa sudah dibiarkan berkeliaran dan berbagi jalur dengan manusia. Mereka bahkan mengadopsi budaya santun Jepang: membungkuk ketika hendak meminta makanan. Menggemaskan, namun kadang juga cukup membuat panik ketika beberapa rusa mulai datang bergerombol dari belakang.

Makanan yang diberikan adalah biskuit khusus bernama Shika Senbei yang terbuat dari tepung terigu dan bekatul (rice bran). Biskuit ini sebenarnya aman dikonsumsi manusia meski rasanya hambar.

Dari gerbang Kofuku-ji, saya melewati jalur pedestrian yang perlahan menanjak di bawah naungan deretan pepohonan besar. Rusa-rusa terlihat beristirahat atau sibuk berburu makanan dari turis baik di sepanjang jalan, sementara wisatawannya sibuk memberi makan atau sekadar berfoto bersama mereka. Perjalanan yang agak menanjak kemudian membawa saya ke Kasuga Taisha.

Didirikan pada tahun 768 Masehi oleh klan Fujiwara, kuil Shinto ini terasa meditatif. Ribuan lentera batu berjajar di sepanjang jalannya, sebagian ditumbuhi lumut yang memperkuat kesan lawas kawasan tersebut. Di sinilah rusa dipercaya sebagai utusan suci para dewa, membuat keberadaan mereka bukan sekadar atraksi wisata, melainkan bagian penting dari sejarah spiritualitas Nara.

Dari Kasuga Taisha, saya berjalan kaki beberapa menit menuju Todai-ji. Area ini terasa lebih ramai dan saya mulai lebih berhati-hati karena rusa-rusanya cenderung lebih agresif. Aroma Shika Senbei cukup untuk membuat mereka langsung mendekat dan ‘memalak’ tanpa harus membungkuk lagi.

Dengan tiket seharga ¥600, pengunjung bisa melihat Daibutsuden atau Aula Besar Buddha yang berdiri megah sebagai salah satu bangunan kayu terbesar di dunia, dengan patung Buddha perunggu setinggi 15 meter di dalam Todai-ji. Mengutip catatan UNESCO, situs ini dibangun pada abad ke-8 oleh Kaisar Shomu sebagai pusat jaringan kuil di seluruh Jepang sekaligus simbol doa dan perlindungan rakyat dari bencana maupun wabah penyakit.

Saidaiji Temple untuk Ochamori

Dari Nara Park, saya kembali berkendara menuju Saidai-ji. Suasananya terasa sangat berbeda dibanding Todai-ji atau Kasuga Taisha yang dipadati turis. Area kuil tampak tenang, nyaris sepi. “Kuil ini memang tidak seramai kuil lain di Nara. Biasanya baru ramai ketika ada acara tertentu,” ujar Makoto.

Kami kemudian memasuki salah satu bangunan machiya di dalam kompleks kuil untuk mengikuti tradisi Ochamori. Di ruangan yang hangat, Sasao-san—seorang biksu Saidai-ji, menyambut kami dengan kue manis tradisional sebelum menjelaskan sejarah Ochamori, tradisi minum teh khas Nara yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Berbeda dari upacara minum teh Jepang yang cenderung formal dan personal, Ochamori terasa lebih hangat dan komunal karena teh disajikan dalam mangkuk besar untuk diminum bergantian.

Tak lama kemudian, Sasao-san mulai mengaduk matcha di dalam mangkuk raksasa berusia puluhan tahun. Saat mangkuk itu berpindah ke tangan saya, lengan sempat bergetar karena beratnya cukup terasa. Namun di balik kesederhanaannya, tradisi ini menyimpan makna tentang kesetaraan dan kebersamaan, bahwa setiap orang dapat duduk dan berbagi dari mangkuk teh yang sama tanpa memandang kasta atau status sosial.

Sake tasting. (Foto: Airam Dato-on/Pexels)
Sake-tasting di Umenoyado Brewery

Bagi pencinta sake, Makoto Kaida juga merekomendasikan mampir ke Umenoyado Brewery untuk mengikuti sesi sake tasting khas Nara.

Rekomendasi ini terasa cukup menarik mengingat Nara memang dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang dalam budaya sake Jepang. Bahkan, banyak yang menyebut teknik pembuatan sake modern berakar dari kuil-kuil di Nara pada masa lampau.

Hingga kini, budaya menikmati sake masih terasa cukup kuat di kota ini. Bar-bar kecil bergaya izakaya hingga brewery tradisional dapat dengan mudah ditemukan di berbagai sudut Nara, menawarkan pengalaman minum yang cenderung lebih santai dan intimate dibanding kota besar seperti Osaka atau Tokyo.

Didirikan pada 1893, Umenoyado Brewery sendiri dikenal lewat berbagai racikan sake dan fruit liqueur yang menggunakan bahan lokal dari Prefektur Nara. Pengunjung dapat mengikuti sesi mencicipi beberapa jenis sake sambil mempelajari karakter rasa, proses fermentasi, hingga sejarah panjang sake di kawasan tersebut.

Checking in: Novotel Nara

Saya bermalam di Novotel Nara. Lokasinya cukup strategis, tetapi tetap menawarkan suasana yang lebih tenang dibanding area wisata utama. Letaknya berdekatan dengan convinience store, toko buku, dan tentunya bar-bar malam.

Hotel dengan 264 kamar ini memadukan desain modern dengan sentuhan Jepang yang hangat dan sederhana. Salah satu fasilitas yang paling terasa membantu adalah public bath-nya. Fasilitas ini memudahkan tamu untuk relaksasi setelah seharian berpetualang tanpa harus berlelah mencari onsen umum di luar penginapan.

Pengalaman bersantap di Trattoria Ponte Nara juga menjadi highlight tersendiri. Restoran ini mengusung konsep slow food dengan banyak bahan yang berasal dari petani lokal Nara, menghadirkan pengalaman makan yang terasa lebih dekat dengan karakter kota ini. Selain itu, hotel juga dilengkapi rooftop terrace, social lounge, hingga wellness area untuk melepas penat.

Baca Juga: Kyoto Craftmanship: 3 Workshop Sumpit Handmade Saat Liburan ke Jepang

Hari Kedua
Hasedera Temple

Saya tiba di Hasedera pada pagi hari, saat kawasan kuil masih terasa sunyi dan udara pegunungan di Sakurai begitu sejuk. Kuil ini dikenal dengan deretan tangganya yang panjang namun karena undakannya tidak terlalu tinggi, perjalanan menuju area utama terasa santai alih-alih melelahkan. Jalurnya pun teduh berkat pepohonan besar yang mengelilingi kompleks kuil, membuat suasana pagi terasa semakin menenangkan.

Didirikan pada tahun 686 Masehi dan menjadi bagian dari aliran Buddhisme Shingon, Hasedera dikenal sebagai salah satu kuil penting di Nara yang didedikasikan untuk Kannon, Dewi Welas Asih dalam kepercayaan Buddha Jepang. Atmosfernya terasa hening dan meditatif, terutama saat pengunjung masih belum terlalu ramai.

Salah satu bagian paling ikonis dari Hasedera adalah koridor kayu panjang yang membentang di lereng bukit. Dari area atas inilah pengunjung dapat melihat panorama perbukitan dan hamparan pepohonan hijau yang mengelilingi kuil. Saya datang pada bulan April ketika musim sakura hampir berakhir dan pepohonan mulai kembali hijau, namun pemandangannya tetap memukau diterpa cahaya matahari pagi. Meski begitu, musim semi dan musim gugur tetap dianggap sebagai waktu terbaik untuk berkunjung ke Hasedera, ketika sakura bermekaran atau dedaunan momiji berubah merah-oranye dan menyelimuti kawasan kuil.

Di dalam area utama, terdapat patung Juichimen Kannon atau Kannon Berkepala Sebelas yang menjadi ikon Hasedera. Patung kayu raksasa ini dipercaya sebagai salah satu patung Kannon terbesar di Jepang dan telah menjadi objek pemujaan sejak berabad-abad lalu. Di beberapa sudut kuil, deretan patung Jizo kecil juga terlihat berjajar rapi, memperkuat suasana spiritual yang menyelimuti kawasan tersebut.

Baca Juga: 7 Kuil yang Wajib Dikunjungi di Kyoto Saat Liburan ke Jepang

Asuka Village

Makoto Kaida merekomendasikan kawasan ini sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika ingin melihat sisi lain Nara yang lebih tradisional saat liburna ke Jepang. Sayangnya, saya tidak memiliki banyak waktu untuk mengeksplorasi Asuka Village karena hujan turun cukup deras saat itu.

“Asuka adalah salah satu tempat kelahiran Jepang,” ujar Makoto.

Terletak di bagian selatan Prefektur Nara, Asuka dikenal sebagai wilayah tempat budaya dan pemerintahan Jepang kuno mulai berkembang sebelum akhirnya berpindah ke Kyoto. Hingga kini, suasana pedesaannya masih mempertahankan lanskap Jepang lama dengan hamparan sawah, rumah-rumah tradisional, jalan kecil yang tenang, serta perbukitan hijau yang mengelilinginya.

Salah satu cara terbaik menikmati Asuka adalah dengan bersepeda. Banyak wisatawan menyewa sepeda untuk menyusuri desa sambil berpindah dari satu situs sejarah ke situs lainnya. Jalurnya relatif santai dan membawa pengunjung melewati area persawahan, kuil kuno, hingga reruntuhan bersejarah seperti Asuka-Fujiwara Palace, bekas pusat pemerintahan Jepang kuno yang kini tengah diajukan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Selain bersepeda, pengunjung juga dapat mampir ke kuil, mencicipi kuliner lokal, atau sekadar menikmati suasana desa yang terasa jauh lebih lambat dibanding Kyoto maupun Osaka. Tidak ada gedung tinggi atau pusat perbelanjaan modern di sini, justru itulah daya tarik Asuka.

Kampo Curry Space Workshop

Meski identik dengan sushi atau ramen, kari ternyata juga menjadi bagian penting dari budaya kuliner Jepang. Berbeda dari kari India yang kaya rempah dan tajam, Japanese curry cenderung lebih lembut, kental, dan sedikit manis. Hidangan ini mulai populer sejak era Meiji dan perlahan berkembang menjadi comfort food sehari-hari di Jepang.

Namun di Nara, saya menemukan pengalaman kari yang jauh lebih unik lewat workshop di Kampo Kikuoka Pharmacy. Awalnya saya mengira tempat ini hanyalah apotek herbal tradisional biasa. Dari luar, bangunannya dipenuhi rak obat-obatan kampo dan aroma rempah yang samar tercium di udara. Ternyata area workshop berada di bagian dalam bangunan, melewati taman kecil yang teduh sebelum akhirnya masuk ke sebuah ruangan mungil penuh toples rempah, bubuk herbal, dan alat ukur. Suasananya terasa seperti laboratorium kecil dalam film Studio Ghibli. Kikuoka-sensei sendiri semakin memperkuat ambience tersebut. Pria paruh baya dengan rambut dan janggut yang mulai memutih itu mengenakan jas laboratorium sambil menjelaskan proses pembuatan kari dengan sangat sabar.

Di atas meja, tersedia puluhan bubuk rempah mulai dari kunyit, jahe, hinggs bubuk jamur angellica dan berbagai bahan herbal khas kampo. Kami kemudian diminta meracik bubuk kari sendiri sesuai preferensi rasa dan panduan takaran yang tercatat di sebuah kertas. Meski pada akhirnya saya lebih banyak mengandalkan keyakinan saya, aroma rempah yang perlahan tercampur terasa cukup meyakinkan.

“Ini cocok untuk marinasi daging,” ujar Kikuoka-sensei setelah mencium aroma hasil racikan saya. Setidaknya, racikan kari saya masih dianggap layak digunakan.

Workshop ini dapat diikuti dengan reservasi terlebih dahulu dengan biaya mulai sekitar ¥4,000 per orang, dan bubuk kari hasil racikan dapat dibawa pulang sebagai suvenir.

Wakakusa Mountain

Staff Novotel Nara merekomendasikan Wakakusa Mountain sebagai salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari terbenam. Sayangnya, saya belum sempat mengunjungi Mount Wakakusa karena hujan turun hampir sepanjang sore saat berada di Nara.

Lokasinya dapat ditempuh sekitar 15–20 menit berkendara dari hotel. Mount Wakakusa sendiri dikenal sebagai bukit hijau yang menghadap langsung ke lanskap kota Nara, lengkap dengan panorama pepohonan dari Nara Park dan siluet kuil-kuil kuno di kejauhan. Menjelang sore, suasananya disebut terasa jauh lebih tenang dibanding area wisata utama.

Di jalan pulang, jika memiliki waktu lebih, sempatkan mampir ke pasar lokal yang menjual aneka sayuran, buah-buahan, hingga bahan masakan khas Nara, sambil berburu oleh-oleh untuk dibawa pulang. (chs)