Myranda Fae
9 Mei 2026
Jepang, satu negara yang rasanya sudah pasti ada di bucketlist semua orang. Terbukti dari data wisatawan asing yang berlibur ke Negeri Sakura ini selalu mencatatkan angka yang fantastis. Dalam periode terbaru, jumlah wisatawan asing tercatat mencapai 10.683.500 orang—meningkat 1,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi penanda bahwa pesona Negeri Sakura tak redup, meski negara ini mulai memberlakukan regulasi wisata dengan harapan meredam overtourism.
Saya termasuk ke dalam lebih dari 10 juta orang tersebut. Masalahnya, Jepang masih memikat untuk disambangi karena tiap sudutnya menyimpan sejarah atau bahkan hanya sekadar untuk kepuasan visual estetika belaka.
Banyak sumber mengatakan, bagi wisatawan pemula, Tokyo wajib jadi pemberhentian pertama. Kota ini adalah pusat bagi mereka yang ingin merasakan sisi metropolis Jepang yang lebih urban dan eksentrik. Namun, bagi sebagian orang, termasuk saya, wilayah prefektur Jepang yang masih tradisional justru lebih memikat.
Bagi pemula yang ingin menyusuri sisi Jepang yang sesungguhnya, wilayah historis Kansai adalah pemberhentian pertama yang sempurna. Secara administratif, Kansai mencakup enam prefektur utama, yaitu Osaka, Kyoto, Hyogo, Nara, Shiga, dan Wakayama (dengan Prefektur Mie yang sering dikaitkan karena kedekatan budayanya). Wilayah-wilayah ini telah dimodernisasi tanpa menghilangkan unsur tradisionalnya yang autentik.
Baca Juga: Kyoto Craftmanship: 3 Workshop Sumpit Handmade Saat Liburan ke Jepang
Perjalanan saya dimulai di Kyoto. Perfektur ini mempertahankan elemen ‘jadul’nya, yang justru menjadi daya tarik utama. Signage berwarna tidak mencolok, rumah-rumah machiya, jalanan dari batu, serta warna bangunan yang terkontrol memanjakan mata wisatawan yang mungkin terbiasa disuguhkan pemandangan gedung-gedung futuristik atau rumah-rumah dengan warna terang di negaranya masing-masing.
Beberapa sumber dari warga lokal yang saya tanya mengatakan, idealnya, dibutuhkan tiga hingga empat hari untuk menyusuri Kyoto, karena ada puluhan tempat yang wajib dikunjungi. Daftar tempat-tempat tersebut juga mudah ditemukan di banyak platform perjalanan dan tentunya jika Anda memutuskan untuk pergi bersama agen perjalanan.
Namun, jika Anda memiliki sedikit waktu, DestinAsian Indonesia merekomendasikan beberapa tempat yang bisa Anda kunjungi setidaknya dalam 48 jam.
Baca Juga: 7 Kuil yang Wajib Dikunjungi di Kyoto Saat Liburan ke Jepang
Hari pertama
1. Samurai Ninja Museum
Museum ini menawarkan perjalanan melintasi waktu untuk memahami sejarah ksatria Jepang dari zaman Kamakura hingga restorasi Meiji. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat beragam koleksi mulai dari zirah perang (yoroi), pedang katana asli, hingga senjata rahasia yang digunakan para ninja untuk misi klandestin.
Melalui tur berpemandu, saya belajar bahwa samurai bukan sekadar petarung, melainkan kelas sosial yang menjunjung tinggi kode etik Bushido, sementara ninja adalah ahli strategi yang menguasai seni spionase dan ninjutsu.
Museum ini juga mengajak pengunjung untuk terlibat langsung dalam budaya tersebut. Kita bisa mencoba mengenakan zirah samurai lengkap untuk berfoto, atau mengikuti kursus singkat menggunakan shuriken (bintang ninja) dan fukiya (sumpit tiup). Tiket masuknya ¥4,400 untuk dewasa dan ¥4,100 untuk anak-anak.
2. Membuat sumpit sendiri
Kegiatan membuat sumpit di Kyoto mulai terkenal sejak 2025 lalu, di mana salah satu workshop bernama “Hashi Lab” membuka gerai pertamanya dan mulai memperkenalkan kegiatan ini. Workshop yang dibanderol dari ¥3,000 – ¥8,000 ini memungkinkan peserta membuat sumpit sendiri dengan alat yang disediakan, dan nantinya sumpit tersebut bisa dibawa pulang.
Saya tentu tertarik untuk menjajal pengalaman ini. Untungnya Hashi Lab hanya berjarak sekitar 3,5 kilometer dari Samurai Ninja Museum dan dapat dijangkau dengan mobil sekitar 12 menit.
Saya membutuhkan sekitar satu jam untuk dapat membuat sumpit saya sendiri. Sebenarnya bisa lebih cepat tergantung keahlian masing-masing. Tahapannya dimulai dari memilih jenis kayu, menyerut dengan alat manual, kemudian menghaluskan dengan amplas. Dengan tambahan biaya ¥1,000, saya dapat membuat gravir laser nama saya dengan huruf hiragana atau katakana pada ujung sumpit. Kemudian tahap terakhir adalah mengolesi sumpit dengan minyak biji rami (linseed oil) untuk membuatnya lebih mengilap dan siap pakai.
3. Menyusuri Gion
“Gion dikenal sebagai distrik geisha atau geiko dan maiko,” ujar Yo, pemandu kami. Saya merasa beruntung sore itu sempat berpapasan dengan seorang geiko yang melangkah anggun. Perlu diingat, ada etika tersendiri jika bertemu mereka: jangan pernah menghalangi jalan atau menyentuh kimono mereka. Biarkan mereka melintas dengan tenang, seolah mereka adalah warga biasa dan kita sebagai saksi bisu dari tradisi yang masih berdenyut di tengah modernitas.
Sejauh mata memandang, distrik ini menyuguhkan keindahan arsitektur zaman Edo yang masih terawat. Walau cantik, wilayah Gion dikenal ‘sensitif’. Untuk menjaga privasi penghuninya, terdapat area-area tertentu yang terlarang untuk difoto, dengan denda sebesar ¥10.000 bagi wisatawan yang bandel.
Jika berjalan terus menyusuri jalan utama menuju timur, Anda akan sampai di Yasaka Shrine, kuil Shinto megah yang seolah menjadi penjaga abadi kawasan ini.
Bagi yang mendamba ketenangan, bergeserlah sedikit ke area Shirakawa. Di sana, sungai kecil yang diapit pepohonan dedalu menawarkan sisi Gion yang lebih puitis dan jauh dari hiruk-pikuk kerumunan turis.
4. Makan malam di restoran Michelin Guide
Setelah seharian menyusuri sudut-sudut Gion, saya mengakhiri hari dengan makan malam di salah satu restoran yang masuk ke dalam Michelin Guide: Wabiya Korekido. Masih di Gion, Wabiya menempati bangunan machiya tradisional yang memberikan kesan eksklusif namun tetap hangat begitu kita melangkah masuk.
Restoran ini dikenal dengan spesialisasinya mengolah ayam premium menggunakan teknik panggang arang binchotan. Duduk di area counter membuat saya leluasa melihat para chef beraksi, sesekali ada atraksi api dari balik partisi kaca.
Untuk makan malam, Wabiya menyajikan set menu bergaya kaiseki mulai dari ¥15.000. Tak lengkap tanpa alkohol, saya memesan sebotol wine yang dijual mulai dari ¥8.000. “Pilihan wine di sini dipilih chef untuk mengimbangi rasa umami dari setiap hidangan yakitori,” kata Kazuya, server yang melayani kami.
Restoran ini terasa tepat bagi wisatawan yang ingin mencicipi yakitori dengan rasa dan pengalaman yang lebih intim dan refined.
Sebagai penutup, sepiring cheese cake dengan saus dan crakers wijen memberi sentuhan manis dengan rasa unik dan tekstur renyah.
Baca Juga: 30 Restoran Terbaik di Indonesia versi Prestige Gourmet Awards 2026
Hari kedua
Arashiyama Bamboo Forest
Sekitar pukul 07:45 pagi kami tiba. Sepagi ini, segelintir wisatawan sudah terlihat mulai melangkah menuju hutan bambu. Dari area parkir, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 15 menit, melewati kuil Buddha, pemukiman warga, hingga Jembatan Togetsukyo yang ikonis dan dikenal sebagai spot yang sering muncul dalam film animasi Detective Conan: The Crimson Love Letter.
Setibanya di tujuan, saya langsung disambut oleh jalan setapak yang diapit deretan bambu menjulang tinggi. Meski pengunjung mulai berdatangan, suasana hutan ini terasa nyaris hening. Batang-batang bambu yang kokoh seolah enggan bergeser meski ditiup angin, hanya sesekali terdengar desir daun yang saling bergesekan. Udara pagi yang sejuk datang dengan cahaya matahari yang mulai menghangat, menghadirkan rasa nyaman, barangkali memang menjadi alasan utama para pelancong datang ke sini.
Sebuah papan kayu di tengah taman mengisahkan sejarah Arashiyama sejak zaman Heian, yang ternyata merupakan tempat peristirahatan kaum bangsawan yang datang untuk mengagumi pergantian musim dan merangkai puisi. Kini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi destinasi wisata global, serta sebagai penyedia sumber daya bambu bagi industri kerajinan tradisional.
“Di sini, sebagian bambu akan ditebang dan dikelola untuk keperluan industri dan kerajinan tradisional. Butuh waktu beberapa tahun untuk kembali mencapai ketinggian semula setelah ditebang,” kata Yo menjelaskan.
Di tengah hutan, terdapat Kuil Nonomiya, sebuah tempat suci kecil yang kerap terlewat. Di sana, para pengunjung biasanya menuliskan doa pada kayu kecil, mulai dari permohonan jodoh hingga keberuntungan finansial.
Meski menyandang status sebagai salah satu destinasi paling beken di Kyoto, Arashiyama tetap berhasil mempertahankan sisi meditatifnya. Ternyata rasa tenang yang diceritakan banyak orang itu nyata adanya, terlebih karena wilayah ini terhubung langsung dengan situs bersejarah penting lainnya seperti Kuil Tenryu-ji yang terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Melihat Kuil ikonis Kinkaku-ji
Perjalanan menelusuri sejarah kuil berlanjut ke Kinkaku-ji, atau yang lebih dikenal sebagai Golden Pavilion. “Dua lantai teratas kuil ini benar-benar dilapisi oleh emas murni,” ujar Yo saat membuka tur kami di area ini.
Meskipun kerumunan wisatawan yang berburu foto terkadang menghalangi pandangan, Kinkaku-ji tetap menyuguhkan lanskap magis lewat pantulan bayangan keemasan di permukaan kolam Kyoko-chi. Gugusan ‘pulau’ kecil di tengah kolam mempercantik panorama sejauh mata memandang, terutama saat musim gugur ketika dedaunan momiji yang memerah membingkai paviliun emas tersebut, layaknya sebuah lukisan.
Awalnya dibangun sebagai vila peristirahatan bagi Shogun Ashikaga Yoshimitsu pada 1397, Kinkaku-ji kemudian dialihfungsikan menjadi kuil zen yang unik dengan perpaduan tiga gaya arsitektur berbeda pada setiap lantainya.
Siapa sangka, bangunan ini sempat hancur total dalam insiden pembakaran oleh seorang biksu pada 1950 sebelum akhirnya berhasil direkonstruksi pada 1955 dan diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Kini, struktur megah yang berdiri di atas kolam cermin ini menjadi objek wisata, serta simbol ketahanan budaya Jepang yang bangkit dari abu kehancuran.
Di sepanjang jalan menuju pintu keluar, saya tidak melewatkan beberapa spot penting, seperti taman Kinkaku-ji, Air Terjun Ryumon-baku (tempat pengunjung dapat memanjatkan doa), hingga singgah di tempat membeli suvenir dan jimat keberuntungan.
Izusen di Daijiin
Daitoku-ji memang sebuah kuil, namun tidak banyak yang tahu bahwa di sini, tepatnya di sub-kuil Daijiin, terdapat sebuah restoran yang menyajikan hidangan vegetarian: Izusen. Selama di Jepang, sushi, ikan, dan daging menjadi makanan sehari-hari, sehingga menu vegetarian kala itu harapannya dapat mendetoks perut namun tetap memberi energi untuk melanjutkan petualangan di Kyoto.
Setelah menyusuri kompleks Daitokuji yang tenang dan asri, kemudian mengikuti papan petunjuk, saya akhirnya tiba di sebuah gerbang kecil dengan jalan setapak yang diapit rimbun tanaman dan pepohonan yang mengarah langsung ke area restoran utama.
Izusen Daiji-in menawarkan pengalaman autentik, mulai dari ¥4,000–¥8,000, untuk menikmati Shojin Ryori, yaitu kuliner vegan tradisional para biksu Zen yang mengutamakan harmoni antara bahan musiman dan kesederhanaan. Hidangannya berupa nasi dan sup miso; appetizer berupa yuba, salad, kacang-kacangan, dan salad; hidangan utama berupa tahu, tempura dan salad sayur; hingga hidangan penurut berupa teh hijau dan mochi. Seluruh hidangan dalam mangkuk merah ini dihidangkan secara bersamaan mengikuti gaya khas teppatsu.
Meski disebut sebagai set makanan biksu, para biksu asli tidak makan sebanyak ini. “Biasanya mereka memakan rangkaian yang lebih sederhana lagi,”jelas salah satu pelayan.
Eksplor Kiyomizu Dera hinga matahari terbenam
Tak lengkap rasanya bertandang ke Kyoto tanpa mengunjungi kawasan ikonis Sannenzaka dan Ninenzaka. Jalur legendaris ini diisi deretan bangunan dan rumah-rumah machiya dengan jalanan setapak berbatu. Di sepanjang rute ini, pengunjung akan dijamu oleh berbagai kedai kuliner dan toko suvenir yang menawarkan produk khas Jepang.
Saya melangkah lebih jauh ke arah atas, hingga akhirnya sampai di Kiyomizu-dera atau “Kuil Air Murni”. Merujuk pada catatan sejarahnya, kuil ini didirikan pada tahun 778 M oleh biksu Enchin di lereng Gunung Otowa, menjadikannya salah satu tempat ibadah tertua sekaligus terpenting di Jepang. Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, kuil ini populer karena panggung kayu raksasanya yang dibangun tanpa paku. Selain itu, wisatawan juga datang untuk hunting sunset yang menyelimuti pemandangan kota Kyoto.
Perlu diingat bahwa kuil dan toko-toko di sepanjang area ini biasanya tutup pada pukul 6 sore. Pastikan Anda datang lebih awal agar memiliki waktu luang untuk mengeksplorasi setiap sudutnya dengan puas.
Perjalanan terbaik sering kali bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi tentang pengalaman untuk dibawa pulang dan dikenang. Dan Jepang selalu memiliki cara untuk menghadirkan cerita baru di setiap kunjungan. Saat waktunya kembali menjelajah, Golden Rama akan menemani setiap langkahnya. (chs)
























