Features

Kyoto Craftmanship: 3 Workshop Sumpit Handmade Saat Liburan ke Jepang

Apa sih oleh-oleh khas Kyoto yang populer saat liburan ke Jepang? Bekas ibu kota Jepang ini memang lekat dengan produk matcha, terutama di Uji, serta souvenir menarik seperti keramik Kyoto (Kiyomizu-yaki) dan omamori atau jimat spiritual yang banyak ditemukan di kuil-kuil.

Tapi, pernahkah berpikir membawa pulang souvenir khas yang penuh kenangan dan penuh cerita di baliknya? Kyoto dikenal dengan kerajinan tradisionalnya yang beragam, mulai dari keramik, jimat keberuntungan, hingga kerajinan kayu. Namun, alih-alih hanya membeli produk jadi, kini semakin banyak pengalaman yang memungkinkan pengunjung terlibat langsung dalam proses pembuatannya, salah satunya membuat sumpit sendiri. Sumpit di Jepang sering dianggap sebagai hadiah yang bermakna, melambangkan kebahagiaan dan umur panjang.

“Kami berfokus pada workshop pembuatan sumpit dan hasilnya bisa dibawa pulang. Kami menyadari bahwa banyak workshop tidak menawarkan hasil yang bisa langsung dibawa pulang oleh wisatawan internasional,” ujar Yuta Kobayashi, pemilik salah satu workshop sumpit Hashi Lab kepada DestinAsian Indonesia.

Workshop ini tidak hanya memperkenalkan teknik dasar pertukangan kayu dan mengajari para tamu untuk membuat dan memodifikasi sumpitnya sesuai keinginan.

Baca Juga: 7 Kuil yang Wajib Dikunjungi di Kyoto Saat Liburan ke Jepang

3 Tahap Membuat Sumpit

Dalam ruangan berdinding kayu di Hashi Lab, sebuah meja panjang dengan belasan alat pahat tersusun rapi. Di sinilah saya diajak membuat sumpit secara manual dari sebatang kayu, hingga nantinya bisa menjadi alat makan yang siap pakai.

Di sini, tersedia 12 jenis kayu dengan karakter berbeda. Setiap kayu memiliki tingkat kesulitan yang ditandai dengan jumlah bintang. Semakin banyak bintang, semakin keras materialnya. Pilihannya beragam, mulai dari kayu sakura yang ringan hingga shimakokutan atau eboni yang lebih padat. Menariknya, kayu eboni yang digunakan di sini diimpor dari Indonesia, lalu didistribusikan melalui Kobe sebelum sampai ke Kyoto.

Di antara semuanya, perhatian saya tertuju pada purpleheart, kayu berwarna ungu talas seharga ¥6.980. “Itu salah satu yang paling populer,” kata Yuta. Kayu ini berasal dari genus Peltogyne di hutan tropis Amerika Latin, dan dikenal karena dpaat berubah warna dari cokelat kusam menjadi ungu pekat setelah terpapar udara dan cahaya.

Prosesnya dimulai di meja serut. Batang kayu yang masih berbentuk kasar perlahan dibentuk melalui empat tahap, mengikuti panduan angka yang tertera di badan sumpit. Sekilas terlihat sederhana, tetapi ternyata membutuhkan tenaga agar kayu dapat terserut rapi.

Setelah sumpit mulai terbentuk, proses berlanjut dengan alat serut yang lebih kecil untuk merapikan sudut, sebelum akhirnya dihaluskan menggunakan amplas. Perlahan, tekstur kayu yang semula kasar berubah menjadi lebih halus di tangan.

Sebagai sentuhan akhir, saya memilih menambahkan ukiran nama. Opsi gravir laser nama ini tersedia dengan biaya tambahan ¥1000. Sumpit kemudian dilapisi minyak biji rami (linseed oil), menghasilkan permukaan yang halus dan mengilap. Dalam waktu kurang dari satu jam, sepasang sumpit yang sebelumnya hanyalah sepotong kayu kini selesai dibuat dan dibawa pulang sebagai memorabilia spesial, sumpit buatan sendiri saat liburan ke Jepang.

3 tempat berikut menawarkan pengalaman membuat sumpir sendiri di Kyoto. (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)
Baca Juga: Adrian Zecha: Visioner di Balik Filosofi Kemewahan yang Tenang
Rekomendasi Workshop Sumpit di Kyoto

Berikut tiga workshop sumpit di Kyoto yang bisa menjadi referensi Anda, menurut rekomendasi pemandu wisata lokal saat liburan ke Jepang.

Yuta Kobayashi (kiri) bersama rekannya, Kaito Yoshioka (kanan). (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)
1. Hashi Lab (Kyoto)

Beberapa langkah dari Mercure Kyoto Station — tempat saya menginap, saya menemukan sebuah ruko kecil dengan spanduk putih bertuliskan “Hashi Lab”. Hashi (箸), dalam bahasa Jepang, berarti sumpit, dan ternyata ini ada tempat membuat sumpit sendiri.

Hashi Lab sendiri didirikan oleh Yuta Kobayashi bersama rekannya, Kaito Yoshioka, pada Agustus 2025. Sebelum membuka tempat ini, Yuta belajar pertukangan kayu di Kyoto Sumiyama Asakura Mokkou selama beberapa tahun. Pengalaman ini kemudian dia jadikan bekal untuk membangun workshop sumpit.

Hashi Lab Kyoto menyediakan 12 jenis kayu, di antaranya kayu eboni, sakura, dan purpleheart. Masing-masing memiliki karakter berbeda, dengan tingkat kesulitan yang ditandai melalui sistem bintang. Dengan harga mulai dari ¥3.300 hingga ¥6.980, pengunjung dapat mengikuti proses pembuatan sumpit dari awal hingga selesai dan membawanya pulang di hari yang sama.

Sebagai tambahan, tersedia layanan grafir laser untuk menuliskan nama pada sumpit dengan biaya ¥1000.

Hashi Lab berlokasi di Minamicho 509-2, Shimogyo Ward, area Kyoto Station, dan buka setiap hari pukul 10.00 hingga 18.00. Workshop ini juga memiliki cabang di Nara dan Gion.

Chopsticks Studio Kyoto. (Foto: Chopsticks Studio Kyoto Arashiyama)
2. Chopsticks Studio Kyoto (Arashiyama dan Gion)

Menawarkan pengalaman serupa, workshop ini menawarkan pengalaman membuat sumpit kayu di kawasan Arashiyama, dengan pilihan lebih dari 12 jenis kayu yang berbeda karakter. Harga pengalaman dibanderol mulai dari ¥3.000 hingga ¥6.000, dengan opsi grafir laser seharga ¥1.500.

Prosesnya mencakup pembentukan menggunakan alat serut, penghalusan dengan amplas, hingga finishing dengan minyak alami. Selain itu, staf juga memberikan pengantar mengenai budaya sumpit di Jepang serta tips eksplorasi area Arashiyama.

Workshop ini berlokasi di 2F, 3-25 Saga Tenryuji Susukinobabacho, Ukyo-ku, Kyoto, serta memiliki cabang di kawasan Gion.

Takano Chikko Workshop. (Foto: Takano Chikko)
3. Takano Chikko Bamboo Workshop (Kyoto)

Berbeda dari workshop lainnya, Takano Chikko menawarkan pengalaman membuat sumpit berbahan bambu dengan pendekatan yang lebih mendalam. Berlokasi di Shop & Gallery Chikubuen, Nagaokakyo, workshop ini berlangsung di tengah suasana hutan bambu yang tenang. Ini akan memberikan pengalaman tersendiri saat liburan ke Jepang.

Pengunjung akan menyerut dan menyesuaikan sumpit hingga sesuai dengan kenyamanan tangan, sebelum membawanya pulang sebagai suvenir. Pengalaman membuat sumpit saat liburan ke Jepang ini dibanderol mulai dari ¥36.000 per orang, termasuk sesi pembuatan, penjelasan tentang budaya dan keberlanjutan bambu, serta sajian matcha dan wagashi di akhir sesi. (chs)