DestinAsian Indonesia
Updates

Dua Wajah Melbourne



(Video Melbourne oleh Tourism Victoria)

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto Emily Weaving

[dropcap type=”default”]”B[/dropcap]ahkan jika saya berhenti menyantap smashed avo selamanya,” ujar Rose Johnstone, “saya mungkin baru bisa melunasi cicilan rumah setelah 100 tahun.” Di teras sebuah kafe, Rose, wanita kelahiran Melbourne, mengulas perdebatan hangat seputar smashed avocado on toast (roti bakar yang ditindih telur rebus dan irisan avokad). Akhir 2016, menu sarapan ini dipakai oleh seorang kolumnis surat kabar untuk menjelaskan mengapa anak muda kesulitan membeli rumah. Generasi sekarang, tulis sang kolumnis, terlalu boros membeli “smashed avo” hingga lupa menabung.

Rose, yang menjabat editor majalah Time Out Melbourne, membantah keras tudingan itu. Dia dan teman-teman sebayanya mengklaim biang masalah sebenarnya adalah harga properti yang melonjak terlalu cepat dibandingkan peningkatan upah. Hunian di Melbourne kian mahal, kian tak terjangkau. “Generasi sekarang adalah generasi rental,” ujarnya sembari mengembuskan asap rokok, “dan kami sudah bisa menerimanya.”

DestinAsian Indonesia
Suasana Federation Square, kompleks di jantung kota yang dihuni antara lain atrium, gedung pameran, dan plaza—semuanya dikerek dengan merujuk desain hasil sayembara yang digelar pada 1997.

Melbourne bersemayam di belahan selatan Australia, di tepi selat yang memisahkannya dari Tasmania. Saya datang ke sini di ujung musim gugur, ketika angin dingin mulai berkesiur dan dedaunan kuning berjatuhan bagaikan tinta yang menetes dari ranting. Bagi warga lokal, semua tanda-tanda musim itu tidaklah berlaku. Kota ini dikenal memiliki empat musim dalam sehari, setiap hari, sepanjang tahun. “Meski cuaca pagi cerah,” ujar Rose lagi, “Melbournian terbiasa membawa jaket dan payung saat keluar  rumah, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.”

Melbourne adalah kota yang punya banyak julukan: kota kafe, kota festival, kota budaya, kota seni jalanan. Satu julukan barunya yang membanggakan adalah “kota layak huni.” Selama enam tahun berturut-turut sejak 2011, Ibu Kota Negara Bagian Victoria ini memuncaki Global Liveability Ranking versi lembaga The Economist Intelligence Unit. (Dalam daftar 2017 yang dilansir setelah artikel ini rampung ditulis, Melbourne kembali bertengger di posisi puncak.) Daftar ini disusun berdasarkan pengukuran atas banyak parameter, antara lain stabilitas sosial, mutu pendidikan, serta kualitas perawatan kesehatan.

Bagi saya, semua reputasi harum itu sukar dipahami, tapi justru karena itu menarik dikaji. Lahir dan hidup di Jakarta, menghabiskan masa kecil di Ciledug yang sumpek dan kini menetap di Karet Tengsin yang sesak, saya selalu penasaran untuk mempelajari bagaimana sebuah kota bisa menghadirkan rasa betah bagi penduduknya. Apa rasanya menghuni kota yang paling layak huni?

“Ada banyak yang bisa dinikmati, dipelajari, dan dicoba di sini,” jawab Weili Wong, wanita asal Malaysia yang sudah sembilan tahun bermukim di Melbourne dan bekerja sebagai konsultan pengembangan karier. “Kota ini memberi ruang bagi saya untuk menempa diri, di lingkungan yang kualitasnya lebih baik dalam banyak aspek.”

Kiri-kanan: Mural karya Adnate, seniman asal Melbourne, yang menampilkan wanita Tibet; Weili Wong, wanita asal Malaysia yang sudah menetap di Melbourne selama sembilan tahun.

Diukur menggunakan banyak parameter, kualitas hidup di sini memang prima. Tingkat harapan hidup tinggi. Angka kriminalitas rendah. Bagi banyak orang tua, termasuk di Indonesia, Melbourne juga merupakan destinasi favorit untuk mengirim anak berkuliah. Dua kampus di sini masuk daftar 100 terbaik dunia, sementara tingkat konsumsi bahan bacaannya paling lebih tinggi dari semua kota di Australia—statistik yang menjadikan Melbourne kota literatur versi UNESCO.

Tapi semua itu sesungguhnya ada harganya. Kualitas hidup di sini harus “dibeli” dengan biaya mahal. Secangkir kopi rerata dibanderol AUD4. Tarif parkir per jam setara harga sepiring masakan di restoran. Sementara rumah tipe sederhana di pinggiran kota dilego mulai dari AUD400.000 (sekitar Rp4 miliar), acap kali dengan sistem lelang, hingga memaksa generasi muda semacam Rose dan kawan-kawannya mengubur mimpi untuk memiliki papan dan halaman.

“Pilihannya hanya dua,” kata seorang wanita asal Singapura yang bekerja untuk biro pariwisata lokal tentang mahalnya hidup di Melbourne, “yakni memiliki gaji minimum AUD3.000 atau punya suami yang ringan tangan dan serbabisa. Dia harus bisa merangkap sebagai tukang kebun, tukang servis AC, tukang gorden, juga tukang jahit. Semua profesi ini tarifnya bisa belasan hingga puluhan dolar per jam.”

Layak huni tapi tidak ramah suami. Menyenangkan namun kelewat mahal. Apa sesungguhnya makna kota layak huni? Dan apa yang bisa kita pelajari dari Melbourne? Saya kelayapan selama seminggu di sini untuk mencari jawabannya.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Smashed avocado on toast, menu sarapan populer yang dituding membuat remaja kecanduan hingga lupa menabung ; interior Chin Chin, restoran Thailand tersohor yang didirikan pada 2011 di Flinders Lane.

[dropcap type=”default”]”D[/dropcap]ulu saya mengambil jurusan mekanik di kampus,” ujar Kumar dalam sedan Ford Falcon reyot yang membawa saya menembus jalan-jalan di pusat kota. “Bukan karena saya suka mengutak-atik mesin, tapi karena profesi mekanik dibutuhkan di Australia, jadi lebih gampang untuk pindah kewarganegaraan.”

Kumar, pemuda asal India, sudah satu dekade tinggal di Melbourne. Dalam kurun itu, dia tak pernah sekalipun bekerja di bengkel. Alih-alih, Kumar menghabiskan nyaris seluruh hidupnya di sini sebagai sopir taksi, kemudian beralih menjadi sopir Uber empat bulan silam. “Hidup di Melbourne menyenangkan,” lanjutnya. “Pastinya lebih menyenangkan dibandingkan kampung saya di India.”

Semenjak emas ditemukan di Australia pada abad ke-19, Melbourne ajek memikat pendatang. Awalnya diserbu buruh tambang asal Tiongkok, kota ini kemudian dibanjiri kaum profesional dan pekerja dari banyak negara. Riwayat itulah yang membuat profil demografisnya sangat majemuk. Dari sekitar lima juta jiwa warganya kini, lebih dari sepertiganya lahir di luar Australia. Bahasa yang paling jamak digunakan selain Inggris adalah Yunani. Membuka buku telepon, nama awal Nguyen merupakan yang terbanyak kedua setelah Smith. Suatu hari, saya makan siang di restoran milik Bapak Nguyen yang berlokasi di Jalan Smith.

Selama di Melbourne, saya menginap di sebuah apartemen di Fitzroy, daerah artistik yang dikenal sebagai kantong seniman. Banyak dinding dan gang di sini dilapisi mural. Pemilik apartemen saya, Cass, adalah seorang perancang busana asal Paris. Seperti Kumar, dia datang demi memperbaiki nasib. “Hidup di Melbourne jauh lebih nyaman,” jelas Cass yang mengaku hengkang dari Paris karena tak tahan dengan kepadatannya. “Sekarang saya bisa berangkat kerja naik sepeda, karena jalan-jalan di sini ramah bagi manusia.”

DestinAsian Indonesia
Sungai Yarra yang membelah kota dengan latar gedung-gedung jangkung.

Semua keunggulan Melbourne itu tidak diciptakan dalam semalam, tentu saja. Sebagaimana kota besar lainnya, ia lahir dari jalan panjang yang penuh tikungan dan kubangan. Sejarah mencatat, pada 1970-an, kota ini jauh dari predikat layak huni. Ruang publik minim. Jalan-jalan macet. Mayoritas warganya berdomisili di daerah pinggiran dan singgah di pusat kota semata untuk bekerja. Oleh media-media lokal, Melbourne saat itu bahkan dianalogikan sebagai “donat”: kota yang padat di tepinya namun hampa di jantungnya.

Angin perubahan mulai berembus pada 1990-an. Menyewa Jan Gehl, pakar tata kota asal Denmark, Pemkot melakukan analisis komprehensif atas kondisi kotanya, kebiasaan warganya, segala tantangan dan potensinya. Data itu kemudian dipakai untuk merumuskan sebuah cetak biru perubahan kota yang dieksekusi bertahap mulai awal 2000-an.

Melalui megaproyek itulah Melbourne melahirkan banyak taman dan plaza, trotoar dan jalur sepeda, juga sentra seni dan budaya. Dampaknya mencengangkan. Grafik manusia yang memilih berjalan kaki ke kantor atau kampus meningkat 40 persen. Jumlah aula multifungsi, pub, dan bar melonjak, hingga menjadikan Melbourne kota dengan ruang konser terbanyak sejagat. Di sisi lain, kuantitas kafe meroket, dari dua buah pada 1983 menjadi sekitar ratusan. Operasi bedah wajah Pemkot moncer. Melbourne seperti terlahir kembali: dari kota donat menjadi kota hangout. Dunia mengenang metamorfosis urban itu dengan istilah “Melbourne Miracle.”

Melbourne, megapolitan seluas Banten, dibelah oleh Sungai Yarra. Belahan utara sungai dicitrakan asyik dan seru, sementara sisi selatannya dicap bonafide dan berkelas. Seluruh zona di lingkar dalam kota telah terkoneksi oleh trem, dan berkelana menaikinya adalah rutinitas harian saya selama di sini. Mayoritas trem berwujud modern seperti barisan kotak es, tapi suara roda dan loncengnya masih melantunkan nostalgia. Di jam-jam sibuk, interiornya sesak sekaligus semarak. Orang-orang berbicara dengan bahasa negaranya masing-masing, membuat saya merasa terdampar di ruang sidang PBB.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Shaun Hossack, pendiri Juddy Roller, institusi bergengsi yang menaungi banyak seniman jalanan; trem renta dengan latar gedung tua—pesona lawas yang bertahan dari modernisasi.

Berbeda dari Sydney, Melbourne lebih serius dalam melestarikan karisma lawasnya. Jukstaposisi antara lama dan baru adalah bagian integral dari karakter spasial kota ini. Selain trem, kota terbesar kedua di Australia ini setia merawat gedung-gedung tua berlanggam art deco dan Victorian. Sebagian terselip kikuk di antara kantor-kantor bertubuh kaca, dinaungi pencakar langit, kadang terkurung— secara harfiah—di dalam bangunan modern seperti yang terlihat di Stasiun Central.

Sayang, Melbourne kemudian mulai kewalahan menjaga pendulum keseimbangan antara pembangunan dan preservasi, antara merawat warisan zaman dan memacu roda zaman. Di banyak sudut kota, sejumlah struktur tua telah raib, digantikan oleh perkantoran atau apartemen. Tren itu mulai merisaukan. Melbourne tampak kian vertikal—fenomena yang lumrah di banyak kota, terutama ketika uang-uang panas asal Asia dan Timur Tengah agresif berkeliaran ke penjuru bumi untuk memborong apartemen, tapi bukan pemandangan sedap bagi mereka yang mengenang Melbourne sebagai kota guyub yang muda dan energik. Kota ini mulai menjadi korban dari kemajuannya sendiri.

Jumat pagi, saya mengunjungi Federation Square, episentrum kehidupan di jantung Melbourne. Kompleks tepi sungai ini dilengkapi atrium, gedung pameran, juga plaza. Semuanya dikerek dengan merujuk desain yang dipilih dari sebuah sayembara pada 1997. Saat saya datang, sebuah festival bertema Buddha sedang digelar di plaza Federation Square. Terpisah lima menit berjalan kaki, Galeri Nasional Victoria menanggap ekshibisi lukisan Van Gogh. “Selalu ada saja yang bisa ditonton di Melbourne,” ujar Vito Mursa, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di RMIT University. “Selalu ada acara seru tiap akhir pekan.”

DestinAsian Indonesia
Seorang pria melewati salah satu mural di sudut Fitzroy, sentra seni jalanan di Melbourne.

Melbourne memang tersohor sebagai “kota acara.” Kalender tahunannya selalu dipenuhi beragam ajang meriah. Untuk menonton konser musisi asing, sebut saja Adele atau Coldplay, warganya tidak perlu repot melawat negeri tetangga, karena kota ini senantiasa tercantum dalam daftar lawatan tur global berkat kualitas infrastruktur dan standar keamanannya yang tinggi. Akan tetapi, manisnya hidup itu praktis hanya tersaji di pusat kota. Di kawasan pinggiran, warga masih menghadapi banyak problem yang bersifat mendasar. Satu kritik yang kerap terdengar kini, tatkala pusat kota kian mentereng, kian semampai, dan kian meriah, kawasan suburb seolah luput dari perhatian.

Menaiki kereta, saya meluncur ke suburb Springvale yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota. Sepanjang jalan, mural dan graffiti melapisi banyak dinding, kaki-kaki jembatan, serta bedeng-bedeng reyot. Makin dekat ke tujuan, penumpang makin sedikit dan gedung- gedung makin rendah.

Merujuk data kantor pajak, Springvale adalah suburb termiskin di Melbourne. Awalnya saya khawatir berkunjung ke sini. Dengan paras agak bercorak Timur Tengah, saya cemas bakal dikira staf HRD ISIS yang berniat merekrut pemuda-pemuda depresi. Akan tetapi, begitu mendarat di Springvale, saya mendapati daerah ini sesungguhnya tidak memenuhi kriteria miskin dalam kacamata awam, setidaknya ia bukan kampung kumuh dalam standar Jakarta. Springvale hanyalah permukiman banal di mana kehidupan bergulir pelan dan toko-toko menutup pintunya pada pukul lima sore. Membuka aplikasi Uber, saya tidak menemukan satu mobil pun beroperasi. Jika ingin ngopi, pilihannya hanyalah McCafe atau Gloria Jean’s.

DestinAsian Indonesia
Evelyn Hotel, gedung pentas musik legendaris yang berlokasi di kantong bohemian Brunswick Street.

“Dulu ada banyak pabrik di sini, termasuk pabrik traktor, tapi mereka sudah lama pindah ke daerah lain yang tanahnya lebih murah” ujar Collin, seorang pria lokal, dengan logat Inggris yang diseret-seret khas warga pinggiran. Saya menemui Collin di rumah kayu Springvale Historical Society, di mana sebuah pameran topi internasional sedang digelar. Suguhannya cukup menarik. Ada pet serdadu Sekutu, helm polisi London, kippah Yahudi, hingga kopiah Indonesia. Entah kenapa pengunjungnya hanya dua orang: saya dan Collin. Belakangan saya tahu Collin juga merangkap sebagai kurator, pemandu, dan pemilik seluruh topi yang dipamerkan.

Terlepas dari kondisinya yang “wajar,” Springvale adalah noda merah dalam rapor Melbourne. Media lokal mengkritisinya sebagai bukti kesenjangan antara pembangunan di pusat kota dan suburb. Untuk sistem transportasi umum misalnya, Springvale belum dilayani trem, sementara bus sulit diandalkan karena armadanya minim dan jadwal keberangkatannya kerap molor. Membuka statistik pendapatan warganya, jurang ketimpangan itu terbaca kian gamblang. Pada kurun 2014-2015, pendapatan penduduk Toorak, suburb terkaya di dekat pusat kota, melonjak 82 persen, sementara pendapatan warga Springvale tumbuh hanya 35 persen.

“Terminologi yang licin,” begitu pengamat tata kota Profesor Michael Buxton menyimpulkan istilah “layak huni.” Semakin jauh dari pusat kota, tulisnya tajam dalam buku Planning Melbourne: Lessons for a Sustainable City, status layak huni semakin kehilangan maknanya. Di mata Buxton, kota donat ini terlampau sibuk menimbun banyak gula di jantungnya sampai-sampai lupa mengurus tepiannya yang kian hambar.

DestinAsian Indonesia
Proud Mary, kedai kopi hipster di daerah Collingwood yang memiliki banyak penggemar setia.

[dropcap type=”default”]”M[/dropcap]elbourne adalah ibu kota seni jalanan Australia,” ujar Ashley Goudie dengan tangan menggenggam kaleng cat semprot. Saya menemuinya di Hosier Lane, seutas gang di mana seluruh dindingnya dilapisi mural dan grafiti. “Semua orang boleh menuangkan ekspresinya di sini,” lanjutnya sembari menyelesaikan mural berbentuk badut. “Karya saya ini paling bertahan beberapa minggu saja sebelum kemudian ditindih karya orang lain.”

Dulu, vandalisme merupakan epidemi di Melbourne. Banyak properti, termasuk gerbong-gerbong kereta, dinodai corat-coret para artis jalanan. Saban tahunnya, Pemkot menghabiskan sekitar AUD1 juta guna menghapus grafiti ilegal. Tapi kota ini kemudian menangkap peluang di balik hobi liar tersebut. Ketimbang tekor dan lelah memberantasnya, Pemkot Melbourne merangkul komunitas seniman dan menjadikan seni jalanan aset wisata kota. “Dukungan dari pihak Pemkot dan korporasi kian marak setahun belakangan,” ujar Shaun Hossack, pendiri Juddy Roller, lembaga yang menaungi banyak seniman. “Seni jalanan telah diakui sebagai daya tarik kota.”

Kisah seni jalanan itu memperlihatkan keluwesan Melbourne dalam mengubah masalah jadi berkah. Hosier Lane kini berstatus atraksi wisata resmi, sementara tur bertema seni jalanan ditawarkan oleh banyak operator. Guna mengatasi sisa-sisa vandalisme, Pemkot menyewa lembaga bergengsi semacam Juddy Roller untuk mengutus seniman-seniman yang dihormati (dan ditakuti) guna mengubur dinding-dinding yang penuh coretan dengan mural atraktif berukuran gigantik. “Tak ada yang berani mengusik karya mereka,” tambah Shaun yakin.

Belajar dari kasus seni jalanan, banyak orang kini menanti bagaimana Melbourne menggunakan kecerdikannya guna mengatasi problem-problem urban yang lebih kronis. Dan kota ini sesungguhnya telah mengambil sejumlah inisiatif. Di CBD misalnya, sejumlah terowongan kereta sedang dibor guna mengurai kemacetan. Di beberapa suburb, kompleks rumah murah akan dibangun. Proyek-proyek itu adalah sebuah pertaruhan. Melbourne, kota pendidikan yang dihuni kampus bergengsi, seyogianya sanggup meracik solusi cerdas untuk menjawab tantangan zaman.

Didirikan pada 1983, Australian Centre for Contemporary Art (ACCA) pada 2002 direlokasi ke bangunan baru berdesain atraktif yang dirancang oleh arsitek lokal Wood Marsh.

Sabtu pagi, saya mengarungi pusat kota. Hari ini, saya mencoba sejumlah aktivitas yang kadang sulit saya lakoni di Jakarta. Saya membeli kentang goreng, lalu piknik di padang rumput yang dikerumuni kawanan camar. Saya juga membelah taman kota yang rindang, mengunjungi pameran-pameran gratis, bahkan iseng bolak-balik menyeberang jalan, sebab di sini kendaraan selalu berhenti di muka pejalan kaki tanpa harus diberi hormat ala Nazi sebagaimana di Jakarta. Menjelang senja, saya meniti bantaran sungai. Seorang menteri pendidikan Indonesia pernah berkata kepada saya, “jika ingin mengukur tingkat peradaban sebuah kota, lihat kondisi sungainya.” Saya kira kata-kata itu ada benarnya. Sungai di Melbourne terlihat lebih bersih dibandingkan air keran di apartemen saya.

Tapi Melbourne bukannya tanpa masalah. Reportase saya mendapati kota ini mengidap penyakit klasik sebuah megapolitan: kota dengan dua wajah. Pusat kotanya dilengkapi infrastruktur yang mumpuni tapi standar hidupnya kian tak terjangkau. Sementara daerah pinggiran lebih ramah kocek namun prasarananya minim. Dari dasar lembah ketimpangan itulah serangkaian masalah sosial mengemuka. Setahun terakhir, Melbourne dipusingkan oleh peningkatan jumlah gelandangan, pengemis, dan pemadat.

Bee, seorang imigran asal Malaysia, mengaku resah dengan tunawisma yang kerap tidur di pelataran kantornya. Kesya Adhalia, mahasiswi kelahiran Melbourne, cemas akan keselamatannya saat pulang malam sendirian dan bertemu pemadat. Saya pun berulang kali menemukan pemadat yang meracau di dalam trem. Mengutip hasil poling IPSOS di Negara Bagian Victoria dari Januari hingga Maret silam, 52 persen responden menempatkan kejahatan sebagai isu yang paling mencemaskan.

Mungkin karena itulah banyak orang mulai menerjemahkan istilah layak huni dengan lebih kritis. Media-media lokal tidak mau terpaku pada daftar yang diterbitkan oleh The Economist. Mereka membuka pula, misalnya, daftar Quality of Living versi lembaga Mercer di mana Melbourne ternyata tidaklah bertengger di posisi wahid, melainkan ke-16. Dalam daftar sejenis yang disusun oleh Arcadis, di mana sebuah kota dinilai berdasarkan kemampuan menjaga kepentingan triumvirat “people, profit, planet,” Melbourne justru duduk di peringkat ke-32.

Dalam banyak hal, persepsi atas kualitas sebuah kota memang sangat tergantung dari mana kita berasal. Chloe Cann, penulis asal London, memuji Melbourne sebagai kota ramah di mana orang-orang tak gengsi untuk saling bertegur sapa. Baginya, masalah transportasi umum dan biaya hidup tidaklah krusial. “Itu soal remeh,” katanya. “Dibandingkan London, semuanya di sini jauh lebih baik.”

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan:Salah satu hidangan Thailand di Chin Chin; pramusaji kedai kopi Proud Mary.

Sementara bagi mereka yang berasal dari kota negara berkembang, sebut saja Jakarta, Melbourne adalah rumput tetangga yang senantiasa terlihat lebih hijau—kadang secara harfiah. “Ada banyak taman di sini. Tingkat polusinya juga jauh lebih rendah dibandingkan Jakarta,” jelas Nina Gunawan yang pernah berkuliah di Melbourne. Nina, ibu dua anak, kini menetap di Jakarta. Jika ada kesempatan, dia berniat memboyong keluarganya ke Melbourne. “Dua tahun lalu saya berlibur ke Melbourne dan anak saya senang sekali bisa melihat bintang di tengah kota.”

Hari terakhir di Melbourne, saya menikmati sarapan di sebuah kedai yang dipimpin seorang koki asal Thailand. Saya memesan smashed avocado on toast, masakan yang dituding sebagai biang keladi dari malasnya anak muda mengkredit rumah. Di depan saya, seorang pria India menuntun anjingnya, sementara seorang pengemis berkulit hitam mengais-ngais dedaunan kering. Melbourne mungkin memang pantas disebut layak huni. Kota ini hanya perlu memastikan reputasi itu bisa dinikmati merata oleh banyak orang.

PANDUAN
Rute
Penerbangan ke Melbourne dilayani oleh banyak maskapai, salah satunya Qantas Airways (qantas.com) via Singapura atau Sydney. Untuk penerbangan domestik, maskapai nasional Australia ini juga menawarkan jaringan ekstensi ke banyak kota. Dari bandara menuju pusat kota, Anda bisa menaiki Skybus (skybus.com.au) jurusan Southern Cross Station. Trem adalah moda utama di dalam kota. Untuk menggunakannya, beli kartu Myki (ptv.vic.gov.au) di toko-toko kelontong, lalu unduh aplikasi PTV agar lebih mudah dalam memantau rute dan jadwal trem.

Informasi
Melbourne mengoleksi banyak festival. Beberapa andalannya adalah Food & Wine (melbournefoodandwine.com.au), Comedy (comedyfestival.com.au), dan Fringe (melbournefringe.com.au). Sejumlah ajang besar juga rutin digelar di sini, termasuk  Australian Open (ausopen.com) dan Formula 1 (grandprix.com.au). Ada banyak operator yang menawarkan tur jalan kaki di Melbourne, salah satunya Free Walking Tours (imfree.com.au) yang membebaskan partisipan membayar seikhlasnya. Untuk mencari informasi seputar tempat wisata, kunjungi situs resmi Visit Melbourne (visitmelbourne.com). Penting diingat, Melbourne dijuluki kota dengan empat musim. Meski cuaca pagi cerah, jangan pernah meninggalkan hotel tanpa membawa jaket.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2018 (“Dilema Kota Donat”).