Dua Sisi Bumi Timor Lorosae

Antara luka silam dan mimpi hari depan. Bumi Timor Lorosae masih berada di persimpangan, satu dekade setelah NKRI angkat kaki dan satu tahun setelah PBB mengepak barang-barangnya. Di demarkasi terpenting dalam hidupnya itu, pariwisata dan pertambangan dipilih sebagai dua mesin yang akan membawa negeri ini terbang tinggi.

Beberapa karyawan hotel yang saya temui mengaku, rata-rata hotel di Dili telah melakukan pengurangan jumlah karyawan hingga 15 persen. Sejak PBB meninggalkan Timor-Leste pada Desember silam, hotel dan kelab malam kehilangan pelanggan yang memang kebanyakan staf LSM asing. Tak hanya hotel. Kaum seniman yang menghuni gedung bekas Museum Timor Timur yang diubah nama menjadi Arte Moris, tampak murung dan kurang geliat. Lukisan-lukisan yang dipajang di dinding dan didominasi sapuan kuas ekspresionis perjuangan masa silam, sepi dari penawar yang biasanya merupakan turis asing. Saya masih mengayuh sepeda.

Kiri-kanan: Patung Jesus di Christo Rei, Cape Fatucama; Gereja Portugis tua yang ditemukan penulis di dalam perjalanan dari Dili ke Baucau.

Di sini, di puncak bukit Fatucama, Jesus menatap teduh ke arah samudra luas. Tangannya dibentangkan, bagai hendak merengkuh. Cristo Rei, begitu bukit itu dinamakan. Matahari mulai menyirami Dili dan ratusan anak tangga menuju Jesus. Saya, teman saya En yang berkulit cokelat, beberapa orang asing lainnya yang berkulit terang, dan sekelompok kecil perempuan bermata sipit, berziarah ke sini. Tak banyak warga lokal yang mengunjungi sosok manusia suci ini. Beberapa muda-mudi tampak asyik bergandengan mesra menapaki anak tangga.

Anak-anak bermain di pantai Dili dengan latar Pulau Atauro di kejauhan.

Dari bukit Cristo Rei ini, Dili begitu jelas. Jesus seakan sedang bersabda dari atas bukit. Di bawahnya, ombak utara menghempas batu karang. Jalan membentang menuju Manatuto dan Baucau di timur. Saya tidak ingin turun dari bukit ini. Apa yang saya saksikan di museum kemarin, telah saya lupakan.

Pantai di belakang Cape Fatucama atau lebih dikenal sebagai Jesus Backside Beach.

Sejak lepas dari pangkuan NKRI pada 2002, Timor-Leste bebas menentukan masa depannya sendiri. Pada 31 November 2012, United Nations Integrated Mission in Timor-Leste hengkang kaki dari pulau penghasil kayu cendana yang berpenduduk satu juta jiwa ini. Dengan kepergian PBB, berarti Timor-Leste telah bebas dari masa peralihan keamanan dan dianggap aman untuk pendatang. Taur Matan Ruak, yang pada 2012 dilantik sebagai presiden ketiga Timor-Leste, berjanji akan membawa negaranya terbang dengan sayap yang utuh. Negara dengan persentase angka pengangguran yang mengkhawatirkan ini berkomitmen untuk berkonsentrasi pada pariwisata dan pertambangan. Dua sektor yang kerap bertentangan untuk sebuah negara. Pertambangan minyak adalah eksploitasi tanah, sedang pariwisata berusaha menjaganya. Mungkinkah?

Comments