Bersepeda Menyusuri Tembok Besar Cina

Menaiki sepeda, menyusuri Tembok Besar Cina, menembus gurun dan bukit, mendarat di perbatasan Korea Utara. Sebuah perjalanan 6.500 kilometer yang menuturkan transisi besar sejak era kekaisaran.

Tembok Besar bertolak dari Gansu di bagian barat dan berujung pada Laut Kuning di bagian timur, dari Yumen membentang sepanjang Koridor Hexi, melewati padang pasir yang luas dan dataran tinggi, bukit-bukit yang jangkung dan terjal, hingga berakhir di Dandong, Provinsi Liaoning. Lanskapnya menggambarkan transisi ajek dalam hikayat RRC. Dataran yang luas di bagian belakang tembok merupakan rumah bagi rakyat. Tembok ini sulit ditembus, dikawal oleh keagungan masa silam dan medan yang menyulitkan. Tembok Besar melindungi para kaisar yang memerintah dengan sistem sentralisasi absolut, dari satu dinasti ke dinasti lainnya.

Seorang wanita lokal di Desa Jingtai, Provinsi Gansu, tengah membuat dim sum.

Tanah-tanah yang dilaluinya seperti telah terserap habis nutrisinya selama ribuan tahun. Kemarau yang berkelanjutan. Tanah garapan yang kering. Desa-desa yang hampa tanpa manusia. Gansu, Ningxia, Shaanxi, Shanxi, Hebei, di mana saja kita berhenti, akan terpampang gamblang daerah-daerah yang telah ditinggalkan akibat proses urbanisasi masif di Cina. Dalam perubahan kolosal itu, Tembok Besar tak bergeming, tak berbicara, membisu menyaksikan saya, para sesepuh yang telah mangkat, kota dan desa yang diciptakan dan dilupakan.

Merekam tanah yang luas dan berharga ini, saya juga menyadari manusia hanyalah setetes air di lautan, tapi celakanya, kita kerap merasa mulia dan jumawa. Saya terus mengayuh pedal, menyisir sebuah benteng agung yang berjuang melawan zaman, terus mengayuh hingga bongkahan terakhirnya.

Salah satu benteng bagian Tembok Besar Cina di Shandan, Provinsi Gansu.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2014 (“Ujung Benteng”)

penduduk lokal gulang slogan propaganda 01 wanita lokal desa jingtai salah satu benteng bagian tembok
Tembok Besar Cina di puncak sebuah bukit di Mutianyu, sekitar 70 kilometer sisi timur laut Beijing.
Comments