Cathay Pacific, maskapai yang mengoleksi 238 armada, menerbangkan hanya 27.000 penumpang sepanjang Juni 2020. Di bulan yang sama, Singapore Airlines, yang punya 220 pesawat, mengangkut cuma 13.900 penumpang. Dibandingkan Juni 2019, kedua maskapai kakap Asia itu menderita penurunan penumpang lebih dari 99%.

CX dan SQ berbagi nasib suram dengan banyak koleganya. Akibat pandemi, semua maskapai mengalami paceklik penumpang. Merujuk laporan ICAO (International Civil Aviation Organization), jumlah penumpang global tercatat minus 1,3 miliar pada semester pertama 2020.    

Penumpang 8 Maskapai Semester Pertama 2020

Di tengah bencana itu, maskapai Asia Pasifik merupakan yang paling terpukul. Nilai kerugiannya mencapai $60 miliar, di bawah Eropa yang mencapai $44 miliar. Menurut data AAPA (Association of Asia Pacific Airlines), maskapai di kawasan ini secara kolektif mengangkut 61 juta penumpang internasional pada semester pertama 2020, susut dari 190 juta pada periode serupa di 2019.

Dan ujian belum akan berakhir. Hingga akhir 2020, menurut skenario ICAO, industri aviasi global akan kehilangan hingga dua miliar penumpang, mendekati separuh dari pencapaian tahun lalu. Jika divaluasi, potensi kerugiannya sebesar $386 miliar.

Akibat pandemi, Swiss Air memarkir banyak armadanya di bandara militer Dübendorf, Swiss. (Foto: Claudio Schwarz/Unsplash)

Menyiasati krisis, banyak maskapai kemudian membekukan rute, menunda pembelian armada baru, serta menyewakan atau mengandangkan armada, terutama yang berbadan tambun seperti A380. Beberapa menempuh taktik pragmatis: mengalihfungsikan pesawat menjadi armada kargo.

Tapi jurus-jurus itu tak selalu memadai. Karena itulah banyak maskapai meminta uluran kocek negara. Air France-KLM misalnya, menerima komitmen bantuan €9 miliar dari pemerintah Prancis dan Belanda. Sementara Garuda Indonesia akan disuntik dana talangan Rp8,5 triliun oleh kabinet Jokowi.

Penumpang 8 Maskapai Semester Pertama 2020

Dibandingkan SARS 2003, dampak Covid-19 memang jauh lebih kronis. Berdasarkan skenario ICAO, jumlah penumpang akan tetap minus hingga Maret 2021. Sementara IATA (International Air Transport Association) menduga pemulihan ke kondisi pra-pandemi baru bisa tercapai pada 2024.

Kendati begitu, kedua lembaga itu percaya penjualan tiket akan mulai meningkat di Juni—estimasi yang kemudian terbukti. Membaca laporan semester pertama 2020 dari lusinan maskapai, sinar terang mulai muncul di ujung jalan.

Menyiasati susutnya penumpang, KLM mengalihfungsikan sejumlah pesawat menjadi armada kargo. (Foto: Natascha Libbert/KLM)

Secara umum, April dan Mei tercatat sebagai dua titik terendah. Mayoritas bandara memasang marka verboten dan grafik penumpang pun terjun bebas. JAL misalnya, menerbangkan hanya 16.000 penumpang di April, susut dari 200.000 di Maret. Sementara Lufthansa Group mengangkut 241.000 penumpang di April, drop drastis dari 3,9 juta di bulan sebelumnya.  

Memasuki Juni, kurva penumpang mulai menanjak. Walau belum kembali ke kapasitas normal pra-wabah, penjualan tiket meningkat pelan. Air New Zealand misalnya, menerbangkan 430.00 penumpang di Juni, sepertiga dari okupansinya di Januari. Sedangkan Turkish Airlines membawa sejuta penumpang, hampir seperlima dari kursi Januari.

Suasana lengang Bandara Incheon Seoul di masa pandemi. (Foto: Lei Jiang/Unsplash)

Alasan di balik tren itu ialah tumbuhnya penerbangan domestik. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pintu lalu lintas udara dalam negeri mulai dibuka. Garuda Indonesia misalnya, mulai giat mengangkasa di Mei. Pada semester pertama 2020, maskapai pelat merah ini mengangkut 6,5 juta penumpang (kira-kira 36.000 per hari), dan mayoritas di rute domestik.

Untuk langit internasional, progresnya lebih lamban. Menurut UNWTO (World Tourism Organization), hingga 30 Juli, baru 40% destinasi dunia yang melonggarkan restriksi untuk perjalanan lintas perbatasan. Contoh paling kentara terlihat di Eropa, di mana beberapa negara bertetangga menerapkan skema travel corridor. Cristian Rahadiansyah